Ketika Viral Lebih Dipercaya daripada Kebenaran
Teknologi | 2026-08-21 01:41:58Pernahkah kita membagikan sebuah informasi hanya karena sedang ramai diperbincangkan? Atau langsung percaya pada sebuah berita karena sudah muncul berulang kali di berbagai grup media sosial? Jika iya, mungkin tanpa sadar kita sedang menjadi bagian dari fenomena yang saat ini semakin sering terjadi, yaitu ketika viralitas dianggap lebih penting daripada kebenaran.
Perkembangan teknologi digital memang membawa banyak manfaat. Internet membuat kita lebih mudah belajar, bekerja, berkomunikasi, dan memperoleh informasi. Namun di balik berbagai kemudahan tersebut, muncul tantangan yang tidak kalah besar. Saat ini setiap orang dapat menjadi penyebar informasi hanya dengan satu sentuhan jari. Sayangnya, tidak semua informasi yang beredar memiliki dasar yang benar.
Kita sering menemukan berita sensasional, potongan video tanpa konteks, atau tautan yang mengatasnamakan lembaga tertentu. Meskipun belum tentu benar, informasi seperti ini justru lebih cepat mendapatkan perhatian publik. Banyak orang membagikannya karena merasa informasi tersebut penting atau menarik, bukan karena sudah memastikan kebenarannya terlebih dahulu.
Menurut saya, masalah utama bukan terletak pada teknologinya, melainkan pada cara kita menggunakannya. Kemajuan teknologi tidak akan memberikan manfaat maksimal apabila tidak disertai dengan tanggung jawab. Kita hidup di zaman ketika siapa pun bisa berbicara, tetapi tidak semua orang mau memeriksa kembali apa yang disampaikannya.
Di sinilah nilai Budi Luhur menjadi sangat relevan. Menjadi pribadi yang berbudi luhur bukan hanya tentang memiliki pengetahuan yang tinggi, tetapi juga menggunakan pengetahuan tersebut untuk memberikan manfaat bagi orang lain. Dalam konteks digital, sikap berbudi luhur dapat diwujudkan dengan tidak mudah menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya, menghormati orang lain dalam berkomunikasi, dan mengutamakan fakta daripada popularitas.
Selain itu, ajaran akhlakul karimah juga memberikan pedoman yang sangat penting. Dalam Islam dikenal konsep tabayyun, yaitu memeriksa dan memastikan kebenaran suatu informasi sebelum mempercayai maupun menyebarkannya. Nilai ini terasa semakin penting di tengah derasnya arus informasi digital saat ini. Banyak hoaks sebenarnya tidak akan menyebar luas apabila setiap orang meluangkan sedikit waktu untuk melakukan verifikasi terlebih dahulu.
Tantangan semakin besar dengan hadirnya teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Teknologi ini mampu membuat gambar, suara, video, bahkan tulisan yang tampak sangat meyakinkan. Di satu sisi AI memberikan banyak manfaat, tetapi di sisi lain juga dapat digunakan untuk memproduksi informasi yang menyesatkan. Karena itu, kemampuan berpikir kritis dan kesadaran moral menjadi semakin penting.
Sebagai langkah sederhana, saya menawarkan penerapan prinsip 5T dalam kehidupan digital sehari-hari. Pertama, Teliti sumber informasi. Kedua, Tanya kepada pihak yang lebih memahami. Ketiga, Tabayyun atau lakukan verifikasi sebelum percaya. Keempat, Timbang manfaat dan dampaknya sebelum membagikan informasi. Kelima, Tanggung Jawab terhadap setiap informasi yang kita sebarkan.
Pada akhirnya, media sosial hanyalah alat. Apakah alat tersebut membawa manfaat atau justru menimbulkan masalah sangat bergantung pada bagaimana kita menggunakannya. Jika setiap pengguna internet mampu mengedepankan nilai budi luhur, akhlakul karimah, serta sikap kritis dalam menerima informasi, maka ruang digital Indonesia akan menjadi lebih sehat, lebih beradab, dan lebih menghargai kebenaran daripada sekadar viralitas.
Penulis: Indra Muhamad Budiman Mahasiswa Magister Manajemen Universitas Budi Luhur
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
