Buku Digital Bukan Sekadar Buku di Layar
Eduaksi | 2026-08-28 22:29:57Di sinilah tantangan sesungguhnya pemanfaatan teknologi dalam pendidikan, terutama di sekolah dasar. Teknologi seharusnya tidak berhenti sebagai perangkat atau produk digital, tetapi menjadi sarana untuk membuat siswa lebih aktif berpikir, bertanya, berdiskusi, bereksplorasi, dan menghubungkan pelajaran dengan kehidupan mereka.
Gagasan tersebut menarik untuk direnungkan dalam praktik pemanfaatan Buku Ajar Digital Tematik bagi guru. Melalui kegiatan praktik baik yang dikemas dalam bentuk microteaching, guru tidak hanya diperkenalkan pada bahan ajar digital, tetapi juga akan diajak memikirkan pertanyaan yang lebih mendasar: apa yang dilakukan siswa ketika buku digital itu digunakan? Pertanyaan tersebut penting karena kualitas teknologi pendidikan pada akhirnya tidak ditentukan oleh seberapa canggih perangkatnya, melainkan oleh kualitas pengalaman belajar yang tercipta.
Buku Ajar Digital Tematik memiliki potensi besar karena mengangkat sesuatu yang dekat dengan kehidupan siswa. Lingkungan bukan sesuatu yang abstrak bagi anak. Mereka melihat halaman sekolah, jalan di sekitar rumah, tempat bermain, sampah, tanaman, hewan, maupun berbagai persoalan lingkungan setiap hari. Namun, kedekatan tema saja belum cukup. Buku digital akan menjadi bermakna jika guru mampu mengubah konten menjadi pemantik aktivitas. Siswa dapat diajak mengamati gambar, menjawab pertanyaan, mengemukakan pendapat, berdiskusi, mencari hubungan sebab-akibat, atau menceritakan pengalaman mereka sendiri.
Dengan cara itu, buku digital tidak menjadi “televisi kecil” yang membuat siswa hanya melihat dan mendengar. Ia berubah menjadi pintu masuk menuju aktivitas belajar. Karena itu, peran guru justru semakin penting di tengah perkembangan teknologi. Ada anggapan bahwa kehadiran teknologi akan mengurangi peran guru. Dalam praktik pendidikan, yang terjadi justru sebaliknya. Semakin banyak pilihan teknologi dan sumber belajar, semakin dibutuhkan guru yang mampu memilih, mengolah, dan mengarahkan penggunaannya.
Guru bukan sekadar pengguna buku digital melainkan perancang pengalaman belajar.
Di sinilah microteaching menjadi menarik. Guru seharusnya mencoba terlebih dahulu skenario pembelajaran sebelum membawanya ke ruang kelas yang sesungguhnya. Mereka berlatih membuka pembelajaran, menyampaikan tujuan, mengajukan pertanyaan pemantik, mengelola aktivitas, mengajak siswa berinteraksi dengan materi, hingga melakukan refleksi.
Praktik semacam ini jauh lebih bermakna daripada sekadar pelatihan penggunaan aplikasi atau demonstrasi fitur. Guru tidak hanya belajar “bagaimana menggunakan” teknologi, tetapi belajar “untuk apa teknologi digunakan”.
Dengan demikian, guru akan merasakan langsung manfaat pendekatan tersebut, tidak berhenti pada menerima materi, tetapi mencoba mengajar dengan menggunakan buku digital. Dari praktik akan terlihat bahwa tantangan utama bukan sekadar mengoperasikan bahan ajar, melainkan mengemas aktivitas agar siswa terlibat secara aktif.
Hal sederhana seperti menyampaikan tujuan pembelajaran secara eksplisit ternyata tetap penting. Begitu pula dengan melakukan konfirmasi pemahaman. Guru perlu memastikan bahwa siswa bukan hanya mengikuti instruksi, tetapi benar-benar memahami apa yang sedang dipelajari. Di sinilah microteaching menunjukkan nilai pentingnya: kesalahan dan kekurangan dapat ditemukan sebelum strategi pembelajaran diterapkan kepada seluruh siswa di kelas.
Feedback dari observer menjadi bagian yang tidak kalah penting. Guru mendapatkan masukan mengenai apa yang sudah berjalan baik dan apa yang masih perlu diperbaiki. Misalnya, guru perlu lebih jelas menyampaikan tujuan pembelajaran pada awal kegiatan atau lebih sering melakukan pengecekan pemahaman siswa.
Hal-hal tersebut mungkin tampak sederhana. Namun, justru dalam detail seperti itulah pembelajaran yang efektif dibangun. Teknologi secanggih apa pun tidak akan banyak membantu jika guru tidak mengetahui apakah siswa memahami materi, kehilangan fokus, atau justru tidak mendapatkan kesempatan untuk berpartisipasi. Karena itu, digitalisasi pendidikan seharusnya tidak diukur hanya dari jumlah sekolah yang memiliki perangkat digital atau jumlah buku yang telah dikonversi ke format elektronik. Ukuran yang lebih penting adalah apa yang berubah dalam proses belajar siswa.
Apakah siswa menjadi lebih aktif? Apakah mereka lebih banyak bertanya? Apakah mereka memiliki kesempatan menyampaikan pendapat? Apakah mereka dapat menghubungkan materi dengan kehidupan sehari-hari? Apakah pembelajaran membantu mereka membangun pemahaman sendiri?
Jika jawabannya tidak, maka digitalisasi berisiko hanya menjadi pergantian medium: dari buku cetak ke buku digital, tanpa perubahan berarti dalam pengalaman belajar. Sebaliknya, jika buku digital digunakan untuk memancing rasa ingin tahu, diskusi, kolaborasi, pemecahan masalah, dan refleksi, maka teknologi benar-benar memiliki nilai pedagogis.
Ke depan, tantangan yang akan dihadapi adalah memastikan apa yang dipelajari benar-benar masuk ke ruang kelas. Guru perlu terus bereksperimen, melakukan refleksi, dan menyesuaikan aktivitas dengan karakter siswa. Buku digital pun perlu dipandang sebagai bahan yang terbuka untuk dikembangkan. Guru dapat memperkaya pertanyaan, menambahkan aktivitas pengamatan, mengaitkan materi dengan lingkungan sekitar sekolah, atau mengajak siswa menghasilkan karya berdasarkan apa yang mereka pelajari.
Pada akhirnya, masa depan pendidikan digital bukan tentang seberapa banyak teknologi yang kita gunakan, melainkan tentang seberapa bermakna teknologi tersebut bagi siswa. Buku Ajar Digital Tematik tidak semestinya hanya menjadi buku yang tampil di layar. Ia harus menjadi pemantik agar anak mengamati lingkungannya, bertanya tentang apa yang mereka lihat, berdiskusi dengan teman, menyampaikan gagasan, dan menemukan makna dari pembelajaran.
Teknologi adalah sarana, bukan tujuan. Guru tetap menjadi penggerak utama, sementara siswa harus tetap menjadi subjek utama pembelajaran. Sebab, sekolah yang benar-benar digital bukanlah sekolah yang paling banyak memiliki perangkat. Sekolah yang benar-benar maju adalah sekolah yang mampu menggunakan teknologi untuk membuat anak lebih aktif belajar, lebih berani berpikir, dan lebih mampu memaknai apa yang dipelajarinya dalam kehidupan nyata.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
