Di Mina, Antri Air Panas Jadi Budaya Baru Jamaah Haji yang Lebih Sadar Kesehatan
Gaya Hidup | 2026-05-28 01:31:32
MINA– Di tengah hiruk pikuk tenda dan panasnya udara Mina, ada pemandangan yang kini hampir selalu ada: barisan jamaah memegang termos, gelas, dan botol, menunggu giliran mengisi air panas dari dispenser yang disediakan panitia.
Antrian itu panjang. Kadang 15 menit, kadang 30 menit. Tapi tak ada yang mengeluh keras. Justru banyak yang bilang, “Bagus, jadi kebiasaan baik.”
Dulu, air mineral dingin langsung diminum begitu saja. Sekarang, banyak jamaah memilih menunggu air mendidih, meski harus berdiri lama. Alasannya sederhana: takut sakit.
“Kalau minum air mentah, takut anyang-anyangan. Di sini susah cari toilet, antriannya juga lama. Mending aman dulu,” kata Bu Siti (nama disamarkan), 58 tahun, jamaah asal Wajo Sulawesi, sambil mengipas termosnya.
Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Perubahan cuaca, aktivitas fisik tinggi saat lempar jumrah, dan minimnya waktu istirahat membuat tubuh jamaah rentan. Infeksi saluran kemih jadi salah satu keluhan yang mungkin muncul di pos kesehatan kloter.
Air panas pun jadi solusi praktis. Selain lebih aman diminum, air hangat juga membantu meredakan pegal dan menjaga tubuh tetap nyaman di cuaca ekstrem Mina yang bisa tembus 40 derajat di siang hari.
Yang menarik, kebiasaan ini mulai menular. Jamaah yang awalnya cuek, ikut membawa termos kecil setelah melihat teman sebayanya disiplin merebus air.
“Ini contoh kecil, tapi dampaknya besar. Jamaah jadi lebih mandiri menjaga kesehatan sendiri. Nggak semua ditanggung panitia,” ujar Pak Arif (nama disamarkan), salah satu ketua regu.
Tentu, ketersediaan dispenser air panas masih jadi catatan. Di beberapa maktab jumlahnya terbatas, sehingga antrian mengular sampai ke lorong tenda. Tapi di situlah budaya baru itu terbentuk: sabar mengantri demi kesehatan.
Di Mina, ibadah fisik memang jadi ujian utama. Tapi kesadaran sederhana seperti memastikan air yang diminum sudah mendidih, menunjukkan bahwa haji juga melatih kedisiplinan hidup sehat.
Dan ketika antrian air panas berubah jadi percakapan ringan, saling berbagi obat, dan saling mengingatkan minum cukup, Mina tidak hanya jadi tempat ujian kesabaran. Ia jadi ruang belajar kebersamaan dan kepedulian.
Dari Tenda Maktab 51, Mina
Haji 2026: Catatan Lapangan
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
