Mengamati Budaya Konformis dan Kolektivis Mahasiswa
Eduaksi | 2026-05-02 17:10:03
Sudah seringkali saya melalui banyak kejadian klise selama perkuliahan. Model pembelajaran presentasi, mekanisme student-oriented, dan dosen hanya tinggal menyimak sambil menggulir HPnya dengan santai. Sesi penjabaran materi berlalu bak angin kering yang jenuh, suasana yang sangat kosong. Tiba saatnya sesi tanya jawab. Dipertemuan pertama, 3 kelompok seharusnya diwajibkan untuk bertanya, terserah apapun itu, namun apalah daya, yang datang hanyalah keheningan semata.
Si Dosen kemudian karena tidak sreg lagi untuk tetap di kelas itu, mengatakan bahwa kelas tersebut tidak kondusif, lalu Ia pun pergi dari kelas tanpa mengatakan sepatah katapun setelah memastikan "OK, tidak ada yang bertanya berarti sudah paham semua toh". Kami yang melongo dikelas hanya bisa menatap satu sama lain dan dengan terpaksa menanggalkan rasa penasaran terhadap topik yang semestinya dapat dilengkapi oleh dosen itu.
Saya yakin, setidaknya ada sepersekian dari jumlah mhs di kelas itu memiliki segelintir pertanyaan di benak mereka. Namun, kenapa tidak terucap? entah sulit mengurai dalam bentuk kalimat efektif, tidak ada keberanian, atau dirasuki dengan budaya konformitas dan kolektivis karena menunjukkan seolah-olah dia membelok dari lajur "paham" dan "diam"?
Sesuai dengan namanya, konformitas adalah sebuah dorongan psikologis dalam diri seseorang untuk menyamakan sikap atau perilakunya dengan orang yang ada di sekitarnya. Dorongan ini muncul karena adanya ketakutan akan penolakan sosial jika seseorang tampil berbeda dari kelompok mayoritas. Di dalam ruang kelas sikap konformis ini terlihat jelas ketika seorang mahasiswa memiliki pertanyaan kritis di kepalanya namun ia memilih untuk membatalkannya karena melihat tidak ada satu pun temannya yang mengangkat tangan.
Bersamaan dengan konformitas budaya kita juga sangat kental dengan nilai kekerabatan atau kolektivisme. Kolektivisme memandang keharmonisan kelompok sebagai sesuatu yang paling utama dibandingkan penonjolan identitas individu. Kelompok kolektivis selalu berusaha menjaga perasaan orang lain dan menghindari konflik sekecil apapun agar keutuhan kelompok tetap terjaga. Ironisnya, nilai ini sering disalahartikan dalam ranah akademik sehingga mahasiswa merasa enggan untuk menyanggah argumen teman yang sedang presentasi karena takut merusak hubungan pertemanan di luar jam kuliah.
Akibatnya, terjadi ketidaselerasan antara ekspektasi mahasiswa dengan tujuan dosen dalam menerapkan model pembelajaran, sementara mahasiswa masih terpincut pada sistem tradisi dimana dosenlah yang menjelaskan. Tentu saja, saya juga merasa ingin mengetahui perbedaan antara didongengi oleh lulusan s2,s3, bahkan profesor dengan guru yang hanya sebatas sarjana. Ada semacam harapan yang terpendam dibenak saya, ketika melanjutkan pendidikan di PTN, yaitu iklim belajar yang kompetitif ketika itu. Namun apalah daya terbawa dalam arus yang tidak "kondusif" menurut dosen itu.
Jika kita bicara dari pengaruh buruk budaya feodalisme yang masih membelenggu kita dari zaman sekolah, mungkin saja puing-puing ketakutan tersebut masih tersisa. Bagaimana tidak? banyak juga dosen dengan sifat antikritik, birokratif cacat, sulit dihubungi, sok menjadi seleb, sementara mahasiswa di detik detik akhir menjelang sidang harus keteteran bersusah payah menghampiri mereka. Selain itu, pengaruh hasutan dari kating juga turut memperkuat rumor yang beredar dalam mengonstruksi citra dosen tertentu, hingga ketika bertemu dosen tersebut, kita akan lebih cakap dalam memilih sikap, termasuk salah satunya keengganan untuk bertanya, kritis, dan menginginkan matkul itu cepat berlalu.
Mencari jalan keluar dari permasalahan laten ini membutuhkan sebuah upaya sadar dari semua pihak yang berada di dalam ekosistem pendidikan. Artinya tidak hanya pada tataran dosen maupun mahasiswa yang terlibat di kelas itu, namun perlu ada perbaikan pada sistem yang harus bisa mengembangkan pola pikir yang lebih kritis, jumlah anggota kelas yang lebih terukur secara efektif (tidak terlalu banyak), dan meminimalisir unsur kekakuan birokrasi dan formalitas. Sejujurnya pada tahap ini, juga masih sulit merealisasikan ekosistem yang kompeten, setidaknya sejak era pasca covid kemarin, kita semua sudah mengalami pergeseran paradigma secara intensif, merubah hampir seluruh manusia didunia ini berpikir, prinsip efektifitas, perubahan pola aktivitas, dan kecenderungan individualisme.
Agak sedikit ironis, jika kita berkaca kepada perkembangan dan kemajuan teknologi AI yang semestinya menjadi medium untuk saling menguji gagasan, abstraksi liar, dan menemukan kebenaran dari hubungan dialektis, yang terjadi hanya interaksi mati dengan AI saja. Peran manusia termasuk sesepele teman diskusi sudah lenyap sepenuhnya dan digantikan oleh AI. Jelas saja, karena AI dirancang untuk memenuhi ekspektasi dan rasa puas penggunanya, bukan untuk menemukan kebenaran yang valid dan teruji empiris.
Referensi
Asch, S. E. (1951). Effects of group pressure upon the modification and distortion of judgments. Dalam H. Guetzkow (Ed.), Groups, leadership and men. Carnegie Press.
Bandura, A. (1977). Social Learning Theory. Prentice-Hall.
Edmondson, A. (1999). Psychological safety and learning behavior in work teams. Administrative Science Quarterly, 44(2), 350-383.
Freire, P. (1970). Pedagogy of the Oppressed. Herder and Herder.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
