Bukan Akhir, Kematian Hadir sebagai Pintu Gerbang Kehidupan
Kolom | 2026-08-31 20:59:42
Ada beberapa pandangan tentang bagaimana memaknai kematian. Ada yang memandangnya sebagai batas waktu dalam menjalani hidup atau pandangan bahwa kematian adalah bebasnya manusia dari penderitaan. Seperti dalam aliran eksistensialis, kematian dianggap akhir sehingga manusia bebas menentukan sendiri apa tujuan hidupnya melalui pandangan pribadi.
Atau kita juga sering mendengar istilah memento mori, memento vivere salah satu pandangan filsafat tentang "remember you must die, so remember to live." Pernyataan ini sering disandingkan dengan istilah carpe diem yang menekankan untuk menikmati hari ini alih-alih bersedih pada masa lalu atau khawatir pada masa depan. Kutipan yang sering digunakan dalam budaya populer, memberi himbauan untuk memperlakukan hari ini sebagai satu-satunya kesempatan yang pasti untuk bertindak, mencintai dan berkarya.
Memang eksistensialisme menyatakan bahwa manusia lahir terlebih dahulu tanpa tujuan tertentu. Kemudian manusia menciptakan makna sendiri melalui tindakan dan pilihannya sebebas-bebasnya tanpa validasi apapun. Memandang bahwa kehidupan di dunia adalah satu-satunya tempat untuk diperjuangkan.
Lalu bagaimana dengan pandangan Islam?
Islam punya pandangan yang khas dalam memaknai kehidupan dan kematian. Jika filsuf eksistensialis punya pandangan eksistensi mendahului esensi maka dalam pandangan Islam kita paham bahwa manusia telah diberi esensi sebelum eksistensi. Bahkan sebelum kita turun ke bumi, Allah subhanahu wa ta'ala sudah menetapkan tujuan kepada manusia untuk beribadah kepadaNya dan menjadi wakil Allah di bumi.
Kita percaya bahwa Allah subhanahu wa ta'ala adalah Sang Pencipta yang sudah menetapkan makna hidup yang manusia bertugas untuk menemukannya. Kita tentu tidak akan repot-repot membuat tujuan-tujuan melenceng yang tidak sesuai dengan aturan di dalam Islam, jika makna itu sudah Allah tetapkan.
Dengan pandangan bahwa semua amal yang kita lakukan akan dipertanggungjawabkan dan diberi balasan, kita tidak akan terjebak pada pemikiran pesimis seperti "untuk apa kita hidup jika pada akhirnya akan mati dan meninggalkan apa yang kita perjuangkan?"
Sebab di dalam pandangan alam Islam, tujuan kehidupan bukan hanya untuk memupuk di dunia. Dunia hanya dianggap sebagai tempat berteduh saat kita dalam perjalanan menuju tempat sesungguhnya. Pandangan ini akan membimbing kita untuk memperjuangkan akhirat, sehingga berbagai hal yang kita lakukan di dunia semata-mata kita niatkan untuk menjadi bekal sebelum kematian datang nanti.
"Mahasuci Allah yang menguasai (segala) kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya." (QS. Al Mulk : 1-2)
Kematian adalah sunnatullah, ketetapanNya yang pasti berlaku bagi seluruh makhluk ciptaan Allah. Kematian adalah pintu gerbang menuju kehidupan kita yang sesungguhnya.
Banyak mengingat mati akan membuat kita optimis dalam beramal karena mengintegrasikan seluruh kehidupan kita di dunia untuk menjadi bekal di akhirat. Semua aktivitas yang kita lakukan adalah ibadah.
Kita tidak usah berharap akan adanya kehidupan reinkarnasi atau sekadar menciptakan makna sendiri di dunia yang fana ini. Tidak perlu puas pada kehidupan di dunia dengan ukuran kebebasan dan nilai materi, sebab kematian bukan hadir untuk mengakhiri kehidupan. Tetapi bagaimana caranya kita berjuang, beramal sebaik mungkin, memaksimalkan waktu dan potensi untuk mencapai ridha Allah subhanahu wa ta'ala selama di dunia sebagai bekal kehidupan kekal di akhirat nanti.
Kita memang perlu untuk hidup hari ini. Melakukan amal-amal saat ini walau tanpa perhitungan balasan apa pun. Sebab setelah berakhir nanti, hanya akan ada perhitungan apa yang sudah kita perjuangkan tanpa ada kesempatan untuk bisa beramal kembali. Mudah-mudahan kita mendapatkan tempat dan akhir yang baik dalam kehidupan ini.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
