Halal Lagi Naik Daun, Tapi Jangan-Jangan yang Dijual Cuma Rasa Aman?
Ekonomi Syariah | 2026-05-22 00:38:04
Di era industri modern hari ini, masalah terbesar pasar sebenarnya bukan lagi soal kualitas produk. Bukan lagi sekadar rasa, desain kemasan, atau seberapa keren branding sebuah perusahaan di media sosial. Masalah utamanya jauh lebih dalam: publik mulai kehilangan kepercayaan.Konsumen hidup di tengah dunia yang terlalu penuh gimmick. Semua brand berlomba tampil paling sehat, paling natural, paling premium, paling ramah lingkungan, dan paling “peduli konsumen”.
Tapi semakin sempurna sebuah iklan terlihat, semakin banyak orang justru curiga.Karena masyarakat sekarang sadar satu hal: citra bisa dibangun, tapi integritas belum tentu ada.Kasus makanan oplosan, kosmetik berbahaya, manipulasi bahan baku, overclaim produk kesehatan, hingga rantai distribusi yang tidak transparan membuat publik makin skeptis terhadap industri modern. Netizen sekarang tidak gampang percaya hanya karena iklan bagus atau influencer terkenal bilang produknya aman.Satu thread viral. Satu video TikTok. Satu bocoran isi pabrik.Selesai.Reputasi perusahaan yang dibangun bertahun-tahun bisa runtuh dalam satu malam.
Hari ini label halal mulai diasosiasikan dengan banyak hal:1. produk lebih aman,2. proses produksi lebih bersih,3. bahan baku lebih jelas,4. distribusi lebih terlacak,5. ada pengawasan lembaga resmi,
dan perusahaan dianggap memiliki tanggung jawab etik.
Fenomena ini bahkan melahirkan sesuatu yang cukup unik: sebagian konsumen non-Muslim mulai melihat halal sebagai indikator quality assurance.Kenapa bisa begitu?Karena masyarakat modern sekarang sebenarnya tidak hanya membeli produk. Mereka membeli rasa aman.
Mereka membeli transparansi. Membeli legitimasi. Membeli integritas. Dan halal berhasil masuk sebagai simbol dari semua itu. Secara tidak sadar, halal mulai berubah menjadi semacam trust infrastructure dalam ekonomi modern. Logo halal sekarang bukan cuma tanda religiusitas, tetapi menjadi sinyal psikologis bahwa produk tersebut “ada yang mengawasi”.
Bahasa sederhananya: “Kalau sudah halal, setidaknya ada standar yang dijaga.”
Masalahnya, fenomena ini muncul justru ketika industri modern sedang mengalami krisis legitimasi besar-besaran. Dulu perusahaan cukup membuat iklan besar lalu selesai. Hari ini tidak lagi semudah itu. Konsumen semakin kritis, semakin digital, dan semakin mudah membongkar praktik manipulatif perusahaan.Branding tidak lagi cukup.Karena publik sekarang tahu bahwa perusahaan bisa membeli citra, tetapi tidak bisa membeli kepercayaan secara instan.Di era trust economy seperti sekarang, legitimasi jauh lebih mahal daripada marketing.Konsumen hari ini tidak cuma bertanya: “Produknya enak nggak?"Tapi: “Bisa dipercaya nggak?”Dan ketika kepercayaan menjadi kebutuhan utama pasar, sertifikasi seperti halal otomatis memperoleh posisi yang semakin penting dalam sistem ekonomi. Halal akhirnya berubah menjadi semacam “mata uang sosial” baru dalam industri modern.
Semakin rendah kepercayaan publik terhadap pasar, semakin mahal nilai sebuah legitimasi.
Melalui kebijakan wajib halal yang diperluas hingga 2026, negara tampaknya mulai membaca perubahan besar ini. Halal tidak lagi diposisikan sekadar sebagai urusan agama, tetapi mulai dijadikan bagian dari infrastruktur ekonomi nasional.Yang sedang dibangun sebenarnya bukan cuma sertifikasi makanan dan minuman. Negara perlahan membentuk ekosistem besar:1. integrasi data halal nasional,2. digitalisasi sertifikasi,3. pengawasan produk impor,4. kontrol rantai distribusi,hingga formalisasi UMKM ke dalam sistem ekonomi resmi.Indonesia mungkin memang punya peluang menjadi raksasa industri halal dunia. Tetapi masa depan halal tidak akan ditentukan oleh seberapa banyak logo yang tercetak di kemasan produk.Ukuran sebenarnya jauh lebih sederhana, tetapi jauh lebih berat:Apakah masyarakat benar-benar merasa lebih aman?Apakah konsumen benar-benar merasa lebih terlindungi?Dan apakah publik masih percaya bahwa di balik label halal, masih ada kejujuran yang dijaga?Karena pada akhirnya, masyarakat modern tidak sedang mencari logo.Mereka sedang mencari sesuatu yang semakin langka di era industri hari ini:kepercayaan.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
