Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Ahmad Yasirunnaja

Mahasiswa Ilmu Hadis dan Agama: Belajar Memahami, Bukan Sekadar Menilai

Agama | 2026-05-16 18:08:15
Agama Agama Dunia

Ketika mendengar Program Studi Ilmu Hadis, banyak orang langsung membayangkan aktivitas menghafal hadis, mempelajari sanad, meneliti perawi, atau mengkaji kitab-kitab klasik. Gambaran itu memang tidak salah. Namun pada kenyataannya, mahasiswa Ilmu Hadis juga berhadapan dengan berbagai persoalan sosial yang berkembang di masyarakat, termasuk persoalan mengenai keberagaman agama di dunia.

Di bangku perkuliahan, mahasiswa Ilmu Hadis tidak hanya mempelajari teks keagamaan secara literal. Mereka juga diajak memahami bagaimana hadis dipahami dalam konteks kehidupan masyarakat yang terus berkembang. Salah satunya melalui kajian agama-agama dunia yang memperkenalkan berbagai keyakinan, sejarah, serta perkembangan agama di tengah kehidupan manusia.

Sebagian orang mungkin bertanya, mengapa mahasiswa Ilmu Hadis perlu mempelajari agama-agama dunia? Bukankah fokusnya berada pada hadis Nabi? Pertanyaan seperti ini cukup sering muncul. Padahal mempelajari agama-agama dunia bukan berarti mencampuradukkan keyakinan atau mengurangi keimanan seseorang. Tujuannya lebih kepada memperluas wawasan dan memahami realitas sosial yang ada.

Di era global seperti sekarang, manusia hidup dalam lingkungan yang sangat beragam. Mahasiswa bertemu dengan banyak orang yang memiliki latar belakang berbeda, baik dalam kehidupan kampus, media sosial, maupun dunia kerja. Jika seseorang hanya memahami dirinya sendiri tanpa mengenal orang lain, maka ia akan mudah membangun penilaian berdasarkan prasangka.

Sebagai mahasiswa Ilmu Hadis, sikap kritis menjadi sesuatu yang sangat penting. Dalam ilmu hadis sendiri, para ulama mengajarkan pentingnya tabayyun atau melakukan pemeriksaan terhadap suatu informasi sebelum menerimanya. Nilai ini sebenarnya relevan juga dalam kehidupan sosial saat ini. Ketika melihat suatu informasi tentang agama lain, seseorang tidak cukup hanya membaca potongan berita atau komentar singkat di media sosial.

Mempelajari agama-agama dunia juga dapat melatih cara berpikir akademik mahasiswa. Seorang mahasiswa tidak hanya dituntut mampu menyampaikan pendapat, tetapi juga mampu memahami alasan, sejarah, dan latar belakang suatu fenomena. Sikap seperti ini akan melahirkan diskusi yang sehat dan lebih terbuka.

Di sisi lain, memahami agama lain tidak berarti kehilangan identitas diri. Justru seseorang yang memahami keyakinannya dengan baik akan lebih siap menghadapi perbedaan tanpa merasa terancam. Sebab keyakinan yang kuat tidak selalu ditunjukkan melalui penolakan terhadap orang lain, tetapi juga melalui kemampuan menghormati sesama.

Pada akhirnya, mahasiswa Ilmu Hadis memiliki peran yang cukup besar di tengah masyarakat. Mereka tidak hanya menjadi pembaca teks agama, tetapi juga dapat menjadi penghubung antara nilai-nilai keislaman dengan realitas kehidupan modern yang penuh keberagaman.

" Belajar agama-agama dunia bagi mahasiswa Ilmu Hadis bukan tentang mencari persamaan keyakinan, tetapi tentang memahami manusia dengan cara yang lebih luas "

Daftar Pustaka

 

  • Mukti Ali. Ilmu Perbandingan Agama di Indonesia. Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga Press, 1998.

 

  • Manna' Al-Qaththan. Mabahits fi Ulum al-Hadis. Beirut: Muassasah ar-Risalah, 2000.

 

  • Nurcholish Madjid. Islam Doktrin dan Peradaban. Jakarta: Paramadina, 2008.

 

  • Fathurrahman. Ikhtisar Ulumul Hadits. Bandung: Al-Ma’arif, 2013.

 

  • Kementerian Agama Republik Indonesia. Moderasi Beragama. Jakarta: Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI, 2019.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image