Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image HALO MUSAFIR

Kognitvisme Islam: Konstruksi Akal dalam Alquran

Gaya Hidup | 2026-09-09 23:33:28
Ilustrasi

Pernahkah kita heran melihat seseorang yang begitu mudah tersulut hoaks di media sosial? Atau mungkin, Kita pernah takjub melihat seorang profesional yang luar biasa genius di bidang bisnis, tetapi hidupnya terasa hampa secara eksistensial.

Di era banjir informasi seperti sekarang, cara manusia memproses data (merespon lingkungan) memang makin unik sekaligus ironis.

Dalam psikologi modern, fenomena "isi kepala" manusia ini dipelajari dalam ranah kognitivisme—studi tentang bagaimana otak menerima stimulus, mengolahnya di dalam memori, lalu mengubahnya menjadi perilaku.

Namun, jauh sebelum psikologi modern memetakan fungsi mekanis otak, Al-Qur'an sudah mengulas arsitektur kognitif manusia secara lebih holistik.

Kitab suci tidak menilai kapasitas kepala kita sekadar dari angka IQ, melainkan dari dampak moral dan spiritualnya. Berdasarkan teks (nash) Al-Qur'an, tipe kognitif manusia secara garis besar terbagi menjadi tiga: Jahil (si distorsif), Ghafil (si lalai), dan ‘Aqil (si sadar).Menariknya, ketiga tipologi ini sangat akurat dalam memotret lanskap mental manusia modern di era digital. Mari kita bedah satu per satu.

Pertama, Tipologi Jahil

Banyak orang salah kaprah dengan mengartikan Jahil sebagai kebodohan akibat tidak sekolah atau buta huruf. Dalam kamus Al-Qur'an, Jahil atau Jahl adalah distorsi kognitif. Seseorang disebut jahil bukan karena otaknya kosong, melainkan karena isi kepalanya dipenuhi informasi yang keliru, lalu ia menolak kebenaran objektif demi membela ego dan nafsunya (hawa).

Di dunia modern, tipe Jahil ini sangat subur di dalam ruang gema (echo chamber) media sosial. Kita mengenalnya sebagai bias konfirmasi—kecenderungan untuk hanya memercayai informasi yang sesuai dengan opininya sendiri. Al-Qur'an memotret watak ini sebagai Hamiyyah al-Jahiliyyah (fanatisme buta) dalam Surah Al-Fath [48:26].

Saat seseorang berada di fase ini, rasionalitasnya mati. Data ilmiah dan fakta objektif dikalahkan oleh Zhann (prasangka) demi validasi kelompok.Level paling berbahaya dari tipe ini adalah Jahl Murakkab (kebebalan kuadrat), yaitu kondisi ketika seseorang tidak tahu, tetapi merasa paling tahu.

Surah Al-Baqarah [2:11-12] menyentil kelompok ini dengan tajam. Ketika mereka diingatkan untuk tidak membuat kerusakan, kognisi mereka yang terdistorsi justru menjawab, "Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang melakukan perbaikan.

Kedua, Tipologi Ghafil

Jika tipe Jahil bermasalah pada muatan pikirannya yang rusak, maka Ghafil (Ghafliyyah) bermasalah pada sistem atensi dan fokus. Seorang Ghafil tidak bodoh. Mereka bisa jadi adalah manajer sukses, ilmuwan hebat, atau konten kreator dengan jutaan pengikut.

Namun, mereka mengalami penyempitan sudut pandang kognitif (tunnel vision).Surah Ar-Rum [30:7] merangkum potret kecerdasan yang dangkal ini:"Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai (Ghafilun)."Secara neurosains, indera mereka berfungsi normal, tetapi kognisi mereka gagal melakukan abstraksi maknawi.

Di era digital, kelalaian ini diamplifikasi oleh algoritma yang terus-menerus menyuapi kita dengan kepuasan instan (instant gratification). Kita menjadi begitu terikat pada metrik duniawi—angka penjualan, jumlah likes, status sosial—hingga lupa pada esensi keberadaan kita di bumi.

Surah Al-A'raf [7:179] menggambarkan kelumpuhan fungsi persepsi ini dengan metafora yang kuat: memiliki hati tetapi tidak memahami, memiliki mata tetapi tidak melihat, memiliki telinga tetapi tidak mendengar.

Manusia hidup dalam mode autopilot, hanyut dalam guliran layar (scrolling) tanpa akhir. Mereka terjebak dalam present bias—terlalu sibuk dengan urusan hari ini hingga abai terhadap konsekuensi jangka panjang setelah kematian.

Ketiga, Tipologi 'Aqil

Puncak tertinggi dari kesehatan kognitif dalam Islam adalah menjadi seorang ‘Aqil (orang yang memfungsikan akalnya). Uniknya, Al-Qur'an tidak pernah menggunakan kata Aql sebagai kata benda statis.

Al-Qur'an selalu menggunakan kata kerja aktif (verb) seperti ta’qilun (kalian berpikir) atau ya’qilun (mereka berpikir). Ini adalah pesan kognitif yang kuat: akal bukanlah pajangan pasif di dalam tengkorak, melainkan sebuah aktivitas berpikir yang dinamis, kritis, dan bertujuan.

Secara etimologis, kata 'aqala berarti "mengikat". Seorang ‘Aqil mampu menggunakan logikanya untuk mengikat emosi agar tidak liar seperti si Jahil, sekaligus mengikat fokus atensinya agar tidak terdistraksi seperti si Ghafil.Al-Qur'an menyebut pemilik kognisi superior ini dengan istilah Ulul Albab (orang yang memiliki sari pati akal).

Pola kognitif mereka digambarkan dalam Surah Ali 'Imran [3:190-191], yaitu mereka yang mengintegrasikan fungsi Zikir (kesadaran spiritual) dan Pikir (analisis rasional terhadap fenomena alam).

Di tengah badai misinformasi, seorang 'Aqil juga memiliki kemampuan berpikir kritis (critical thinking) yang kokoh.

Surah Az-Zumar [39:18] menyatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang mendengarkan berbagai pendapat, lalu menyaring dan mengikuti apa yang paling baik di antaranya.

Cermin Akal Kita;

Al-Qur'an menyodorkan peta kognitif ini bukan untuk kepuasan teoretis, melainkan sebagai cermin untuk membaca diri kita sendiri:

  • Apakah kita masih menyerupai Jahil—yang mudah marah di kolom komentar hanya karena membaca judul berita yang memicu prasangka?
  • Atau, apakah kita sedang terjebak sebagai Ghafil—sukses secara karier dan finansial, tetapi fungsi kognitif kita mendadak lumpuh saat diajak merenungkan makna hidup karena terlalu sibuk dengan riuh dengan manifestasi dunia?

Bagi seorang muslim khususnya, menjadi seorang ‘Aqil adalah sebuah perjuangan kognitif yang konstan. Di dunia yang menuntut kita serba cepat dan reaktif, mengaktifkan fungsi 'Aql berarti berani mengambil jeda, menyaring informasi dan menarik garis hubungan antara apa yang kita lihat dengan kebenaran transendental yang abadi.

*Taufik sentana. Peminat studi sosial dan literasi kognitif.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image