Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Abdul hadi tamba

Surah Al-Baqarah Ayat 21-25

Agama | 2026-09-10 04:57:04

Abdul Hadi Tamba

Tadabbur Alqur'an.

Surah Al-Baqarah ayat 21-25.

Pandangan kami (tafsir isyari) terhadap Surah Al-Baqarah ayat 21-25 memandang rangkaian ayat ini bukan sekedar perintah hukum lahiriah atau ancaman dan janji fisik, melainkan sebagai sebuah petunjuk tahapan perjalanan spiritual (suluk) seorang hamba menuju Makrifatullah (mengenal Allah).

Pandangan kami Ayat per Ayat (QS. Al-Baqarah: 21-25).

Ayat 21 (Perintah Ibadah & Asal-usul Penciptaan) Pandangan Isyari:

Seruan "Wahai manusia sembahlah Tuhanmu..." dalam tasawuf dimaknai sebagai kewajiban bersyukur melalui ubudiyah murni.

Ulama sufi seperti Imam al-Baidhawi menyebutkan bahwa takwa adalah puncak derajat para pesuluk.

Ibadah di sini bukan sekedar gerakan fisik, melainkan penyerahan total (tahu-diri sebagai ciptaan) demi mencapai fana (leburnya keakuan diri) di hadapan Sang Pencipta.

Pandangan Isyari:

Bumi sebagai hamparan dan langit sebagai atap dipandang sebagai ayat-ayat kauniyah (tanda-tanda alam).

Bagi kaum sufi, alam semesta adalah cermin yang memantulkan Asma dan Sifat Allah.

Hujan yang menurunkan rezeki disimbolkan sebagai kucuran ilmu ladunni atau limpahan rahmat spiritual (faidh ilahi) yang menghidupkan hati yang mati.

Larangan membuat tandingan (andad) dimaknai sebagai larangan syirik khafi (syirik tersembunyi), yaitu masih bergantungnya hati pada makhluk/sebab lahiriah, bukan kepada Allah semata.

Ayat 23-24 (Kemukjizatan Al-Qur'an dan Api Penyucian) Pandangan Isyari:

Keraguan terhadap wahyu dipandang sebagai penyakit hati (syak).

Tantangan membuat surga atau surat tandingan membuktikan kelemahan akal manusia jika tidak dibimbing cahaya ilahi.

Sementara, api neraka yang berbahan bakar manusia dan batu ditafsirkan oleh kaum arifin sebagai api syahwat dan keduniawian ego (batu disimbolkan sebagai hati yang keras) yang membakar batin manusia di dunia sebelum bermanifestasi di akhirat.

Ayat 25 (Kebun Hakikat dan Pasangan yang Suci) Pandangan Isyari:

Sungai-sungai yang mengalir di surga dipandang sebagai lambang dari ilmu makrifat dan ketenangan batin (sakinah).

Buah-buahan yang "serupa tetapi berbeda rasa" melambangkan bahwa pengalaman spiritual (ahwal dan maqamat) para pesuluk bisa memiliki nama yang sama dengan urusan dunia, namun memiliki kelezatan batin yang berkali-kali lipat.

Pasangan yang suci (azwajun mutahharah) melambangkan jiwa yang telah dibersihkan (tazkiyatun nafs) dari segala akhlak tercela.

Sumber Dalil Al-Qur'an dengan Esensi yang Sama.

Dalam disiplin tasawuf, untuk memperkuat makna makrifat dan penyucian batin pada ayat di atas, para ulama kerap merujuk pada dalil Al-Qur'an berikut:

Tentang Ibadah untuk Makrifat (Sejalan ayat 21):

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.

(QS. Adz-Dzariyat: 56).

Ibnu Abbas RA menafsirkan liya'budun (untuk menyembah-Ku) di sini sebagai liya'rifun (untuk mengenal-Ku / Makrifat).

Tentang Larangan Syirik Hati/Khafi (Sejalan ayat 22):

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya..."

(QS. Al-Jasiyah: 23).

Kami menjadikannya dalil bahwa menuruti ego/nafsu adalah bentuk dualitas batin (andad).

Tentang Pembersihan Hati (Sejalan ayat 25):

Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri (jiwa itu).

(QS. Asy-Syams: 9).

Hadis PendukungHadis tentang Dosa Terbesar (Melawan Ego dan Syirik Khafi):

Rasulullah SAW pernah ditanya tentang dosa apa yang paling besar, beliau menjawab:

Engkau menjadikan tandingan bagi Allah, padahal Dia yang telah menciptakanmu.

(HR. Bukhari & Muslim).

Kami memperluas hadis ini bahwa menuruti ego batin adalah bagian dari menyekutukan kehendak Allah.

Hadis tentang Kenikmatan Batin/Surga Hakiki:

Mengenai rezeki dan kelezatan surga yang tidak terbayangkan pada ayat 25, didukung oleh Hadis Qudsi:

Aku sediakan bagi hamba-hamba-Ku yang saleh sesuatu yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, dan tidak pernah terlintas dalam hati manusia.

(HR. Bukhari).

Bagi kami, ini adalah gambaran tajalli (penampakan keagungan Allah) di dalam hati.

Keterangan dan Fatwa Ulama Muktabar.

Dalam tradisi Ahlussunnah wal Jama'ah, penggunaan tafsir isyari/tasawuf diperbolehkan selama tidak menafikan hukum eksoterik (syariat lahir).

Berikut pandangan tokoh sufi muktabar:

Imam Al-Baidhawi (Wafat 685 H) dalam Anwarut Tanzil:Beliau menegaskan bahwa seorang hamba tidak boleh terpedaya dengan amal ibadahnya. Ibadah pada ayat 21 adalah sarana pembuktian keesaan Allah lewat kontemplasi terhadap ciptaan-Nya.

Amal saleh tidak otomatis menuntut upah (pahala) secara mutlak, melainkan murni bentuk ketundukan batin makhluk kepada Khaliq-nya.

Imam Al-Qusyairi (Penulis Risalah Qusyairiyah) dalam Lathaif al-Isyarat:

Terkait ayat 22, beliau menerangkan bahwa Allah membentangkan bumi kemanusiaan dengan sifat-sifat kelemahan agar manusia senantiasa menengadah ke "langit" spritual ketuhanan demi mengharapkan curahan air rahmat iman yang menumbuhkan buah kedekatan (qurb) kepada Allah.

Fatwa/Konsensus Umum Ulama Tafsir Sufi (seperti Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali):

Ulama muktabar sepakat bahwa keselamatan yang dimaksud dalam ancaman neraka (ayat 24) dan janji surga (ayat 25) bermula dari Tazkiyatun Nafs (penyucian jiwa).

Siapa yang hatinya keras seperti batu di dunia, maka ia berada dalam potensi "bahan bakar neraka" maknawi, yakni jauh dari rahmat Allah.

Pada Surat Al-Baqarah ayat 21, Allah mengingatkan bahwa takwa adalah punck derajat para pesuluk atau para pejalan spiritual, yaitu terbebas hati dari segala yang lain selain Allah.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image