Sebenarnya Kita Menghamba Kepada Siapa?
Kolom | 2026-09-01 21:03:44
Sebuah renungan dari refleksi hasil menonton taddabur surah Al-Fatihah tentang 'menjadi hamba'. Kita sering dihadapkan pada tekanan, membelenggu kita dengan standar yang tidak masuk akal. Harus sukses di usia sekian, atau harus berpenampilan trendi biar tak ketinggalan zaman. Sebenarnya tidak masalah jika hal itu sesuatu yang berjalan mengalir tanpa paksaan. Namun, jika semua-mua yang menjadi trend itu seolah-olah wajib kita ikuti, sampai melunturkan identitas kita sebagai Muslim. Sebenarnya, kita sedang menghamba kepada apa?
Apakah kita terjebak pada proyek penghambaan yang akal-akalan seperti uang, trend, fashion, budaya dan standar masyarakat yang kadangkala tidak masuk akal itu?
"Iyyaaka na'budu wa Iyyaaka nasta'een"
Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan. (Lihat QS. Al Fatihah 1:5)
Ayat diatas adalah bentuk penegasan tentang penghambaan menyeluruh hanya kepada Allah ta;ala. Sebagai Rabb kita, Ia yang memiliki diri kita seutuhnya. Menegaskan bahwa kita manusia adalah hamba-Nya.
Hamba adalah mereka yang menjadikan semua aktivitasnya karena instruksi Master mereka. Mereka menjalankan suatu aktivitas karena kehedak Masternya bukan karena kehendak dirinya sendiri.
Kemudian apa yang paling sulit saat menjadi hamba?
Yang paling sulit adalah bagaimana kita bisa menahan diri pada sesuatu yang diarang padahal hawa nafsu kita sangat menginginkannya. Maka tak heran, menahan hawa nafsu adalah bukti penghambaan kita kepada Allah. Alih-alih menuhankan nafsu atau keinginan di dalam hati, kita berusaha untuk mendahulukan keinginan dan perintah dari Master kita. Perintah dari Allah sebagai pemilik kita.
Pengorbanan akan menghasilkan kepuasan yang hanya bisa dirasakan oleh diri sendiri yang berusaha untuk tetap berada pada perintah dan larangan dari-Nya. Manisnya hidup yang penuh dengan rasa tenang dan aman, hanya bisa dirasakan jika kita benar-benar menjalani kehidupan sesuai kemauan-Nya. Mungkin hikmah dan balasannya bahkan tak ada yang bisa dirasakan hari ini. Namun percayalah, setiap pengorbanan yang kita lakukan demi menjadi hamba-Nya, tidak akan pernah sia-sia sebab Allah adalah sebaik-baik pemberi balasan.
Mudah-mudahan Allah kuatkan kita, sebab kita tidak akan mampu tanpa pertolongannya. Mudah-mudahan juga Allah selalu menerima setiap niat dan ikhtiar kita yang berusaha dalam menempuh jalan menjadi sebaik-baik hambaNya.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
