Kenapa Sih Orang Indonesia Percaya Santet?
Curhat | 2026-05-03 06:57:43oleh Roma Kyo Kae Saniro
dosen Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas
Di tengah dunia yang semakin rasional, teknologi berkembang pesat dan sains menjadi rujukan utama. Namun, pertanyaan ini kerap muncul dengan nada heran, bahkan sedikit meremehkan, yaitu kenapa sih orang Indonesia masih percaya santet? Namun, mungkin pertanyaan itu justru perlu dibalik. Bukan mengapa orang percaya santet, tetapi apa yang membuat santet tetap masuk akal bagi sebagian orang? Jawabannya tidak sesederhana “percaya” atau “tidak percaya”. Ia berakar pada sejarah, pengalaman hidup, dan cara manusia memahami hal-hal yang tidak selalu bisa dijelaskan. Salah satu industri kreatif Indonesia yang tidak berhenti memproduksi karya yang merepresentasikan santet adalah film.
Gelombang film horor Indonesia hari ini bukan sekadar tren industri. Film horor adalah gejala kultural. Dari Sewu Dino hingga Janur Ireng garapan Kimo Stamboel, layar lebar kita kembali dipenuhi praktik santet, kutukan, dan ritual gelap. Pertanyaannya "Mengapa santet terus laris? Apakah kita sekadar takut pada yang gaib, atau justru sedang menonton ulang luka sosial yang tak pernah benar-benar sembuh?" Jawabannya mungkin tidak nyaman, yaitu santet di film Indonesia bukan tentang dunia lain, melainkan tentang dunia kita sendiri.
Sejak era Ratu Ilmu Hitam (1981), Santet (1988) dan Telaga Angker (1984), santet tampil sebagai ancaman yang jelas, yaitu ada pelaku, ada korban, ada balas dendam. Dunia dibagi hitam-putih, dan kejahatan selalu punya wajah. Namun, di balik kesederhanaan itu, tersimpan sesuatu yang lebih dalam ketakutan kolektif terhadap sesama. Santet selalu bekerja dari dekat, seperti tetangga, keluarga, orang yang dikenal. Santet bukan ancaman asing, melainkan paranoia sosial. Film-film ini, sadar atau tidak, memelihara kecurigaan itu. Lebih jauh, mungkin itulah sebabnya santet terus hidup.
Masuk ke era modern, kita melihat perubahan gaya dalam Pengabdi Setan (2017) karya Joko Anwar, Perempuan Tanah Jahanam (2019), hingga Ratu Ilmu Hitam (2019). Santet tidak lagi selalu disebut. Hal tersebut menjadi bayangan dan mengendap dalam ritual, kutukan, serta sejarah kelam. Banyak yang menyebut ini sebagai “kemajuan” dalam horor yang lebih cerdas, lebih psikologis. Tapi kita perlu jujur, ini tidak sekadar evolusi estetika, tetapi pergeseran cara kita memahami kekerasan.
Di luar layar, santet bukan sekadar mitos. Santet pernah menjadi alasan penghakiman massa, stigma sosial, bahkan kekerasan nyata di berbagai daerah. Dalam konteks ini, film santet tidak pernah netral. Ketika santet terus direproduksi tanpa refleksi kritis, santet berisiko mengukuhkan logika lama bahwa penderitaan seseorang bisa dijelaskan oleh “kekuatan gelap,” bukan oleh ketimpangan sosial, kemiskinan, atau konflik kekuasaan. Film menjadi ruang aman untuk menertawakan, menjerit, lalu pulang tanpa perlu benar-benar mempertanyakan akar masalahnya. Apakah ini hiburan? Ya. Apakah ini juga pelarian? Sangat mungkin.
Masalahnya bukan pada santet sebagai tema, melainkan fungsi santet pada film. Santet menjadi komoditas, formula cepat untuk menakut-nakuti. Film horor kehilangan daya kritisnya. Ia berhenti menjadi cermin dan berubah menjadi kabut yang menutupi realitas, bukan mengungkapkannya. Namun, ketika digunakan dengan tajam, seperti dalam Perempuan Tanah Jahanam (2019) atau Pengabdi Setan (2017), santet justru membuka sesuatu yang lebih dalam berupa pertanyaan bagaimana masyarakat menyimpan kekerasan dalam diam, bagaimana trauma diwariskan, dan bagaimana ketakutan diproduksi secara kolektif.
Barangkali, alasan sebenarnya kita terus menonton film santet bukan karena kita percaya pada santet, tetapi karena kita percaya pada konflik yang melahirkannya. Konflik iri hati, dendam, ketidakadilan. Santet hanyalah bahasa. Yang kita tonton adalah manusia dan selama konflik itu masih ada di keluarga, di desa, di negara. Santet menjadi “narasi alternatif” untuk menyebut adanya luka tanpa harus menyebut pelakunya secara terang. Di sini, santet bukan hanya soal mistik, tetapi juga soal komunikasi yang tertahan.
Dalam banyak kebudayaan di Indonesia, dunia tidak hanya terdiri dari yang kasat mata. Ada lapisan lain yang gaib, yang tidak terlihat, tetapi diyakini hadir dan memengaruhi kehidupan sehari-hari. Santet berada di wilayah ini sebagai penjelasan atas sesuatu yang terasa nyata, tetapi sulit dibuktikan. Ketika seseorang tiba-tiba sakit tanpa sebab jelas atau ketika konflik sosial terasa tidak menemukan jalan keluar, santet menjadi bahasa yang tersedia. Ia bukan sekadar keyakinan, melainkan cara untuk memberi makna pada ketidakpastian. Dalam konteks ini, santet bukan “kesalahan berpikir,” melainkan bagian dari sistem pengetahuan lokal yang sudah lama hidup berdampingan dengan kehidupan masyarakat.
Ada satu hal yang sering luput dari pembahasan, yaitu percaya pada sesuatu, termasuk santet, sering kali juga merupakan cara bertahan hidup. Dalam situasi di mana akses terhadap pengetahuan medis terbatas atau ketika penjelasan ilmiah terasa jauh dan tidak terjangkau, kepercayaan lokal menjadi pegangan. Ia memberi rasa kontrol bahwa sesuatu yang tidak terlihat pun masih bisa dipahami, bahkan dilawan. Kepercayaan ini tidak selalu berdiri berlawanan dengan rasionalitas. Dalam banyak kasus, keduanya berjalan berdampingan. Seseorang bisa pergi ke dokter, sekaligus mencari penjelasan spiritual. Bagi mereka, ini bukan kontradiksi, melainkan kelengkapan.
Sayangnya, dalam cara pandang tertentu, Indonesia sering dilabeli irasional hanya karena masyarakatnya masih merawat dimensi spiritual dalam memahami kehidupan. Label ini terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya menyederhanakan kenyataan yang jauh lebih kompleks. Ia mengabaikan fakta bahwa cara manusia memahami dunia tidak pernah tunggal. Rasionalitas tidak hadir dalam satu bentuk yang seragam, tetapi tumbuh dari pengalaman, sejarah, dan konteks sosial yang berbeda-beda.
Di Indonesia, kepercayaan pada santet tidak berdiri sendiri sebagai “ketidaklogisan”, melainkan berkelindan dengan cara masyarakat membaca relasi, konflik, dan ketidakpastian. Ia menjadi bagian dari kosmologi yang hidup yang tidak hanya menjelaskan apa yang terjadi, tetapi juga mengapa sesuatu terasa terjadi. Dalam ruang seperti ini, spiritualitas bukanlah lawan dari akal sehat, melainkan salah satu cara untuk melengkapinya.
Mungkin yang sering luput adalah kenyataan bahwa modernitas tidak selalu menghapus kepercayaan lama; justru modernitas berdialog dengannya. Seseorang bisa mempercayai diagnosis medis, sekaligus mencari makna spiritual atas penderitaannya. Ia bisa hidup di dunia digital, tetapi tetap membawa warisan cara pandang yang diturunkan dari generasi sebelumnya. Bagi banyak orang, ini bukan bentuk kebingungan, melainkan cara untuk menjaga keseimbangan antara yang bisa dijelaskan dan yang hanya bisa dirasakan.
Pada akhirnya, pertanyaan “Kenapa orang Indonesia percaya santet?” tidak berhenti pada jawaban tentang kepercayaan itu sendiri. Ia membawa kita pada kesadaran yang lebih luas bahwa setiap masyarakat memiliki cara masing-masing dalam memahami dunia. Lalu, memahami cara itu tanpa tergesa menghakimi. Cara itu mungkin adalah langkah pertama untuk benar-benar memahami sesama.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
