Desau Katarsis Kota dalam Prosa Jawa Timur
Sastra | 2026-07-17 16:45:21
Sastra merupakan cerminan realitas. Sejak abad ke tiga sampai lima sebelum masehi, sastra menjadi bukti rekam jejak kehidupan manusia. Tepatnya pada epos yang ditulis oleh Valmiki, yakni Ramayana. Epos yang terdiri dari tujuh kitab yang disebut Saptakanda ini menceritakan bagaimana Prabu Rama menyelamatkan Dewi Sinta yang diculik raja raksasa Rahwana. Narasi mengenai tempat, bagaimana tokoh saling berinteraksi, secara tidak langsung mencerminkan bagaimana kondisi sosial masyarakat kala itu. Karena dengan mengetahui hal tersebut akan puzzle yang selama ini hilang dari sejarah ditemukan. Dengan membaca ulang sejarah melalui sastra, pembaca akan menyadari bahwa masih ada sesuatu di balik tabir yang dapat ditelisik melalui ingatan, trauma, dan napas kehidupan masyarakat yang tertuang dalam karya sastra.
Jika menelusuri karya-karya prosa modern dari barisan sastrawan Jawa Timur, pembaca akan menemukan bahwa bentang alam dari ujung barat hingga pesisir utara provinsi ini sesungguhnya adalah sebuah panggung teater. Suatu pementasan yang merekam benturan mental, sosial, dan ekologis sosial masyarakatnya. Menggunakan teori resepsi Hans Robert Jauss, pembaca diposisikan sebagai subjek aktif yang menghidupkan kembali narasi sejarah lokal yang kerap terpinggirkan. Dari posisi ini, pembaca diajak melintasi batas waktu untuk merasakan langsung desau angin dan menyentuh luka-luka sosial yang selama ini disembunyikan di balik megahnya pembangunan Jawa Timur. Upaya membaca ulang ini menjadi jembatan penting yang menghubungkan keringnya dokumen sejarah resmi dengan basahnya air mata pengalaman emosional manusia.
Luka yang ditorehkan bukan merupakan suatu hal yang baru. Pembaca yang jeli akan menyadari bahwa ketegangan antara manusia, ruang hidup, dan kekuasaan adalah siklus lama yang terus berulang dalam rupa yang berbeda. Penggusuran lahan dan eksploitasi alam demi industri yang terjadi hari ini merupakan gema dari perluasan perkebunan tebu era kolonial di masa lalu yang merenggut ruang hidup masyarakat. Begitupun dengan trauma politik pasca 1965 serta keterasingan manusia urban. Keduanya adalah hantu sejarah yang terus membayangi dan menuntut manusia untuk terus berlari tanpa sempat mengenali dirinya sendiri.
Sasti Gotama melalui novelnya yang berjudul Korpus Uterus menarik pembaca lebih jauh ke belakang, tepat pada tahun 1965 ketika kota Surabaya dicekam sebuah ketakutan. Pembaca diajak menyaksikan penderitaan Kalimah, seorang istri seniman Lekra yang disiksa, digunduli, dan diperkosa oleh aparat dengan dalih mencari tato palu arit. Kisah ini layaknya pukulan telak di hulu hati pembaca saat ini. Sasti Gotama dengan berani menyuarakan jeritan ribuan perempuan korban tragedi kemanusiaan yang sejarahnya sengaja dihapus dan ditimbun rapat-rapat oleh kurikulum sekolah. Hadirnya karya ini sebagai teriakan “menolak lupa” atas kejadian kelam tersebut.
Meninggalkan Surabaya, pembaca diajak bergerak naik ke dataran tinggi Malang. Di sini, mendiang Ratna Indraswari Ibrahim menyambut pembaca dengan dua potret Malang yang kontras. Karya Ratna Indraswari Ibrahim membawa pembaca ke potret Kampung Pecinan era 1950-an melalui novel Pecinan Kota Malang. Pembaca seolah mencium aroma toples dagangan dan mendengar riuh dialek campuran antara bahasa Jawa dengan dialek Malangan yang melebur dengan idiom Tionghoa peranakan. Di tingkat akar rumput ini, toleransi dan asimilasi budaya terasa begitu intim, meski badai politik nasional di luar sana sedang bergejolak.
Namun, sisi lain Malang terungkap melalui novel Lemah Tanjung. Lemah Tanjung dengan jelas merekam sengketa ruang hijau seluas 28 hektar yang dikorbankan demi keserakahan proyek tukar guling pengembang. Misteri kepunahan kunang-kunang yang dicari oleh tokoh Gita menjadi sebuah indikator yang menunjukkan rusaknya ekosistem akibat hal tersebut. Meskipun aliansi masyarakat sipil seperti Komunitas Bu In berjuang hingga ke Jakarta, Lemah Tanjung ditutup dengan Gita menyerah dan bermigrasi ke Australia. Secara tidak langsung Lemah Tanjung berbisik kepada pembaca bahwa upaya yang dilakukan sebuah kolektif yang nir kekuatan akan tetap termarginalkan.
Membaca kembali narasi sejarah dan potret kota dalam prosa Jawa Timur pada akhirnya adalah perjalanan bagi pembaca untuk “pulang.” Jika ditarik benang merah, narasi di atas akan tiba pada satu kesimpulan, yakni seluruh benturan sosial, psikologis, dan ekologis ini bersumber dari pola pembangunan modern yang terlalu berorientasi pada kapitalisme dengan mengorbankan etik kemanusiaan. Ruang kota dan desa diperlakukan tak ubahnya komoditas dagang yang bisa diperjualbelikan hanya demi profit kolektif tertentu. Akibatnya, masyarakat kecil dipaksa bertahan hidup dalam jerat kemiskinan yang seolah tidak memiliki jalan keluar.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
