Tobat di Era Modern
Agama | 2026-04-30 08:49:47
Kehidupan masa kini yang serba digital sering kali membuat spritualitas manusia terbaikan. Padahal, ditengah banjirnya informasi yang memicu rasa hampa, tobat menjadi solusi untuk memulihkan ketenangan hati. Di sinilah tobat berperan penting, sebuah undangan jiwa untuk pulang dan memperbaiki hubungan dengan sang pencipta.
Tobat secara bahasa berasal dari kata taba-yatubu-tawbatan yang berarti kembali. Dalam hal ini, kembali dari jalan yang menyimpang menuju jalan yang benar atau kembali kepada rida Allah. Sedangkan secara istilah, Meninggalkan dosa karena takut kepada Allah, menganggapnya buruk, menyesali perbuatan maksiat tersebut, serta bertekad kuat untuk tidak mengulanginya lagi di masa depan.
Dalam Al-Quran Allah SWT mengisahkan pertobatan umat-umat terdahulu, diantaranya, “Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertobat, beriman, beramal salah, kemudian tetap di jalan yang benar,” (QS. Thaha: 82)
Dalam Sunnah, tobat mendapatkan porsi pembahasan yang sangat luas, diantaranya, Rasulullah SAW bertobat dan meminta ampun kepada Allah sebanyak 70 atau 100 kali. Dalam satu hadis, beliau bersabda, “Hai manusia, bertobatlah kepada Allah. Sesungguhnya aku bertobat kepada-nya lebih dari tujuh puluh kali dalam sehari.”
Dalam pandangan ulama kontemporer, esensi tobat di era digital menuntut pertanggungjawaban atas jejak virtual yang telah ditinggalkan. Jika dosa dilakukan melalui ruang publik seperti media sosial baik berupa penyebaran hoaks maupun ujaran kebencian, maka tobat tidak cukup hanya dengan penyesalan batin, tetapi juga harus disertai upaya menghapus konten negatif dan melakukan klarifikasi (tabayyun). Ulama menekankan pentingnya "log out" dari keriuhan dunia maya untuk melakukan refleksi diri yang mendalam, serta memastikan bahwa hubungan dengan sesama manusia (hablun minannas) tetap terjaga dengan cara menjaga lisan digital dan meminta maaf atas komentar yang menyakiti hati orang lain.
Penerapan tobat ini secara praktis menyentuh berbagai lini kehidupan, mulai dari lingkup keluarga hingga masyarakat luas. Di rumah, tobat diwujudkan dengan menghentikan kebiasaan mengabaikan orang terdekat demi ponsel (phubbing), sementara di lingkungan kampus, hal ini berarti berkomitmen pada integritas akademik dengan menjauhi praktik plagiasi digital. Di tengah masyarakat, tobat di era modern adalah transformasi menjadi pengguna internet yang bijak; mengubah jempol yang semula destruktif menjadi penyebar kebermanfaatan, sehingga teknologi tidak lagi menjadi beban spiritual, melainkan jembatan menuju kedamaian hati dan rida Allah SWT.
Oleh: Hikmatul Aulia, Mahasiswi Jurnalistik Fakultas Dakwah dan ILmu Komunikasi UIN Jakarta
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
