Nyari Ketenangan Tapi Makin Kosong? Ini Jawaban dari Tasawuf
Agama | 2026-04-29 18:52:46Sanudin ElBadawie, Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam UNIDA GONTOR
Di era sekarang, banyak anak muda mulai tertarik dengan hal-hal berbau “spiritual”. Mulai dari meditasi, healing, sampai pencarian jati diri lewat berbagai praktik yang katanya bisa bikin hidup lebih tenang. Sekilas terlihat positif, tapi ada satu masalah besar: banyak dari tren ini justru menjauhkan manusia dari Tuhan. Spiritualitas dijalankan, tapi tanpa arah yang jelas dan tanpa landasan keimanan yang kuat (Smith, 2001).
Fenomena ini sering disebut sebagai “mistisisme palsu” yaitu praktik spiritual yang hanya berfokus pada perasaan nyaman, ketenangan batin, atau pengalaman pribadi, tapi mengabaikan hubungan dengan Tuhan sebagai pusat utama. Akibatnya, spiritualitas berubah jadi sesuatu yang serba bebas, subjektif, dan kadang hanya mengikuti tren. Orang merasa “damai”, tapi tidak benar-benar tahu kepada siapa ia bergantung (Nasr, 2007).
Di sinilah tasawuf hadir sebagai pembanding sekaligus solusi. Dalam Islam, tasawuf bukan sekadar soal rasa atau pengalaman batin, tapi tentang proses mendekatkan diri kepada Allah secara benar. Ada aturan, ada bimbingan syariat, dan ada proses penyucian diri (tazkiyatun nafs) yang jelas. Jadi bukan hanya “merasa tenang”, tapi juga “menjadi benar” (Al-Attas, 1995).
Tasawuf juga mengajarkan bahwa spiritualitas sejati harus seimbang: antara hati, akal, dan tindakan. Tidak cukup hanya merasa dekat dengan Tuhan, tapi juga harus dibuktikan dalam perilaku sehari-hari jujur, rendah hati, dan tidak dikuasai hawa nafsu. Ini yang membedakan antara spiritualitas yang asli dengan yang sekadar tren (Al-Ghazali, t.t.).
Selain itu, perkembangan budaya populer di Barat juga turut mempercepat penyebaran mistisisme palsu melalui media sosial, buku self-help, dan industri “wellness”. Spiritualitas sering dikemas sebagai produk instan yang bisa dibeli atau diakses tanpa proses yang mendalam. Hal ini menjadikan spiritualitas kehilangan kesakralannya dan berubah menjadi komoditas yang mengikuti logika pasar (Carrette & King, 2005).
Tasawuf justru menolak pendekatan instan seperti itu. Dalam tradisi sufi, perjalanan spiritual membutuhkan kesabaran, bimbingan guru (murshid), dan komitmen yang kuat terhadap nilai-nilai agama. Proses ini menekankan transformasi diri secara menyeluruh, bukan sekadar pengalaman sesaat yang emosional (Chittick, 2000).
Dengan demikian, penting bagi generasi muda untuk lebih kritis dalam memilih jalan spiritual. Tidak semua yang terlihat “menenangkan” itu benar. Tasawuf mengajarkan bahwa spiritualitas sejati harus mengarah pada kebenaran hakiki, bukan sekadar kepuasan diri. Inilah yang menjadi kunci agar manusia tidak tersesat dalam pencarian makna di tengah kompleksitas dunia modern (Nasr, 1996).
Kesimpulannya, di tengah maraknya tren spiritual ala Barat yang serba bebas, tasawuf memberikan arah yang lebih jelas dan mendalam. Ia bukan hanya menawarkan ketenangan, tapi juga makna hidup yang sejati yaitu kembali kepada Tuhan dengan cara yang benar, utuh, dan tidak menyimpang. Cocok banget jadi pegangan di tengah dunia yang makin ramai tapi sering terasa kosong (Schuon, 1984).
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
