Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Syifa Aulia

Rumah yang Nyaris Runtuh karena Diam

Agama | 2026-07-20 17:12:21
Gambar : ilustrasi artikel bersumber dari chathpt.com

Suatu sore di Kabupaten Tasikmalaya, tangisan seorang anak memecah keheningan sebuah rumah sederhana. Anak berusia lima tahun itu berulang kali memanggil ayah dan ibunya yang berada di ruangan berbeda. Sang ayah duduk termenung di teras rumah sambil menatap halaman yang mulai diguyur hujan. Di dalam rumah, sang ibu mengurung diri di kamar sembari menahan air mata. Tidak terdengar suara pertengkaran. Tidak ada bentakan ataupun makian. Yang ada hanyalah keheningan yang perlahan menggerogoti kehangatan sebuah keluarga.

Sebut saja mereka A dan N. Lima tahun sebelumnya, keduanya mengikat janji suci pernikahan dengan penuh harapan. Mereka memulai kehidupan dari kesederhanaan, saling menguatkan dalam setiap keadaan, hingga Allah Swt. menganugerahkan seorang anak yang menjadi pelengkap kebahagiaan mereka. Hari-hari dilalui dengan penuh syukur. Meski hidup tidak bergelimang harta, mereka merasa cukup karena selalu menghadapi segala persoalan bersama.

Namun, keadaan berubah ketika perusahaan tempat A bekerja melakukan pengurangan karyawan. A termasuk salah satu yang harus menerima kenyataan pahit kehilangan pekerjaannya. Sejak saat itu, kondisi ekonomi keluarga mulai terguncang. Berbagai lamaran kerja telah dikirimkan, banyak pintu perusahaan telah didatangi, tetapi belum satu pun memberikan kabar yang diharapkan. Hari demi hari berlalu tanpa kepastian, sementara kebutuhan rumah tangga terus berjalan.

Tagihan listrik mulai menumpuk. Uang tabungan yang selama ini disimpan perlahan habis untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Biaya sekolah anak harus tetap dibayar, kebutuhan dapur tidak bisa ditunda, dan berbagai keperluan lain terus berdatangan. Melihat kondisi tersebut, N berinisiatif berjualan makanan ringan dari rumah agar roda kehidupan keluarga tetap berputar. Ia tidak pernah berniat menggantikan peran suaminya sebagai pencari nafkah. Yang ia inginkan hanyalah membantu meringankan beban keluarga di tengah situasi yang sulit.

Sayangnya, niat baik itu perlahan berubah menjadi sumber kesalahpahaman. Kesibukan mengurus rumah, menjaga anak, sekaligus berdagang membuat N kelelahan, baik secara fisik maupun emosional. Dalam hatinya mulai tumbuh perasaan bahwa seluruh beban keluarga kini berada di pundaknya. Ia berharap suaminya lebih terbuka mengenai apa yang sedang dihadapi dan lebih banyak melibatkan dirinya dalam mencari jalan keluar. Namun harapan itu tidak pernah tersampaikan dengan baik.

Di sisi lain, A justru memendam luka yang tidak diketahui siapa pun. Kehilangan pekerjaan membuatnya merasa gagal menjalankan amanah sebagai kepala keluarga. Setiap kali melihat istrinya harus bekerja lebih keras, rasa bersalah semakin menghimpit hatinya. Namun, alih-alih mengungkapkan perasaan tersebut, ia memilih diam. Baginya, mengakui kegelisahan hanya akan menambah beban istrinya. Ia berpikir bahwa memendam semuanya adalah bentuk tanggung jawab sebagai seorang laki-laki.

Sejak saat itulah komunikasi di antara mereka perlahan memudar. Percakapan yang dahulu dipenuhi canda dan cerita selepas salat Magrib berubah menjadi jawaban-jawaban singkat yang sekadar seperlunya. Mereka masih tinggal di rumah yang sama, makan di meja yang sama, bahkan tidur di kamar yang sama, tetapi hati mereka terasa semakin berjauhan. Masing-masing sibuk memendam luka tanpa pernah benar-benar mengetahui apa yang dirasakan pasangannya. Diam menjadi bahasa baru dalam rumah tangga mereka.Keadaan semakin rumit ketika keluarga besar dari kedua belah pihak mulai ikut memberikan penilaian. Ada yang menyalahkan A karena dianggap tidak mampu mencari nafkah. Ada pula yang menilai N terlalu banyak menuntut suaminya. Berbagai komentar yang awalnya dimaksudkan sebagai nasihat justru memperkeruh keadaan. Alih-alih menjadi penengah, campur tangan yang tidak bijaksana membuat prasangka semakin tumbuh dan komunikasi di antara keduanya semakin tertutup.

Puncaknya terjadi ketika persoalan sederhana mengenai biaya sekolah anak berubah menjadi pertengkaran yang panjang. Emosi yang selama ini dipendam akhirnya meledak. Kata-kata yang menyakitkan terlontar tanpa kendali. Dalam luapan kemarahan, A bahkan hampir mengucapkan talak kepada istrinya. Sesuatu yang seharusnya menjadi jalan terakhir nyaris keluar hanya karena emosi sesaat.

Beruntung, seorang tokoh agama yang dihormati keluarga segera mengajak A dan N duduk bersama untuk bermusyawarah. Dalam suasana yang lebih tenang, keduanya mulai berani mengungkapkan isi hati yang selama ini dipendam. A akhirnya menceritakan rasa malu, takut, dan kecewa yang selama ini ia sembunyikan. Sementara itu, N mengungkapkan bahwa yang ia butuhkan bukanlah suami yang selalu memiliki jawaban atas setiap masalah, melainkan suami yang mau berbagi beban dan membuka ruang untuk berdialog.

Pada saat itulah mereka menyadari bahwa persoalan yang hampir menghancurkan rumah tangga mereka bukan semata-mata karena kesulitan ekonomi. Kesulitan ekonomi hanyalah ujian yang datang silih berganti dalam kehidupan. Yang membuat keadaan menjadi semakin berat adalah komunikasi yang terputus, prasangka yang terus tumbuh, dan ego yang sama-sama dipertahankan. Mereka terlalu sibuk menunggu dipahami, tetapi lupa berusaha memahami pasangan masing-masing.

Kisah A dan N bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Di tengah kehidupan yang semakin kompleks, tidak sedikit rumah tangga mengalami persoalan serupa. Banyak pasangan sebenarnya tidak kekurangan cinta, tetapi kehilangan ruang untuk saling mendengar. Kesibukan, tekanan ekonomi, tuntutan pekerjaan, hingga gengsi sering kali membuat suami maupun istri memilih memendam perasaan daripada mengungkapkannya dengan cara yang baik. Padahal, tidak sedikit rumah tangga yang runtuh bukan karena masalah yang besar, melainkan karena persoalan-persoalan kecil yang dibiarkan menumpuk tanpa komunikasi.

Ketika Diam Menjadi Awal KeretakanIslam memandang pernikahan sebagai mitsaqan ghalizha, yaitu perjanjian yang kokoh antara suami dan istri di hadapan Allah Swt. Ikatan tersebut bukan sekadar menyatukan dua insan, tetapi juga menyatukan harapan, tanggung jawab, dan komitmen untuk saling menguatkan dalam setiap keadaan. Oleh karena itu, setiap ujian yang datang semestinya dihadapi bersama, bukan dipikul sendiri-sendiri. Ketika komunikasi berhenti, prasangka akan mengambil alih. Ketika musyawarah ditinggalkan, ego perlahan menjadi pemenang. Di situlah sebuah keluarga mulai kehilangan arah menuju keluarga sakinah yang selama ini dicita-citakan.

Meneguhkan Komunikasi dan Musyawarah Menuju Keluarga SakinahDalam pandangan Islam, setiap persoalan rumah tangga dapat diselesaikan apabila suami dan istri menjadikan komunikasi sebagai sarana untuk saling memahami, bukan saling menyalahkan. Namun, tidak sedikit pasangan yang memilih memendam perasaan daripada membicarakannya dengan baik. Akibatnya, persoalan kecil berkembang menjadi konflik yang semakin sulit diselesaikan.

Al-Qur'an mengajarkan agar setiap persoalan keluarga diselesaikan melalui musyawarah. Allah Swt. berfirman:"...Kemudian apabila keduanya ingin menyapih (anak) dengan persetujuan dan permusyawaratan antara keduanya, maka tidak ada dosa atas keduanya..." (QS. Al-Baqarah: 233).Meskipun ayat tersebut berbicara tentang penyapihan anak, para ulama menjelaskan bahwa ayat ini menegaskan pentingnya musyawarah dalam kehidupan keluarga. Setiap keputusan hendaknya dibangun di atas komunikasi yang jujur, saling menghargai, dan kesediaan mendengarkan pasangan.

Prinsip tersebut juga sejalan dengan pandangan Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah yang memandang keluarga sebagai fondasi masyarakat Islam yang berkemajuan. Pernikahan merupakan mitsaqan ghalizha yang harus dijaga melalui pemenuhan hak dan kewajiban secara seimbang, penyelesaian masalah dengan musyawarah, serta menjadikan Al-Qur'an dan sunah sebagai pedoman dalam mewujudkan keluarga sakinah, mawaddah, dan rahmah.

Dalam kisah A dan N, musyawarah bersama tokoh agama menjadi titik balik hubungan mereka. Keduanya menyadari bahwa yang hampir meruntuhkan rumah tangga bukanlah persoalan ekonomi, melainkan komunikasi yang terputus. Setelah saling mengungkapkan isi hati dan mendengarkan satu sama lain, hubungan yang semula renggang perlahan kembali membaik.

Kisah tersebut mengajarkan bahwa komunikasi bukan sekadar berbicara, tetapi juga kesediaan untuk mendengar dengan empati. Ketika komunikasi dibangun di atas kasih sayang dan saling menghormati, konflik tidak lagi menjadi ancaman, melainkan kesempatan untuk saling memahami dan bertumbuh bersama.Ada beberapa ikhtiar sederhana yang dapat dilakukan untuk menjaga keharmonisan keluarga. Pertama, membiasakan dialog yang terbuka tanpa saling menghakimi. Kedua, mengedepankan musyawarah dalam setiap persoalan. Ketiga, menahan amarah dan menghindari mengambil keputusan saat emosi memuncak. Keempat, apabila konflik tidak kunjung terselesaikan, meminta nasihat kepada orang yang amanah dan memiliki pemahaman agama yang baik.

Rumah tangga yang harmonis bukanlah rumah tangga yang bebas dari konflik, melainkan keluarga yang mampu mengelola perbedaan dengan kedewasaan. Perbedaan pendapat adalah hal yang wajar, tetapi jangan sampai berubah menjadi permusuhan karena hilangnya komunikasi.PenutupPada akhirnya, rumah tangga tidak runtuh karena banyaknya masalah, tetapi karena pasangan berhenti saling mendengar dan membiarkan ego menguasai hati. Padahal, Allah Swt. telah mengajarkan musyawarah sebagai jalan penyelesaian, sementara Rasulullah saw. memberikan teladan tentang kelembutan dalam memperlakukan keluarga.

Sudah saatnya setiap pasangan menjadikan komunikasi sebagai budaya dalam kehidupan rumah tangga, bukan sekadar dilakukan ketika konflik muncul. Ketika suami dan istri saling membuka hati, mengedepankan musyawarah, serta menjadikan ajaran Islam sebagai pedoman, setiap persoalan akan lebih mudah dihadapi.

Semoga setiap keluarga muslim mampu menjaga ikatan sucinya dengan saling menguatkan, saling memahami, dan saling mengingatkan dalam kebaikan. Sebab, keluarga sakinah tidak lahir dari pasangan yang sempurna, melainkan dari dua insan yang terus belajar memperbaiki diri, mengalahkan ego, dan berjalan bersama menuju ridha Allah Swt.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image