Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Jovilda Nur

Peradaban Emas Dimulai dari Pendidikan Islam

Politik | 2026-05-21 21:58:10


Hari Pendidikan Nasional 02 Mei 2026 menjadi titik penting untuk menilai arah pendidikan Indonesia yang masih menghadapi masalah fundamental. Kebijakan penghematan anggaran melalui Instruksi Presiden No.1 Tahun 2025 yakni mengurangi pengeluaran negara hingga ratusan triliun rupiah. Pengaruhnya langsung terasa dibidang pendidikan, dalah satunya dengan diperburuk oleh program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menggerogoti anggaran. Akibatnya, program peningkatan keterampilan guru, penyediaan fasilitas belajar, dan pemeliharaan infrastruktur sekolah terhambat. Selain hal tersebut juga kondisi kesejahteraan guru honorer masih belum mengalami perbaikan. Sebagian besar dari mereka menerima gaji yang jauh dibawah kelayakan hidup, meskipun peran mereka sangat penting dalam memastikan kelangsungan proses belajarmengajar, terutama di wilayah terpencil. Tugas yang berat tanpa jaminan kesejahteraan menyebabkan motivasi dan kualitas pengajaran menurun. Situasi ini secara langsung mempengaruhi kualitas pembelajaran di kelas, karena guru yang mengalami tekanan masalah ekonomi kesulitan untuk fokus dalam memberikan pengajaran terbaik. Ditambah lagi hasil data dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menunjukan bahwa kerusakan infrastruktur sekolah masih terjadi di banyak daerah. Kelas hancur, toilet tidak memadai, serta akses air bersih yang terbatas menjadi pemandangan yang biasa. Ketidaksetaraan ini tidak hanya muncul di daerah 3T, tetapi juga di lokasi yang secara administratif berdekatan dengan pusat pemerintahan. Ini mencerminkan ketidakadilan akses pendidikan yang masih belum selesai secara sistematis. (tempo.co, 04/03/2025) Mimpi Semu Indonesia Emas Arah kebijakan pendidikan tinggi juga turut bergeser menuju kondisi yang mengkhawatirkan. Pernyataan mengenai penutupan program studi yang dianggap tidak diserap oleh industri disampaikan langsung oleh Menteri Pendidikan Tinggi pada Hardiknas 2026 (tempo.co, Sabtu 25/04/2026). Langkah ini menunjukan bahwa pendidikan semakin dilihat sebagai sarana untuk memenuhi tuntutan pasar kerja. Pendidikan dijadikan hanya sebagai proses menghasilkan tenaga kerja siap pakai, bukan pengembangan manusia secara menyeluruh dalam aspek intelektual, moral, dan spiritual. Saat dimensi ini diabaikan, yang muncul adalah individu yang terampil secara teknis tetapi lemah dalam karakter. Perubahan fokus ini mempengaruhi kebijakan anggaran serta budaya literasi. Pemotongan anggaran perpustakaan dan program literasi mengurangi kemampuan berpikir kritis siswa dan mahasiswa. Literasi lebih dari sekedar kemampuan untuk membaca dan menulis, tetapi juga mencakup kemampuan untuk menganalisis informasi, menyusun argument, dan bersikap kritis terhadap kenyataan. Tanpa ketersediaan sumber bacaan yang cukup, proses belajar menjadi otomatis hanya berfokus pada menghafal bukan pada pemahaman. Dalam jangka panjang, ini menghasilkan generasi yang pasif, rentan terhadap pengaruh dan tidak siap menghadapi persoalan bangsa. Kesenjangan kesejahteraan antara guru honorer dan guru ASN menimbulkan ketidakadilan sistemik yang merusak sistem pendidikan. Sejumlah guru honorer terpaksa melakukan pekerjaan tambahan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, sehingga susah untuk berkonsentrasi dalam mengembangkan metode ajar. Keadaan ini membuat penyebaran guru tidak seimbang, khususnya di wilayah 3T. Hal tersebut menyebabkan sekolah pada wilayah 3T mengalami kekurangan guru, sedangkan sekolah di kota-kota besar menghadapi kelebihan. Akibatnya, mutu pendidikan antar wilayah semakin tidak seimbang dan tidak adil. Isu lain yang tidak kalah penting adalah kurangnya pendidikan karakter. Saat sekolah hanya memusatkan perhatian pada kognitif dan keterampilan kerja, aspek afektif dan psikososial siswa jadi terabaikan. Peserta didik tidak diberikan pelajaran tentang pengelolaan emosi, penyelesaian konflik dengan cara damai, serta penghargaan terhadap perbedaan. Lingkungan sekolah yang seharusnya menjadi area aman malah bertransformasi menjadi lokasi tekanan dan kekerasan. Kasus bullying dan tindakan pelecehan seksual yang meningkat adalah bukti jelas dari kegagalan sistem pendidikan saat ini. Secara umum, krisis pendidikan saat ini merupakan krisis nilai dan arah. Selama proses pendidikan hanya difokuskan untuk memenuhi tuntutan pasar, maka tujuan utama membangun peradaban akan selalu sulit untuk dicapai. Target Indonesia Emas 2045 yang menginginkan lahirnya generasi yang unggul secara intelektual, berkarakter, dan sehat secara fisik dan mental menjadi semakin sulit untuk tercapai. Diperlukan analisis komprehensif terhadap paradigma pendidikan, bukan hanya peningkatan teknis dan program terpisah yang bersifat sementara. Bangkit Dengan Pendidikan Islam Untuk keluar dari krisis ini diperlukan perubahan paradigma yang mendasar. Pendidikan harus dikembalikan kepada tujuan aslinya yakni membentuk individu yang utuh dan memiliki kecakapan intelektua, serta kekuatan moral dan spiritual. Dalam konteks pendidikan Islam, ilmu dianggap sebagai tanggung jawab yang terikat pada setiap orang dan sebagai jalan menuju kehormatan. Tujuan pendidikan tidak hanya sebatas menguasai ilmu dunia tetapi juga bertujuan untuk membentuk kepribadian secara utuh, dimana setiap aktivitas kehidupan menjadi wujud dari pengabdian kepada nilai-nilai mulia. Guru yang berada di garis depan pendidikan harus memperoleh posisi yang pantas. Peningkatan status perofesi guru akan memperkuat motivasi serta mutu pengajaran. Guru yang merasa diapresiasi akan berusaha lebih keras dan tulus dalam mengajar siswa. Negara bertanggung jawab sepenuhnya untuk menyediakan infrastruktur pendidikan yang layak dan merata, sehingga semua rakyat dapat mengakses pendidikan berkualitas tanpa adanya diskriminasi. Sejarah mengungkapkan bahwa peradaban besar muncul ketika pendidikan berjalan dalam sistem yang menggabungkan antara ilmu, nilai dan kekuasaan negara. Lembaga-lembaga pendidikan pada masa kejayaan Islam menjadi pusat inovasi dunia di bidang sains, kedokteran dan filsafat. Kontribusi tersebut diakui oleh para cendekiawan Barat sebagai fondasi kemajuan Eropa. Hal ini membuktikan bahwa integrase antara ilmu, nilai, dan kebijakan negara mampu melahirkan peradaban unggul. Oleh karena itu, pendidikan harus dijalankan dalam suatu kerangka sistem yang menjadikan prinsip-prinsip Islam sebagai dasarnya. Hanya dengan kerangka ini pendidkan dapat kembali menjalankan fungsi aslinya, yaitu menciptaka individu yang berpengetahuan, berbudi pekerti baik dan mampu memimpin peradaban. Upaya ini juga harus disertai dengan penguatan kemandirian umat, agar tidak lagi tergantung pada sistem global yang dikuasai oleh peradaban sekuler. Tanpa adanya perubahan struktural tersebut, maka berbagai program perbaikan pendidikan hanya akan menjadi solusi sementara yang tidak mengatasi inti masalah. Wallahualam bishshawab. .

Oleh Dui (Praktisi Pendidikan)

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image