Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Rahmi Cahya Ardhianti

Kopi di Tangan, Burnout di Pikiran: Self Awareness Not Found

Humaniora | 2026-09-20 19:38:09

“Apa yang terjadi? Apa yang sedang kamu rasakan? Apa yang membuatmu bertahan? Apa yang kamu butuhkan? Apakah kamu memiliki sistem sumber?”

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini rasanya sudah menjadi makanan sehari-hari bagi pekerja sosial. Kita terbiasa bertanya dan berupaya memahami orang lain dengan mengggali masalah, menemukan kekuatan, mengobservasi hingga menyusun rencana intervensi. Kita belajar memahami manusia dari berbagai sisi. Namun, ditengah kemampuan memahami orang lain, ada satu pertanyaan yang kadang lupa kita tanyakan pada diri sendiri, “sudahkan saya memahami diri sendiri?”

Padahal dalam pekerjaan sosial, pekerja sosial bukan hanya orang yang membawa teori dan metode. Diri pekerja sosial adalah “tools” dalam proses pertolongan. Cara kita mendengar, mengelola emosi, mengambil keputusan, membangun relasi dan memaknai cerita PM akan mempengaruhi proses pertolongan yang diberikan. Oleh karenanya, sebelum membantu orang lain melakukan perubahan perilaku dan meningkatkan keberfungsian sosialnya, rasanya kita juga perlu belajar memahami diri sendiri.

Hal ini menjadi semakin penting ketika melihat kondisi dan beban kerja pekerja sosial tidaklah sederhana. Sebagai contoh, data Pekerja Sosial Dinas Sosial Provinsi Jawa Tengah berjumlah 163 pekerja sosial yang memberikan layanan rehabilitasi sosial pada 4.620 penerima manfaat di UPT Dinas Sosial Provinsi Jawa Tengah. Perbandingan tersebut menunjukkan angka yang tidak ideal. Kondisi ini menunjukkan besarnya tanggung jawab yang harus dijalankan pekerja sosial dalam memberikan layanan. Tuntutan pekerjaan yang terus berjalan dapat memicu kelelahan, frustasi, kewalahan, hilangnya motivasi hingga kelelahan emosional. Karena itu, kemampuan profesional saja tidak selalu cukup. Pekerja sosial juga perlu memiliki kemampuan memahami dirinya: mengenali kapan mulai lelah, kapan harus berhenti, kapan membutuhkan bantuan, dan kapan harus mengatakan “tidak”.

Karena . Pekerja sosial juga manusia.

Peksos bisa merasa capek, frustasi, dan overwhelmed bila mendengarkan cerita yang sama berkali-kali. Terkadang kita merasa sudah tahu ceritanya sebelum penerima manfaat selesai berbicara. Jika terus berlangsung, kita bisa menjadi kurang peka dan menggeneraliasi cerita yang kita dengar.. Padahal, manusia itu unik. Dua orang bisa datang dengan masalah yang terlihat sama, tetapi pengalaman hidup, keluarga, lingkungan, kekuatan, dan cara mereka menghadapi masalah bisa sangat berbeda. Maka, ketika mulai merasa “saya sudah tahu ceritanya”, mungkin saat itulah kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: “Apa yang sedang terjadi pada diri saya ketika mendengarkan cerita ini?”

Di sinilah self-awareness menjadi penting. Pekerja sosial perlu memahami siapa dirinya ketika bekerja. Apa yang ia yakini? Apa yang membuatnya mudah tersentuh? Apa yang membuatnya marah? Situasi seperti apa yang menjadi trigger-nya? Apa saja pengalaman masa lalu yang mungkin masih memengaruhi cara melihat suatu masalah? Hal-hal seperti ini perlu dikenali pekerja sosial agar kita tidak membawa semua pengalaman hidup, nilai, keyakinan, emosi, bahkan luka pribadi ke dalam proses pertolongan. Semakin kitab isa mengenali diri, semakin kita mahir dalam membedakan mana perasaan pribadi dan mana kebutuhan penerima manfaat.

Dan ketika sudah mengenali diri, kita juga perlu tahu batasan.

Pekerja sosial tidak harus merasa bertanggung jawab atas seluruh kehidupan penerima manfaat. Kita juga tidak harus memaksakan diri menyelesaikan semua masalah seorang diri. Peksos perlu memahami posisinya. Ada saatnya harus hadir, ada saat hanya mendampingi, ada saatnya harus merujuk pada pihak lain dan saat harus mengambil jarak secara professional. Memahami batasan bukan berarti tidak peduli. Justru dengan membuat batasan membantu kita tetap peduli tanpa kehilangan diri sendiri.

Lalu, saat mulai burnout, apa yang biasanya kita lakukan? Ngopi, healing atau tidur seharian?

Kopi? Boleh

Healing juga boleh.

Tidur pun boleh.

Setelah seharian mendengarkan cerita orang, duduk sebentar sambil minum kopi dan makan makanan kesukaan memang terasa menyenangkan. Tetapi jangan sampai kita mengira bahwa secangkir kopi sudah menyelesaikan masalah kita. Kopi mungkin bisa membuat kita merasa lebih baik sesaat, tetapi tidak otomatis menjawab kenapa kita terus-menerus merasa lelah. Begitu juga dengan healing ataupun tidur. Semu aitu bisa menjadi bagian dari self-care. Self-care bukan hanya tentang memberi hadiah kepada diri sendiri, tetapi juga berani melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi pada diri kita.

Apakah saya terlalu banyak mengambil pekerjaan? Apakah saya sulit mengatakan tidak? Apakah saya membawa masalah penerima manfaat sampai ke rumah? Apakah saya merasa bersalah ketika tidak mampu menyelesaikan masalah orang lain? Apakah saya sedang lelah tetapi tetap memaksa diri terlihat baik-baik saja? Dan apakah saya memiliki waktu untuk diri saya sendiri?

Di situlah pentingnya self-love. Self love bukan berarti selalu membuat diri merasa nyaman. Kadang, self-love justru berarti berani menghadapi sesuatu yang selama ini kita hindari. Healing bukan berarti terus mencari tempat untuk melarikan diri setiap kali merasa tidak nyaman. Ada waktunya kita perlu sit in with uncomfortable feelings—duduk menghadai perasaan yang membuat tidak nyaman, memahami kenapa perasaan itu muncul, lalu mencari jalan keluarnya.

Spiritualitas dapat menjadi inner foundation bagi peksos ketika berhadapan dengan situasi yang kompleks dan melelahkan. Namun, memahami spiritualitas bukan berarti peksos boleh memaksakan keyakinannya kepada penerima manfaat. Peksos perlu memahami spiritualitas dalam konsep “help and heal”. Help berarti memberikan pertolongan melalui kompetensi profesional. Sedangkan heal berarti menemani seseorang menemukan kembali harapan, makna, penerimaan, dan kekuatan dirinya.

Lalu, Bagaimana Cara Peksos Memahami Dirinya?

Memahami diri tidak harus selalu dimulai dari sesuatu yang rumit. Peksos bisa mulai dari 3 (tiga) pertanyaan sederhana: siapa saya, apa yang saya punya, dan bagaimana saya bekerja? Kenali nilai yang kita pegang, hal yang menjadi kekuatan dan kelemahan, apa yang menjadi trigger, serta situasi seperti apa yang membuat kita merasa nyaman.

Setelah mengenali diri, kenali juga batas diri. Tidak semua masalah harus kita selesaikan sendiri. Berani mengatakan “saya butuh bantuan”, “saya belum tahu”, atau “saya perlu mengatakan tidak” bukan berarti kita tidak profesional. Justru dari sinilah professional boundaries terbentuk.

Kemudian, refleksikan cara kita bekerja. Setelah melakukan konseling atau menangani kasus, coba tanyakan: Apa yang tadi terjadi? Apa yang saya rasakan? Apa yang sudah saya lakukan dengan baik? Apa yang perlu saya perbaiki? Catatan kecil atau journaling bisa membantu kita melihat pola diri yang kadang tidak kita sadari.

Peksos perlu memahami bahwa tidak semua bisa dikontrol. Kita tidak bisa memaksakan penerima manfaat berubah sesuai waktu yang kita inginkan. Tidak semua intervensi berhasil. Tidak semua masalah selesai hanya karena peksos sudah melakukan yang terbaik. Perubahan bukan satu-satunya indikator keberhasilan. Membangun relasi, menumbuhkan kesadaran, memperkuat kapasitas dan membuka akses sistem sumber juga merupakan bagian dari keberhasilan pekerja sosial.

Terakhir, jangan bekerja sendirian. Supervisi dan peer supervision membantu kita untuk melihat kasus dari sudut pandang lain sekaligus menjadi ruang evaluasi cara kerja kita. Ketika mulai merasa lelah, kehilangan empati, mudah terbawa emosi, atau pekerjaan terasa terlalu berat, jangan tunggu sampai benar-benar habis. Berhenti sebentar, cek diri, dan cari dukungan.

Sederhananya, kenali diri, kenali batas, refleksikan cara kerja, dan jangan takut meminta bantuan.

Pada akhirnya, self mastery bukan tentang menjadi orang yang mampu mengendalikan semuanya. Self-mastery adalah kemampuan mengenali dan mengelola diri sendiri: tahu siapa kita, memahami kekuatan dan keterbatasan, mengenali hal yang membuat lelah mengetahui batas dan tahu kapan harus meminta bantuan. Proses ini tidak pernah selesai. Setiap penerima manfaat membawa cerita yang berbeda. Karena itu, peksos harus belajar, terus merefleksi dan melakukan trial and error dalam menggunakan dirinya sebagai bagian dari proses pertolongan.

Kesehatan mental peksos bukan sekedar urusan pribadi. Kondisi internal peksos dapat mempengaruhi cara peksos mendengar, merespon, mengambil keputusan dan membangun relasi dengan penerima manfaat. Kualitas pekerja sosial tidak hanya lahir dari seberapa banyak teori yang dikuasai, tetapi juga dari seberapa sadar seorang peksos menggunakan dirinya dalam proses pertolongan. Maka sebelum sibuk menjadi ahli dalam memahami orang lain. Mungkin sudah waktunya kita menjadi ahli dalam memahami diri sendiri.

Know yourself, mastering then help and heal others.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image