Dakwah Humanis di Era Digital: Pendekatan Psikologi dalam Menyentuh Hati Masyarakat Modern
Agama | 2026-05-29 09:10:06
Dakwah Humanis di Era Digital: Pendekatan Psikologi dalam Menyentuh Hati Masyarakat Modern
Oleh: Umrotul Fadilah Arofah & M. Nur Fajri
Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam cara manusia berkomunikasi, termasuk dalam dunia dakwah Islam. Jika dahulu dakwah lebih banyak dilakukan melalui mimbar masjid, majelis taklim, dan forum keagamaan formal, kini dakwah hadir melalui media sosial seperti TikTok, Instagram, YouTube, dan podcast. Perubahan ini menuntut para pendakwah untuk tidak hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga memahami cara berkomunikasi yang sesuai dengan kondisi psikologis masyarakat modern.
Di era digital, masyarakat lebih menyukai komunikasi yang santai, hangat, dan tidak menggurui. Banyak orang, khususnya generasi muda, merasa enggan mengikuti kajian agama karena takut dihakimi atau dianggap kurang baik dalam menjalankan agama. Akibatnya, pesan dakwah yang seharusnya menjadi jalan menuju ketenangan justru terasa menakutkan bagi sebagian orang.
Dalam kondisi seperti ini, psikologi komunikasi dakwah menjadi sangat penting. Psikologi komunikasi dakwah adalah cara memahami kondisi mental, emosi, dan karakter audiens dalam menyampaikan pesan agama. Dakwah bukan hanya tentang apa yang disampaikan, tetapi juga bagaimana cara menyampaikannya agar dapat diterima dengan baik oleh masyarakat.
Seorang da’i harus memahami bahwa setiap manusia memiliki latar belakang kehidupan yang berbeda. Ada orang yang sedang mengalami masalah keluarga, tekanan ekonomi, trauma masa lalu, bahkan merasa dirinya terlalu banyak dosa untuk mendekat kepada Allah SWT. Jika dakwah disampaikan dengan nada keras dan penuh kemarahan, maka orang-orang seperti ini justru akan semakin menjauh dari agama.
Islam sendiri mengajarkan dakwah dengan kelembutan dan kasih sayang. Rasulullah SAW merupakan teladan utama dalam berdakwah. Beliau tidak pernah memaksa atau mempermalukan orang lain ketika menyampaikan ajaran Islam. Bahkan kepada orang yang menentangnya sekalipun, Rasulullah tetap menunjukkan sikap santun dan penuh empati. Dalam QS. Ali Imran ayat 159 dijelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW bersikap lemah lembut kepada umatnya karena rahmat Allah SWT. Ayat tersebut menunjukkan bahwa kelembutan merupakan bagian penting dalam keberhasilan dakwah.
Namun dalam realitas media sosial saat ini, masih banyak dakwah yang disampaikan dengan cara keras dan penuh hujatan. Ceramah yang berisi ancaman, kemarahan, atau sindiran tajam sering kali lebih mudah viral karena memancing emosi publik. Sayangnya, pendekatan seperti ini tidak selalu efektif dalam membangun kesadaran masyarakat. Banyak orang justru merasa takut, tersinggung, atau memilih menjauh dari kajian agama.
Sebaliknya, pendekatan dakwah yang humanis dan penuh empati terbukti lebih mudah diterima oleh masyarakat luas. Salah satu contoh yang sering diperbincangkan adalah gaya dakwah Gus Miftah. Ia dikenal karena mampu berdakwah di tempat-tempat yang jarang disentuh oleh pendakwah lain, seperti kafe, komunitas anak muda, hingga lingkungan hiburan malam.
Pendekatan yang dilakukan Gus Miftah menunjukkan bahwa dakwah tidak harus selalu formal dan kaku. Ia menggunakan bahasa sederhana, humor ringan, dan komunikasi yang akrab sehingga audiens merasa nyaman. Banyak orang yang sebelumnya merasa jauh dari agama akhirnya mulai tertarik mendengarkan kajian karena merasa diterima tanpa dihakimi.
Secara psikologis, rasa nyaman memiliki pengaruh besar terhadap penerimaan pesan. Ketika seseorang merasa dihargai dan diterima, maka ia akan lebih terbuka dalam menerima nasihat. Sebaliknya, ketika seseorang merasa dipermalukan atau disalahkan secara langsung, maka ia cenderung membangun pertahanan diri dan menolak pesan yang diberikan.
Fenomena ini sejalan dengan teori komunikasi persuasif yang dikemukakan oleh Carl Hovland. Ia menjelaskan bahwa pesan akan lebih mudah memengaruhi sikap seseorang apabila disampaikan dengan pendekatan emosional yang baik serta melalui komunikator yang dianggap dekat dan terpercaya. Dalam konteks dakwah, seorang da’i yang mampu menjadi sahabat bagi masyarakat akan lebih mudah menyentuh hati audiens dibandingkan da’i yang hanya menampilkan kemarahan.
Dakwah yang ramah bukan berarti mengurangi ketegasan ajaran Islam. Ketegasan tetap diperlukan, tetapi harus disampaikan dengan cara yang bijaksana dan penuh hikmah. Sebab tujuan utama dakwah bukan untuk mempermalukan manusia, melainkan mengajak mereka kembali kepada jalan Allah SWT.
Kondisi masyarakat modern saat ini juga menunjukkan bahwa banyak orang sedang mengalami tekanan hidup. Persaingan ekonomi, masalah keluarga, serta pengaruh media sosial membuat kesehatan mental masyarakat semakin rentan. Oleh karena itu, masyarakat membutuhkan dakwah yang menenangkan hati dan memberikan harapan, bukan dakwah yang justru menambah rasa takut dan kecemasan.
Jalaluddin Rakhmat pernah menyampaikan bahwa komunikasi yang baik mampu memengaruhi kondisi jiwa seseorang. Pernyataan ini menunjukkan bahwa cara berbicara seorang da’i memiliki dampak besar terhadap keberhasilan dakwah. Kata-kata yang lembut dan penuh empati dapat menjadi pintu hidayah bagi seseorang.
Pada akhirnya, keberhasilan dakwah tidak hanya diukur dari kerasnya suara atau banyaknya penonton di media sosial, tetapi dari seberapa besar pesan itu mampu mengubah hati manusia menjadi lebih baik. Dakwah yang humanis, santun, dan penuh kasih sayang akan lebih mudah diterima oleh masyarakat modern, khususnya generasi muda.
Karena sejatinya, manusia tidak dapat disentuh dengan kemarahan semata. Hati manusia lebih mudah luluh melalui ketulusan, perhatian, dan kelembutan. Inilah wajah dakwah Islam yang sebenarnya: membawa kedamaian, menenangkan hati, dan merangkul seluruh golongan tanpa membedakan latar belakang mereka.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
