MBG: Niat Mulia yang Butuh Lebih dari Sekadar Niat
Info Terkini | 2026-06-20 22:44:28
Siapa yang tidak setuju kalau anak-anak Indonesia harus makan dengan layak setiap hari? Hampir tidak ada. Dan di situlah letak kekuatan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), ia lahir dari keprihatinan yang nyata. Setiap pagi, masih banyak anak yang masuk kelas dengan perut kosong atau paling bahkan mengisi perut dengan gorengan pinggir jalan. Bukan karena pilihan, tapi karena keterbatasan. Anak yang lapar tidak bisa berkonsentrasi. Anak yang kekurangan gizi tidak bisa berpikir jernih, tidak bisa berkembang sebagaimana mestinya. Dan ini bukan soal satu dua anak tapi ini soal jutaan anak Indonesia yang nasibnya ditentukan oleh apa yang mereka makan sejak kecil.
Belum lagi dampak ekonominya. Di balik dapur-dapur yang memasak jutaan porsi setiap hari, ada petani yang panennya terserap, peternak yang ternaknya laku, nelayan yang hasil tangkapannya punya pembeli pasti. Kalau dikelola dengan benar dan mengutamakan bahan lokal, MBG bisa jadi mesin penggerak ekonomi rakyat kecil yang selama ini sering terlupakan. Dua manfaat sekaligus yakni anak sehat, ekonomi bergerak. Kedengarannya sempurna. Sayangnya, antara niat baik dan pelaksanaan di lapangan, ada jurang yang cukup dalam.
Kasus keracunan terus bermunculan. Tercatat lebih dari 20.000 kasus sepanjang 2025, dengan kasus terbesar menimpa lebih dari seribu pelajar di Bandung Barat dalam satu waktu. Angka yang seharusnya membuat siapa pun tersentak tapi proses hukumnya nyaris tidak berjalan. Porsi buah dalam menu pun kecil sekali, jauh dari standar gizi seimbang. Kalau buah saja diirit, saya bertanya-tanya apakah menu ini dirancang oleh ahli gizi atau sekadar dihitung berdasarkan harga paling murah yang muat dalam anggaran?
Lalu muncul kabar yang membuat saya geleng kepala yakni ikan dibagikan dalam kondisi mentah dan sudah dimarinasi. Ini bukan soal tampilan. Ini soal keselamatan. Ikan mentah yang sudah dimarinasi adalah ladang subur bagi bakteri berbahaya seperti Salmonella dan Listeria, tak terlihat, tak tercium, tapi bisa menyebabkan diare parah hingga komplikasi serius pada anak. Kalau program yang katanya untuk menyehatkan generasi bangsa justru berpotensi membuat mereka sakit, di mana pengawasannya?
Tapi yang paling membuat saya geram adalah berita korupsi yang menggerogoti program ini dari dalam, seperti rayap yang memakan fondasi rumah diam-diam.
Kepala BGN Dadan Hindayana dan dua mantan wakilnya, Sony Sonjaya serta Lodewyk Pusung, kini berstatus tersangka. Orang-orang yang seharusnya menjaga agar setiap rupiah sampai ke piring anak-anak, justru diduga mengalihkan uang itu ke tempat lain, 21 ribu motor listrik, 31 ribu tablet, 32 ribu pasang sepatu, hingga 5.400 unit televisi layar 75 inci. Tidak ada yang bisa menjelaskan apa kaitan semua itu dengan lauk makan siang anak SD di pelosok negeri. ICW pun mengingatkan bahwa yang terungkap ini boleh jadi baru puncak gunung es dan mendorong aparat menggali lebih dalam. Kalau uang yang harusnya ada di piring anak-anak justru mengalir ke kantong oknum, ini bukan lagi kegagalan program tapi ini pengkhianatan.
Dan rakyat tidak tinggal diam. Kemarahan yang menumpuk akhirnya meledak ke jalanan. Pada 12 Juni 2026, BEM Universitas Indonesia menggelar aksi di Bundaran HI dengan tuntutan tegas, hentikan MBG. Tiga hari kemudian, 15 Juni 2026, demonstrasi serempak meledak dari Jakarta hingga Medan, ribuan mahasiswa berdiri di depan gedung DPRD berbagai provinsi, menuntut evaluasi total atau penghentian program. Di Bandung, mahasiswa berkata lantang "Dari dasar sudah salah, kenapa dilanjutkan?" Lalu pada 17 Juni, giliran Surabaya bergolak. Ribuan mahasiswa dari Unair, Ubhara dan berbagai kampus lain berkonvoi ke depan Gedung Grahadi, menutup jalan dan berorasi meminta MBG dihentikan. Para pengamat menyebut MBG sengaja disandingkan dengan isu BBM dan harga sembako karena mahasiswa ingin mengirim satu pesan bulat: pemerintah gagal mengurus hal paling mendasar bagi rakyatnya dan MBG adalah simbol paling nyata dari kegagalan itu.
Saya tidak minta program ini langsung ditutup, ada jutaan anak yang sudah bergantung padanya. Tapi saya menuntut pembenahan yang sungguh-sungguh. Buka data pengadaan ke publik. Libatkan ahli gizi independen dalam penyusunan menu. Perkuat pengawasan di setiap titik distribusi. Dan lakukan evaluasi yang jujur bukan sekadar menghitung berapa juta kotak yang sudah dibagikan.
Yang penting bukan angkanya. Yang penting adalah apakah anak-anak Indonesia benar-benar lebih sehat, lebih cerdas, lebih bersemangat pergi ke sekolah. Karena kalau bukan itu yang terjadi, semua anggaran triliunan rupiah itu hanya jadi angka indah di atas kertas sementara anak-anak kita tetap jadi korbannya.
Niat baik saja tidak cukup. Sudah saatnya niat itu dibuktikan dengan kerja yang bersih, jujur dan benar-benar berpihak pada anak-anak yang dijadikan alasan utama program ini ada.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
