Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Jovilda Nur

Gaza Belum Juga Tenang: Pentingnya Kekuatan yang Melindungi Umat

Agama | 2026-05-21 22:33:05



Kondisi Gaza sampai hari ini masih jauh dari kata aman. Serangan demi serangan terus terjadi, sementara bantuan kemanusiaan yang ingin masuk pun sering dihalangi. Baru-baru ini dunia internasional kembali menyoroti tindakan Zionis Israel yang mencegat kapal-kapal pembawa bantuan untuk Gaza di perairan internasional dekat Yunani. Padahal kapal tersebut datang membawa bantuan kemanusiaan untuk warga sipil yang selama ini hidup dalam kekurangan makanan, obat-obatan, dan kebutuhan dasar lainnya.

Dalam insiden tersebut, ratusan aktivis dari berbagai negara ikut menjadi korban. Sebanyak 211 aktivis dilaporkan ditahan oleh militer Zionis dan puluhan lainnya mengalami luka-luka saat proses pencegatan berlangsung (video.kompas.com, 17-5-2026)

Banyak pihak menilai tindakan itu menunjukkan bahwa bahkan bantuan kemanusiaan pun tidak luput dari tekanan dan blokade. Pihak Zionis sendiri berusaha membenarkan tindakannya dengan menuduh kapal bantuan itu memiliki hubungan dengan Hamas. Narasi seperti ini sebenarnya sudah sering dipakai untuk membungkam berbagai bentuk dukungan terhadap Palestina. Siapa pun yang mencoba membantu Gaza kerap dicurigai dan dilekatkan dengan tuduhan tertentu agar tindakan penahanan atau penyerangan terlihat seolah wajar di mata dunia internasional.

Faktanya, Zionis tetap leluasa menyerang, memblokade, bahkan menyita kapal bantuan di laut internasional. Ini menunjukkan bahwa hukum internasional sering kali tidak berlaku bagi pihak yang memiliki kekuatan dan dukungan politik global.

Lebih miris lagi, stigma “teroris” terus dipakai untuk membungkam siapa saja yang mendukung Palestina. Narasi itu terus diulang agar dunia menganggap perlawanan rakyat Palestina sebagai sesuatu yang salah, sementara penjajahan yang terjadi justru dianggap wajar.

Yang membuat banyak orang bertanya adalah, mengapa sampai hari ini tidak ada negeri-negeri Muslim yang benar-benar mampu menghentikan blokade dan agresi tersebut? Para penguasanya seolah tak berkutik ketika orang-orang lemah dari kalangan saudaranya sesama mukmin dizalimi sedemikian rupa di Palestina.

Padahal umat Islam di seluruh dunia terus menunjukkan solidaritasnya. Ada yang berdonasi, turun aksi, menyuarakan dukungan di media sosial, hingga ikut dalam misi kemanusiaan. Namun, semua itu tetap belum cukup menghentikan penderitaan rakyat Gaza.

Dalam Islam, menolong kaum Muslim yang tertindas bukan hanya perkara simpati, tetapi bagian dari kewajiban. Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّمَا الإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ
“Sesungguhnya imam (pemimpin) itu adalah perisai; manusia berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa kepemimpinan dalam Islam memiliki fungsi melindungi umat. Pemimpin bukan sekadar simbol politik, tetapi penjaga keamanan dan kehormatan kaum Muslim.

Apa yang terjadi hari ini adalah dampak mengerikan ketika Umat Islam tersebar dalam banyak negara dalam bingkai nation state. Sebuah produk sistem pemerintahan yang berasal dari ideologi Kapitalisme, bukan Islam. Dimana masing-masing negeri kaum muslimin memiliki kepentingannya masing-masing. Akibatnya, ketika Palestina diserang, respon yang muncul sering kali hanya sebatas kecaman diplomatik tanpa langkah nyata yang mampu menghentikan agresi.

Padahal, kekejian yang terjadi demikian telanjang di Gaza bukan sekadar isu politik internasional. Gaza adalah tanah kaum Muslimin yang di dalamnya ada darah, kehormatan, dan kehidupan saudara-saudara seiman kita yang wajib dijaga.
Allah Swt. berfirman:
وَمَا لَكُمْ لَا تُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ
“Mengapa kamu tidak berperang di jalan Allah dan membela orang-orang yang lemah, baik laki-laki, perempuan maupun anak-anak.” (QS. An-Nisa: 75)
Ayat ini menjadi pengingat bahwa Islam tidak mentolelir kezaliman terus terjadi tanpa pembelaan. Ketika ada kaum tertindas, umat diperintahkan untuk hadir melindungi mereka sesuai kemampuan terbaiknya.
Apa yang terjadi di Gaza sering membuat umat marah, sedih, dan kecewa. Namun rasa itu tidak cukup jika hanya berhenti pada unggahan media sosial atau kecaman sesaat. Perlu ada kesadaran yang lebih mendalam bahwa umat membutuhkan persatuan dan perjuangan yang terarah.
Dakwah Islam tidak hanya mengajarkan ibadah pribadi, tetapi juga mengajarkan bagaimana umat memiliki kekuatan dan kepemimpinan yang mampu menjadi pelindung bagi kaum Muslim. Sebuah kepemimpinan yang dicontohkan dan diwariskan dari sosok agung pembawa risalah Islam, Rasulullah Muhammad saw. yakni negara yang memberlakukan sistem hidup dan politik Islam. Ia adalah Daulah Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian.
Karena itu, perjuangan membangun kesadaran politik Islam di tengah umat menjadi hal penting agar tragedi seperti di Gaza tidak terus berulang.
Persoalan Palestina tidak cukup hanya dengan bantuan kemanusiaan atau kecaman internasional. Umat Islam membutuhkan persatuan dan kepemimpinan yang benar-benar menjadikan Islam sebagai landasan dalam melindungi kaum Muslim. Kesadaran umat juga perlu terus dibangun melalui dakwah dan pemahaman Islam yang benar, agar umat tidak hanya bersimpati, tetapi juga memahami pentingnya memiliki kekuatan politik Islam yang mampu menjadi perisai bagi kaum Muslim di seluruh dunia. Wallahualam bissawab.

Oleh : Jovilda Nurzahrani Thufailah(Pegiat Dakwah)

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image