Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image DANENDRA ALFARAZY

Ekonomi Global Tampak Stabil, Tapi Mengapa Semakin Rapuh?

Kabar WHO | 2026-05-22 16:39:38

Ketahanan ekonomi global menurut kajian Ekonomi Internasional kini tidak hanya tentang kemampuan menghadapi krisis, tetapi juga tentang kemampuan sistem ekonomi dunia dalam mengelola risiko yang semakin rumit dan kompleks. Dalam sepuluh tahun terakhir, dunia mengalami berbagai krisis beruntun, mulai dari wabah pandemi COVID-19 hingga pertikaian geopolitik seperti Perang Rusia- Ukraina. Secara permukaan, ekonomi global menunjukkan pemulihan. Namun, jika dilihat lebih dalam, pemulihan tersebut justru menyimpan kontradiksi: meskipun lebih adaptif dalam jangka pendek, secara struktural justru menjadi lebih rapuh. Dengan kata lain, ketahanan ekonomi global sekarang tampak kuat, tetapi sebenarnya memiliki kelemahan baru yang tersembunyi.

Laporan World Economic Outlook (April 2024) dari (International Monetary Fund, 2024) mencatat pertumbuhan ekonomi global sebesar 3,0%, yang lebih rendah dibandingkan rata-rata pertumbuhan tahun 2000 hingga 2019 yang mencapai 3,7%. Angka tersebut menunjukkan bahwa ada pemulihan, tetapi pemulihan itu masih kurang kuat untuk mengembalikan kondisi pertumbuhan seperti sebelumnya. Kondisi ini memperkuat argumen bahwa stabilitas global saat ini lebih dipengaruhi oleh penyesuaian jangka pendek daripada oleh struktur yang kuat dan tahan lama.

Perubahan di dalam rantai pasok global menunjukkan cara ketahanan di Bangun dengan mekanisme yang justru membuat proses menjadi tidak terlalu efisien. Sebelum pandemi, produksi global berpusat di Tiongkok yang menghasilkan sekitar 28% dari total manufaktur dunia menurut (United Nations Industrial Development Organization) tahun 2022. Ketika terjadi gangguan, efeknya sistemik. Upaya global untuk memperluas produksi ke negara seperti Vietnam dan Meksiko ( World Bank, 2023) memang berhasil mengurangi risiko terlalu bergantung pada satu pasar saja. Namun, langkah ini membuat biaya produksi dan pengiriman barang semakin mahal, sehingga menyebabkan inflasi global mencapai sekitar 6,8% pada tahun 2023, menurut IMF tahun 2024. Fenomena ini jelas menunjukkan gagasan utama bahwa ketahanan meningkat, tetapi dengan mengorbankan efisiensi, sehingga menciptakan kerentanan baru berupa tekanan biaya.

Fragmentasi geopolitik semakin memperdalam paradoks tersebut. Laporan World Trade Report 2023 dari (World Trade Organization, 2023) menyebutkan bahwa pertumbuhan perdagangan global hanya mencapai sekitar 1,7%, yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan tren pertumbuhan historis sebelumnya. Perangkat antara Amerika Serikat dan Tiongkok memicu kebijakan yang melindungi produk dalam negeri dan membatasi penggunaan teknologi asing. IMF (2023) memperkirakan bahwa fragmentasi dapat mengurangi output global hingga 7% dalam jangka panjang. Ini menunjukkan bahwa usaha memperkuat ketahanan dengan meningkatkan keamanan ekonomi nasional just mengurangi kemampuan integrasi ke dalam dunia global, sehingga meningkatkan risiko yang akan terjadi dalam jangka waktu yang lama.

Di bidang keuangan, ketahanan juga menunjukkan pola yang tidak sama di setiap daerah. Reformasi setelah krisis keuangan global 2008 memang membuat sistem perbankan lebih kuat, tetapi risiko kini berpindah ke utang global yang mencapai lebih dari 300 triliun dolar Amerika (IMF, Global Debt Monitor 2024). Kebijakan suku bunga yang tinggi dari Federal Reserve menyebabkan aliran dana keluar dari negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Ketahanan sistem keuangan global terlihat meningkat, namun secara bersamaan muncul ketimpangan baru antara negara-negara maju dan negara berkembang. Lagi-lagi, ini memperkuat pendapat bahwa ketahanan global tidak sama untuk semua, melainkan justru membuat distribusi risiko semakin tidak adil.

Transisi energi menunjukkan bentuk lain dari paradoks ketahanan. Investasi pada energi bersih mencapai 1,7 triliun dolar pada tahun 2023 menurut laporan (International Energy Agency, 2023), World Energy Investment 2023, yang menunjukkan kecenderungan menuju sistem yang lebih ramah lingkungan. Namun, ketergantungan yang baru saja muncul terhadap mineral kritis seperti nikel membuat negara seperti Indonesia berada dalam posisi yang strategis sekaligus rentan. Ketahanan energi meningkat karena penggunaan berbagai jenis sumber energi, namun muncul risiko baru yaitu terlalu bergantung pada sumber daya tertentu. Ini menunjukkan bahwa ketahanan yang dibangun sering hanya memindahkan, bukan menghilangkan, sumber-sumber kerentanan.

Dengan memperhatikan semua dinamika tersebut, terlihat jelas bahwa kondisi ekonomi global saat ini bukanlah sesuatu yang stabil dan kuat, tetapi lebih merupakan hasil dari kesepakatan antara kemampuan beradaptasi dan risiko baru yang muncul. Oleh karena itu, solusi yang diberikan tidak bisa hanya bersifat teori, melainkan harus bisa diterapkan dan bisa diukur.

Perubahan sistem perdagangan global harus dilakukan dengan cara yang jelas dan spesifik, yaitu dengan memperkuat peran lembaga penyelesaian sengketa di World Trade Organization yang selama ini tidak berjalan baik. Tanpa adanya mekanisme pelaksanaan yang efektif, tren proteksionisme cenderung akan terus bertambah. Implementasinya meliputi perekrutan kembali Badan Pembuat Putusan Banding WTO dan komitmen negara-negara anggota untuk membatasi kebijakan yang bersifat diskriminatif dan didasarkan pada pertimbangan geopolitik.

Koordinasi kebijakan moneter global juga harus diperkuat melalui forum seperti G20 dengan agenda yang lebih jelas, yaitu menyelaraskan arah penyesuaian suku bunga dan meningkatkan transparansi terkait kebijakan likuiditas. Tanpa kerja sama yang baik, kebijakan dari negara-negara maju, khususnya yang diambil oleh Federal Reserve, akan terus menimbulkan dampak negatif yang merugikan negara-negara berkembang. Instrumen konkret yang bisa diterapkan adalah swap antar bank sentral dan peningkatan akses likuiditas darurat untuk negara berkembang melalui IMF.

Di tingkat nasional, negara berkembang seperti Indonesia harus terus menerus menerapkan strategi hilirisasi yang tidak hanya berhenti pada ekspor bahan-bahan yang belum tuntas diproses. Implementasi yang lebih konkret adalah pengembangan industri turunan berbasis nikel, seperti kendaraan listrik, disertai dengan investasi pada riset dan pengembangan di dalam negeri. Tanpa itu, hilirisasi hanya akan menggeser ketergantungan dari bahan mentah ke produk antara.

Selain itu, untuk mendorong diversifikasi ekonomi, perlu ditingkatkan sektor manufaktur serta jasa yang memiliki nilai tambah yang besar. Kebijakan ini membutuhkan bantuan keuangan yang tepat sasaran, peningkatan kemampuan tenaga kerja, serta masuknya ke dalam sistem ekonomi global yang lebih luas. Tanpa beragam jenis kegiatan ekonomi, daya tahan perekonomian negeri tetap tergantung pada perubahan harga barang barang yang dijual di pasar dunia.

Akhirnya, ketahanan ekonomi dunia tidak bisa lagi dilihat sebagai kondisi yang tidak berubah. Ia adalah proses yang terus berubah dan selalu membutuhkan pertimbangan antara efisiensi, stabilitas, dan kemandirian. Dalam konteks saat ini, ketahanan yang tampak justru sering kali lebih kompleks dan memerlukan pendekatan penelitian yang baru. Oleh karena itu, tanpa adanya reformasi struktural yang nyata dan terorganisir, stabilitas ekonomi global bisa tetap terlihat seperti ilusi-tampak kuat di permukaan, tetapi mudah runtuh ketika menghadapi gangguan berikutnya.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image