Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Rahmi Cahya

Menua dengan Martabat: Tantangan Transformasi Layanan bagi Lansia di Jawa Tengah

Pendidikan dan Literasi | 2026-08-20 18:03:35

Kesempatan untuk kembali menempuh pendidikan melalui Program Magister Ilmu Kesejahteraan Sosial di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran menjadi ruang refleksi bagi saya sebagai seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) yang bekerja dalam bidang kesejahteraan sosial.

Awal perkuliahan saya kembali dipertemukan dengan salah satu mata kuliah yang pernah dipelajari sebelumnya di Politeknik Kesejahteraan Sosial Bandung, yaitu Human Behavior and Social Environment (HBSE). Pembelajaran HBSE pada jenjang magister memberikan pemahaman mendalam bahwa manusia tidak dapat dipahami secara parsial hanya berdasarkan masalah yang nampak, tetapi dilihat sebagai individu yang dipengaruhi oleh pengalaman hidup, kondisi psikologis, lingkungan sosial, serta sistem sumber di sekitarnya.

Salah satu isu yang perlu dikaji melalui perspektif ini adalah meningkatnya kebutuhan lanjut usia (lansia) terlantar terhadap layanan rehabilitasi sosial dan perawatan paliatif.

Jawa Tengah Menua: Tantangan Baru dalam Pelayanan Lansia

Berdasarkan data Statistik Penduduk Lanjut Usia Tahun 2025, proporsi lansia di Indonesia mengalami peningkatan dari 7,6% pada tahun 2010 menjadi 11,9% pada tahun 2025, menunjukkan bahwa Indonesia telah memasuki fase aging population. Jawa Tengah menjadi salah satu provinsi dengan penduduk lansia tertinggi, dengan proporsi lansia mencapai 14,43%. Peningkatan jumlah lansia merupakan keberhasilan pembangunan melalui peningkatan usia harapan hidup, sekaligus menghadirkan tantangan baru dalam penyediaan layanan sosial dan kesehatan yang komprehensif.

Pelayanan lansia tidak lagi cukup melalui pemenuhan kebutuhan dasar, tetapi perlu memastikan lansia tetap memperoleh dukungan psikososial, perawatan jangka panjang, serta layanan yang mampu menjaga kualitas hidup dan martabat mereka.

Rehabilitasi Sosial Lansia dalam Perspektif Kebijakan

Dinas Sosial Provinsi Jawa Tengah memiliki kewenangan dalam memberikan layanan rehabilitasi sosial bagi lanjut usia terlantar dalam panti. Pada tahun 2026, Dinas Sosial Provinsi Jawa Tengah memiliki 16 (enam belas) Unit Pelaksana Teknis (UPT) lansia sesuai amanat Standar Pelayanan Minimal (SPM) Bidang Sosial. Karakteristik lansia dalam panti berkembang semakin beragam dan kompleks, ditandai dengan:

1.Penurunan fungsi fisiologis: kemunduran fisik maupun kognitif, yang menyebabkan lansia membutuhkan bantuan dalam aktivitas sehari-hari.

2.Multimorbiditas kronis: riwayat penyakit degeneratif yang kompleks atau memerlukan perawatan jangka panjang (PJP).

3.Kebutuhan dukungan psikososial : akibat resiko isolasi, kesepian dan depresi sehingga membuturhkan perhatian emosional dan spiritual.

Berdasarkan pendataan yang dilakukan oleh Dinas Sosial Provinsi Jawa Tengah terdapat 410 (empat ratus sepuluh) PM lansia mengalami sakit berat/menular dan tidak mampu rawat diri dan 132 (seratus tiga puluh dua) PM diantaranya mengalami kondisi paliatif seperti gagal ginjal, stroke, lansia disertai demensia hingga penyakit jantung.

Data tersebut menunjukkan bahwa tantangan pelayanan lansia tidak lagi hanya berkaitan dengan masalah ketelantaran, tetapi juga kondisi kesehatan kronis, keterbatasan aktivitas sehari-hari, dan tingkat ketergantungan yang tinggi. Pekerja sosial memiliki peran strategis sebagai garda utama dalam mendukung keberfungsian sosial lansia. Pekerja sosial perlu menggunakan HBSE untuk memahami lansia secara utuh, bukan hanya berdasarkan keterbatasan yang dialami, tetapi juga melalui pengalaman hidup, kondisi psikososial, serta lingkungan sosial yang memengaruhinya.

Memahami Lansia Terlantar melalui Perspektif HBSE

Terdapat tiga perspektif dalam memahami lansia terlantar melalui perspektif psikoanalisis, behavioristik, dan humanistik, yaitu:

1.Psikoanalisis: Memahami Pengalaman Kehilangan, Kedukaan dan Dinamika Kehidupan Lansia

Perspektif psikoanalisis memandang bahwa perilaku manusia dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu, konflik batin dan pengalaman yang tersimpan di alambawah sadar. Perspektif ini membantu pekerja sosial dalam memahami pengalaman kehilangan yang dialami lansia, seperti kehilangan pasangan, keluarga, peran sosial, dan kemandirian. Intervensi tidak hanya berfokus pada kondisi fisik, tetapi juga dukungan psikososial agar lansia mampu menerima perubahan dan menjalani kehidupan bermakna.

2.Behavioristik: Lingkungan sebagai Faktor Pembentuk Keberfungsian Lansia

Perspektif behavioristik melihat bahwa perilaku manusia terbentuk melalui proses belajar dan pengaruh lingkungan. Konteks dalam pelayanan rehabilitasi sosial dalam panti, lingkungan memiliki peran besar dalam mempertahankan atau meningkatkan keberfungsian sosial lansia.

Lansia yang diberikan kesempatan untuk beraktivitas sesuai kemampuan, mengambil keputusan sederhana dan berinteraksi dengan lingkungan sosial dapat membantu mempertahankan kemandirian mereka dan meningkatkan kualitas hidup serta mengurangi ketergantungan lansia terhadap petugas panti. Persepktif ini menekankan bahwa lingkungan berperan dalam mempertahankan keberfungsian lansia. Pelayanan perlu mendorong aktivitas, pilihan, dan kemandirian agar lansia tidak semakin bergantung.

3. Humanistik: Mengembalikan Martabat Lansia sebagai Manusia

Perspektif humanistik memberikan penguatan bahwa setiap manusia memiliki kesempatan guna mengembangkan potensi, minat, kemampuan dan martabat, termasuk seseorang yang telah memasuki usia lanjut. Pekerja sosial perlu mengingat bahwa lansia tetap memiliki potensi, pilihan, dan martabat. Pendekatan humanistik mengubah cara pandang dari menampung lansia menjadi merawat lansia dengan bermartabat.

Tantangan Layanan Paliatif bagi Lansia Terlantar

Perubahan karakteristik dan kompleksitas kebutuhan lansia menunjukkan bahwa layanan rehabilitasi sosial perlu dikembangkan secara adaptif dan komprehensif. Lansia potensial memerlukan dukungan untuk mempertahankan kemandirian dan fungsi sosial. Lansia dengan penyakit kronis, demensia, dan ketergantungan tinggi membutuhkan layanan paliatif yang tidak hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan dasar, tetapi juga menjaga kenyamanan, kualitas hidup, dukungan psikososial, dan martabat lansia.

Tantangan utama dalam pengembangan layanan paliatif bagi lansia terlantar di Jawa Tengah adalah memperkuat integrasi antara layanan sosial dan kesehatan agar lebih terpadu dan berkelanjutan. Pendekatan paliatif membutuhkan kolaborasi multidisiplin antara pekerja sosial, tenaga kesehatan, keluarga, caregiver, dan sistem pendukung lainnya. Dalam layanan paliatif, pekerja sosial berperan sebagai broker yang menghubungkan lansia dengan sumber pelayanan serta sebagai case manager yang mengoordinasikan intervensi agar kebutuhan lansia terpenuhi secara berkelanjutan.

Mendorong Transformasi Layanan bagi Lansia di Jawa tengah:

Tantangan terbesar ke depan bukan hanya meningkatkan kapasitas pelayanan, tetapi juga membangun ekosistem layanan yang terintegrasi, melalui:

1.Asesmen komprehensif sejak awal penerimaan lansia. Hasil asesmen dapat menjadi dasar rencana intervensi.

2.Integrasi layanan sosial dan kesehatan melalui koordinasi multidisiplin.

3.Penguatan case management dalam pekerjaan sosial.

4.Peningkatan kapasitas caregiver dan SDM tenaga layanan, terutama dalam menghadapi lansia dengan penyakit kronis dan ketergantungan tinggi.

5.Pengembangan layanan berbasis keluarga dan komunitas, sehingga panti bukan menjadi satu-satunya pilihan dalam perawatan lansia.

Penutup

Meningkatnya jumlah lansia di Jawa Tengah merupakan keberhasilan pembangunan sekaligus tantangan baru bagi penyelenggaraan kesejahteraan sosial. Perubahan kondisi dan kebutuhan lansia menunjukkan bahwa pelayanan tidak cukup berfokus pada pemenuhan kebutuhan dasar, tetapi perlu berkembang menuju layanan yang lebih komprehensif dan berkelanjutan.

Melalui perspektif HBSE, pekerja sosial memahami bahwa lansia terlantar bukan sekadar persoalan usia atau kesehatan, tetapi merupakan hasil perjalanan hidup yang dipengaruhi oleh kondisi psikologis, lingkungan sosial, dan dukungan yang tersedia. Karena itu, pelayanan lansia perlu menempatkan manusia dan martabatnya sebagai pusat intervensi.

Pada akhirnya, menjadi tua bukanlah sebuah persoalan sosial. Tantangannya adalah memastikan setiap lansia, termasuk yang mengalami ketergantungan dan membutuhkan layanan paliatif, tetap dapat dihargai, dirawat, dan menjalani kehidupan yang bermakna hingga akhir hayat.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image