Amien Rais Selamatkan Indonesia!
Politik | 2026-05-22 14:00:57"Pak Amien, apa kabar di Yogyakarta? Izinkan saya, seorang anak dari salah satu pengagum lama Bapak, menyampaikan salam takzim dari kejauhan seraya bermaksud membedah isi kepala dan rekam jejak Bapak dalam ruang refleksi saya hari ini."
Jika Pak Amien kebetulan sedang menatap layar ini dan membaca larik sapaan di atas, anggaplah ini sebuah dialog imajiner antara seorang guru bangsa dengan seorang anak bangsa yang dulu gagal berguru langsung di kelas Bapak. Saya ingin menyapa Bapak tanpa pretensi, sekaligus membuka kembali lembaran masa lalu yang mengikat nama Bapak dalam sejarah keluarga kami.
Dan bagi siapa pun yang telanjur tegang membaca judul di atas, saya hanya bisa berharap semoga setelah ini tidak ada sekelompok massa yang tiba-tiba datang menggeruduk rumah saya, apalagi jika amarah itu tersulut hanya karena membaca judulnya tanpa tuntas mengunyah isinya.
Sebab, frasa "Selamatkan Indonesia!" itu sebenarnya adalah sebuah judul buku karya Amien Rais yang terbit belasan tahun lalu. Buku setebal 298 halaman dengan judul lengkap “Agenda Mendesak Bangsa, Selamatkan Indonesia!” ini diterbitkan pertama kali pada 2008, bertepatan dengan momentum peringatan 10 tahun gerakan reformasi. Bagi saya pribadi, tahun 2008 adalah sebuah fragmen hidup yang krusial. Pada tahun itulah saya mengambil keputusan nekat untuk berhenti kuliah dari kampus lama saya pada semester-semester awal, lalu mendaftar kembali di jurusan Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada (UGM). Alasan utamanya sederhana dan mungkin agak naif: saya tahu Pak Amien mengajar di sana dan saya ingin sekali belajar langsung di bawah bimbingannya. Impian itu memang tidak pernah terwujud, namun ketertarikan saya pada pemikiran beliau tetap membekas.
Hingga hari ini, buku itu masih bertengger manis menghiasi rak buku di rumah kami. Bagi publik—terutama yang riuh di media sosial setelah polemik video YouTube-nya akhir April kemarin—judul itu mungkin terdengar seperti jargon usang. Tetapi bagi saya, buku itu dan nama Amien Rais sendiri bagaikan sebuah prasasti yang mengingatkan saya pada sebuah kegagalan politik yang paling saya hormati sekaligus paling saya syukuri: kegagalan almarhum ayah saya.
Semasa hidupnya, ayah—kami anak-anaknya memanggilnya Abba—adalah seorang dosen. Seorang pendidik murni yang seluruh hidupnya dihabiskan untuk menguji tesis, menyusun silabus, dan merawat keyakinan bahwa peradaban bisa diperbaiki lewat argumen yang runut di dalam ruang kuliah. Menatap buku peninggalannya hari ini mendatangkan rasa haru yang menggetarkan dada, sebab sebentar lagi, tepat pada hari tasyrik kedua Iduladha nanti, kepergian Abba menghadap Sang Khalik akan genap satu tahun dalam hitungan kalender Hijriah.
Dulu, magis Amien Rais rupanya cukup kuat untuk menjebol dinding akademis yang kokoh itu. Abba terpesona. Begitu terpesonanya, hingga ia nekat menceburkan diri menjadi pengurus partai berlambang matahari putih yang didirikan Amien, bahkan sempat mencalonkan diri sebagai anggota legislatif di daerah. Saya ingat saat itu adalah pemilu pertama setelah Orde Baru tumbang. Saya memang masih sangat kecil kala itu—di tahun-tahun terakhir sekolah dasar—tapi sudah cukup paham untuk mengingatnya sebagai sebuah memori yang jangkar.
Itu adalah keputusan paling absurd yang pernah diambil keluarga kami. Jujur saja, melihatnya bergerak di panggung politik saat itu membuat kami, keluarganya, kerap menahan napas. Abba tidak punya insting politik sama sekali. Ia buta terhadap kalkulasi transaksional dan logistik pemilu, tidak paham cara bernegosiasi di ruang gelap, asing terhadap strategi pencitraan, dan tidak punya ketegaan hati untuk mengumbar janji palsu demi meraup suara.
Di panggung kampanye, ia tidak bertransformasi menjadi politisi; ia tetaplah seorang dosen yang sedang memindahkan ruang kuliahnya ke lapangan terbuka. Jiwanya adalah jiwa ruang kelas: lurus, percaya pada kekuatan ide, dan naif dalam melihat ketulusan manusia. Tentu saja, ia kalah telak. Politik praktis punya hukumnya sendiri, dan hukum itu tidak ramah pada seorang pendidik yang naif.
Kemarin, 21 Mei 2026, kita baru saja memperingati Hari Reformasi. Ruang digital kita penuh dengan romantisme 28 tahun lalu, sekaligus cemoohan baru terhadap Amien Rais—singa tua yang oleh banyak orang hari ini dianggap kesepian dan kehilangan relevansi setelah menyerang ranah domestik istana.
Namun, menatap buku peninggalan Abba itu—dengan sampul bergambar siluet seorang bapak pedagang dengan sepeda tuanya tengah tertegun menatap angkuhnya cakrawala kota yang dipenuhi menara beton di batas senja—saya justru menemukan perspektif yang berbeda. Sebuah sudut pandang dari kacamata seorang anak dari seorang pendidik yang pernah “tersihir” oleh magnet Amien Rais. Perspektif yang juga barangkali luput dari analisis politik arus utama.
Kita terlalu sering menilai aktor politik secara biner: dipuja sebagai pahlawan atau didepak sebagai pengkhianat. Jangan sampai kita lupa bahwa watak asli dari Reformasi 1998 yang digerakkan Amien Rais sebenarnya bukanlah tentang bagaimana membangun birokrasi yang tenang atau mengonsolidasikan kekuasaan. Watak asli Reformasi adalah kecurigaan. Sebuah kecurigaan yang organik, cerewet, dan permanen terhadap siapa pun yang sedang memegang kendali negara.
Amien Rais, suka atau tidak, adalah The Eternal Dissident—sang oposan abadi. Secara genetika intelektual, ia tampaknya memang tidak dirancang untuk duduk manis di dalam lingkaran kenyamanan kekuasaan. Tugas sejarahnya bukan untuk memimpin dengan tenang, melainkan untuk menjadi alarm yang berisik, sekasar apa pun bunyinya.
Ketika Abba dulu mengaguminya, yang ia kagumi adalah daya dobrak moral itu. Abba, dengan kepolosan seorang dosen, mengira Amien adalah sesama pendidik yang sedang memegang penghapus untuk membersihkan papan tulis negara yang penuh coretan koruptif—yang saat mula-mula reformasi bergulir populer dengan akronim KKN (Korupsi, Kolusi, Nepotisme). Abba akhirnya mundur dari politik dan kembali fokus sepenuhnya ke kampus karena ia sadar politik menuntut kompromi, sementara hati kecilnya menuntut kebenaran mutlak.
Kini, di tahun 2026, saat peta perpolitikan kita dipenuhi oleh harmoni yang nyaris seragam, di mana oposisi menjadi barang langka dan akomodasi politik dipuja sebagai seni politik tertinggi, keberadaan sosok seperti Amien Rais—dengan segala kontroversi dan gaya komunikasinya yang kadang memicu polarisasi—menjadi sebuah anomali yang mahal.
Buku “Agenda Mendesak Bangsa, Selamatkan Indonesia!” yang ditulis Amien mungkin memang tidak pernah benar-benar menjadi cetak biru yang memenangkan mandat resmi rakyat di bilik suara. Partai-partai yang didirikannya pun mungkin pasang surut. Namun, konsistensi Amien untuk tetap berdiri di luar pagar—menjadi pengusik kenyamanan penguasa dari era ke era—adalah caranya sendiri untuk merawat api paling dasar dari 1998: bahwa Istana tidak boleh sedetik pun dibiarkan tidur nyenyak tanpa gangguan berisik di telinganya.
Ayah saya memang telah tiada, dan ia gagal menjadi politisi. Tapi sebagai pendidik, ia berhasil mewariskan satu pelajaran penting melalui buku yang ditinggalkannya di rumah kami: bahwa mencintai Republik ini tidak selalu harus dengan sorak-sorai kepatuhan, tetapi dengan keberanian untuk terus menjadi berisik. Dan untuk peran itu, suka atau tidak, Amien Rais masih menjalankan tugasnya.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
