Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image lila

Bagiku Halalku, Bagimu Amanmu

Wisata | 2026-05-06 13:21:43

Sejauh ini, saya terbiasa tinggal di lingkungan mayoritas muslim, jadi tidak terlalu banyak menemui masalah terkait kehalalan makanan. Kadang, memang saya merasa perlu sedikit berhati-hati ketika berada di mall atau Bali; secara keseluruhan saya hanya punya sedikit pengalaman untuk memastikan apakah makanan saya halal atau tidak. Paling banter, saya membaca catatan perjalanan orang lain di media sosial.

Kehidupan justru langsung menempatkan saya sebagai tuan rumah bagi turis asing dengan pantangan makan tertentu. Dua orang dari India datang sebagai tamu bagi kantor saya, dan saya ditugasi sebagai salah satu dari tim pendamping.

Satu hari, saya bertugas mendampingi jalan-jalan tamu pertama. Sebut saja namanya Padma. Dia vegetarian: tidak makan berbagai jenis daging, tetapi masih oke dengan telur. Kebalikannya, saya cenderung karnivora, alias lebih suka makan daging-dagingan. Jadi, di mana kami harus makan siang?

Pilihan saya jatuh pada kedai nasi goreng. Saya pesan nasi goreng ayam, Padma pesan capcai telur. Perlu berbagai instruksi kepada sang penjual supaya menghindari daging-dagingan sama sekali di menu capcai tersebut, karena secara default, capcai di Indonesia biasanya sudah termasuk ayam dan sosis.

Saya sempat menanyakan padanya, "Kamu tidak makan daging karena alasan agama atau alasan personal?"

"Alasan personal saja," jawab Padma. "Aku tak tahan makan sesuatu yang pernah hidup."

Kali lain, saya bersama seluruh tim pendamping makan siang bersama tamu kedua, panggil saja Parvati. Berbeda dengan Padma, Parvati jenis vegetarian yang tidak makan telur walaupun masih suka susu dan olahannya. Kami mencarikan resto prasmanan tradisional. Pertimbangannya, Parvati bisa bebas memilih makanannya sendiri yang tidak mengandung daging atau telur.

Sebagaimana biasanya orang Indonesia, walaupun prasmanan, tetap saja salah satu dari kami mengambilkan dua porsi penuh gorengan: tahu isi, tempe mendoan, dan pisang goreng. Kami mempersilakan Parvati mencoba gorengan itu, yang kami yakini aman karena bahan utamanya tumbuhan.

Akan tetapi, setelah mencoba beberapa gigit tahu isi, Parvati meletakkan sisa tahunya. Awalnya, kami kira dia tidak suka rasanya, sampai salah satu rekan saya melontarkan celetukan, "Eh, tepungnya pakai telur, kan, ya?"

Seketika saya merasa seolah saya sendiri sedang makan mi rebus yang diberi campuran mirin tanpa saya sadari. Pantang bagi seorang muslim makan makanan dengan kandungan bahan nonhalal sedikit pun.

Selama ini, di media sosial, kita lebih sering meributkan konsep wisata halal. Mayoritas penentangnya berasumsi bahwa wisata halal sama dengan wisata Islami, dengan pembatasan aturan berpakaian dan sebagainya. Padahal, wisata halal yang dimaksud adalah tempat wisata menyediakan informasi di mana bisa mendapatkan fasilitas yang mengakomodasi kebutuhan turis muslim, misalnya makanan halal atau keberadaan tempat ibadah.

Sebenarnya, bukan hanya muslim yang berhak mendapatkan wisata "halal". Secara umum, "halal" bisa berarti diizinkan, jadi semua orang punya jenis diet masing-masing yang diizinkan untuk dirinya sendiri. "Halal" bagi vegan berarti makanannya sama sekali tidak mengandung unsur hewani, termasuk susu dan madu. "Halal" bagi penderita alergi berarti makanannya tidak mengandung alergen, seperti kacang, gluten, atau makanan laut.

Wisata halal bukan berarti menjadikan tempat wisata eksklusif untuk muslim. Justru ini adalah sebagian kecil implementasi keterbukaan informasi bagi wisatawan, termasuk wisatawan lokal.

Semua tempat makan seharusnya memberikan keterangan jelas tentang kandungan makanan yang disajikan, sehingga pengunjung punya gambaran tentang apa yang akan dimakannya. Bukan hanya karena alasan agama, tapi juga preferensi pribadi dan kondisi kesehatan.

Menghormati kebutuhan diet orang lain merupakan salah satu bentuk toleransi juga. Terlihat sederhana, tapi efeknya besar. Dengan itu, semua orang bisa menikmati makanan tanpa merasa was-was.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image