Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Muhammad Akmansyah

Empati Kemanusiaan yang Meredup

Agama | 2026-08-31 11:56:11
Muhammad Akmansyah, Dosen Pascasarjana UIN Raden Intan Lampung

Ada satu jenis kelelahan yang tidak selalu terasa di tubuh.

Kita tetap bekerja, tetap makan, tetap bercakap dengan keluarga, tetap membuka ponsel dan menggulir layar. Namun, perlahan ada sesuatu yang berubah di dalam diri.

Berita tentang perang tidak lagi membuat kita terdiam. Foto anak-anak yang kehilangan rumah tidak lagi membuat dada sesak. Kabar tentang pengungsi, kelaparan, pembantaian, serta bencana hanya lewat beberapa detik di layar sebelum kita berpindah ke berita berikutnya.

Bukan karena kita berubah menjadi manusia yang jahat. Mungkin kita hanya terlalu sering melihat penderitaan, sampai sesuatu di dalam diri ikut menumpul.

Dalam literatur psikologi, kondisi semacam ini sering dibahas dalam kerangka compassion fatigue, yaitu kelelahan emosional yang dapat muncul ketika seseorang terus-menerus terpapar penderitaan orang lain. Kondisi ini dapat memicu kesedihan, kecemasan, rasa tidak berdaya, bahkan kebas emosional.

Masalahnya muncul ketika kelelahan itu tidak berhenti pada perasaan. Pada sebagian orang, jika tidak dikelola dengan baik, kelelahan tersebut dapat berkontribusi pada penarikan diri, berkurangnya keterlibatan emosional, atau sikap apatis.

Ketika Penderitaan Menjadi Biasa

Dunia digital membuat penderitaan manusia hadir tanpa jeda. Setiap hari kita melihat perang, korban sipil, anak-anak kelaparan, keluarga yang kehilangan tempat tinggal, dan manusia yang mencari keselamatan. Reaksi kita biasanya mengikuti pola yang sama: terkejut, lalu marah, lalu sedih.

Namun, ketika gambar dan berita yang sama datang berulang-ulang, pikiran dan emosi manusia dapat membangun mekanisme perlindungan diri. Perhatian kita berkurang. Kita menggulir layar lebih cepat dan melewati berita begitu saja. Pada titik tertentu, kita hanya berkata, “Sudah terlalu banyak.”

Tragedi yang semestinya mengguncang hati pun berubah menjadi sekadar informasi.

Di sinilah compassion fatigue perlu dibedakan dari sikap tidak peduli. Kelelahan empati bukanlah sinonim dari apatisme. Ia merupakan respons yang dapat muncul ketika seseorang terus-menerus terpapar penderitaan dan mengalami beban emosional. Namun, jika tidak dikelola, kondisi tersebut pada sebagian orang dapat berkontribusi pada berkurangnya keterlibatan dan kepedulian.

Yang berbahaya bukan sekadar ketika manusia berhenti menangis, melainkan ketika manusia berhenti merasa bahwa penderitaan orang lain adalah sesuatu yang layak dipedulikan.

Krisis kemanusiaan yang berlangsung terlalu lama dapat, dalam kondisi tertentu, mendorong normalisasi penderitaan. Pertanyaan “Mengapa ini terjadi?” pelan-pelan digantikan oleh “Berita apa lagi hari ini?”

Penderitaan berubah menjadi statistik. Korban menjadi angka. Manusia menjadi sekadar konten yang lewat di linimasa.

Hati, tanpa kita sadari, belajar untuk terbiasa.

Islam Tidak Membiarkan Hati Menjadi Kebal

Dalam Islam, rahmah bukan sekadar emosi. Ia merupakan kualitas moral yang mendorong manusia untuk peduli dan berbuat.

Al-Qur'an menggambarkan Rasulullah SAW sebagai:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

“Dan Kami tidak mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS al-Anbiyā’ [21]: 107).

Rahmat menjadi bagian penting dari misi kenabian. Karena itu, keberagamaan tidak hanya berkaitan dengan hubungan vertikal manusia dengan Allah, tetapi juga tercermin dalam cara manusia memperlakukan sesamanya.

Rasulullah SAW menggambarkan hubungan orang-orang beriman dengan sebuah tubuh:

مثلُ المؤمنين في تَوادِّهم ، وتَرَاحُمِهِم ، وتعاطُفِهِمْ . مثلُ الجسَدِ إذا اشتكَى منْهُ عضوٌ تدَاعَى لَهُ سائِرُ الجسَدِ بالسَّهَرِ والْحُمَّى

“Perumpamaan orang-orang beriman dalam saling mencintai, menyayangi, dan berempati adalah seperti satu tubuh. Ketika salah satu anggota tubuh sakit, seluruh tubuh ikut merasakan dampaknya, berupa sulit tidur dan demam.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Ketika satu bagian tubuh sakit, bagian lain tidak bisa berpura-pura tidak terjadi apa-apa.

Pesan hadis ini terasa relevan ketika penderitaan manusia hadir begitu jauh dari tempat kita. Jarak geografis tidak semestinya menghapus tanggung jawab moral. Kita mungkin tidak mampu menghentikan perang atau menyelamatkan semua korban. Namun, ketidakmampuan menyelesaikan seluruh persoalan tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti peduli.

Islam tidak menuntut manusia melakukan sesuatu di luar kemampuannya. Islam juga mengajarkan agar kemampuan yang ada tidak digunakan untuk membenarkan ketidakpedulian.

Melawan Apatisme sebagai Jihad an-Nafs

Di sinilah konsep jihad an-nafs menemukan relevansinya.

Dalam tulisan ini, jihad an-nafs digunakan dalam pengertian perjuangan batin untuk mengendalikan kecenderungan diri menuju kemalasan, keputusasaan, dan ketidakpedulian. Ia bukan berarti memaksa diri untuk terus-menerus larut dalam kesedihan. Ia juga bukan tuntutan untuk mengonsumsi semua berita buruk tanpa batas.

Justru sebaliknya. Manusia perlu mengendalikan dirinya agar tidak dikuasai oleh rasa lelah, putus asa, egoisme, dan keengganan untuk peduli.

Dalam situasi yang terasa terlalu berat, manusia cenderung memilih jalan yang paling mudah secara emosional. Ketika persoalan terasa terlalu besar, kita berkata, “Saya tidak bisa melakukan apa-apa.”

Kalimat itu sering kali benar secara faktual. Namun, ia bisa menjadi berbahaya secara moral jika dibiarkan menjadi alasan untuk diam sepenuhnya.

Kita mungkin memang tidak mampu melakukan semuanya. Tetapi hampir selalu ada sesuatu yang masih bisa dilakukan.

Jihad an-nafs dalam konteks ini adalah perjuangan batin untuk mempertahankan kehidupan hati, agar ia tidak kehilangan kepekaan hanya karena penderitaan terlalu sering kita saksikan.

Ada perbedaan antara lelah karena peduli dan berhenti peduli karena lelah.

Yang pertama adalah kondisi manusiawi. Yang kedua membutuhkan kewaspadaan spiritual.

Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ لَا يَرْحَمْ لَا يُرْحَمْ

“Siapa yang tidak menyayangi, tidak akan disayangi.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Hadis ini mengingatkan bahwa rahmah harus dipelihara sebagai bagian dari kualitas manusia beriman. Hati pun membutuhkan latihan. Ia bisa menjadi peka karena dibiasakan untuk peduli, tetapi bisa juga mengeras ketika terlalu lama membiarkan penderitaan berlalu tanpa respons.

Empati Harus Menjadi Tindakan

Namun, ada satu hal yang perlu dikoreksi: empati tidak boleh berhenti pada kesedihan.

Menangis melihat penderitaan itu manusiawi. Marah terhadap ketidakadilan itu wajar. Tetapi setelah itu, pertanyaannya adalah: apa yang kita lakukan?

Al-Qur'an memberikan gambaran kuat tentang kebajikan dalam QS al-Balad [90]: 12-17. Kebajikan tidak berhenti pada keyakinan, tetapi diterjemahkan dalam tindakan, seperti membebaskan manusia dari kesulitan dan memberi makan orang yang kelaparan.

Dalam konteks penghormatan terhadap kehidupan, Al-Qur'an juga menyatakan:

... وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا...

“...Barang siapa memelihara kehidupan seorang manusia, seakan-akan dia telah memelihara kehidupan seluruh manusia...” (QS al-Mā’idah [5]: 32).

Pesannya jelas: rahmah membutuhkan bentuk.

Bagi sebagian orang, bentuk itu bisa berupa donasi. Bagi yang lain, menjadi relawan. Akademisi bisa menyebarkan pengetahuan yang benar dan melawan disinformasi. Pendidik bisa menanamkan nilai kemanusiaan kepada peserta didiknya. Masyarakat luas bisa menjaga agar percakapan publik tidak berubah menjadi kebencian terhadap kelompok tertentu.

Tidak semua orang harus melakukan hal yang sama. Namun, setiap orang dapat melakukan sesuatu sesuai kemampuan dan ruang tanggung jawabnya masing-masing.

Karena itu, melawan spiritual fatigue bukan berarti memaksa diri untuk terus-menerus merasa sedih. Melawan spiritual fatigue berarti mengubah rasa lelah menjadi kesadaran, kesadaran menjadi kepedulian, dan kepedulian menjadi tindakan yang nyata.

Kita juga perlu memberi jeda kepada diri sendiri. Tidak semua berita harus kita konsumsi sepanjang hari. Menjaga kesehatan mental bukan berarti meninggalkan kemanusiaan. Istirahat justru bisa menjadi cara mempertahankan kemampuan kita untuk tetap peduli dalam jangka panjang.

Yang perlu dijaga bukan intensitas kesedihan, melainkan arah hati.

Jangan Biarkan Hati Terbiasa

Mungkin kita tidak dapat menyelamatkan dunia. Tetapi kita bisa memastikan bahwa dunia tidak berhasil membuat hati kita kehilangan rasa.

Kita boleh lelah melihat berita. Kita boleh berhenti sejenak dari layar. Kita boleh menangis. Kita boleh merasa tidak berdaya.

Namun setelah itu, jangan biarkan kelelahan menjadi alasan untuk menganggap penderitaan manusia sebagai sesuatu yang biasa.

Sebab ketika hati mulai berkata, “Itu bukan urusan saya,” yang hilang bukan hanya kepedulian kepada orang lain, tetapi juga sebagian dari kemanusiaan kita sendiri.

Krisis kemanusiaan bisa berlangsung berbulan-bulan atau bertahun-tahun. Berita akan terus berganti, dan algoritma akan terus membawa kita kepada tragedi yang baru. Tetapi rahmah tidak boleh mengikuti siklus perhatian media.

Kepedulian bukan tren. Ia adalah pilihan moral.

Dalam perspektif spiritual Islam, mempertahankan pilihan itu ketika hati mulai lelah adalah salah satu bentuk perjuangan terhadap diri sendiri.

Maka, ketika nyala empati mulai meredup, jangan buru-buru menyalahkan hati.

Rawatlah ia.

Istirahatkan ia.

Dekatkan ia kembali kepada Allah.

Lalu nyalakan kembali.

Sebab dunia tidak hanya membutuhkan manusia yang mampu melihat penderitaan.

Dunia membutuhkan manusia yang masih mampu merasa, masih mau peduli, dan masih bersedia berbuat.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image