Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Annisa Azzahra Tanjung

MBG Mangkrak, Mahasiswa Bergerak

Politik | 2026-08-05 20:30:12

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan pemerintah untuk menekan stunting dan meningkatkan gizi anak sekolah kini menghadapi ujian berat. Sejumlah kasus keracunan dan dugaan penyimpangan membuat program ini bermasalah di lapangan. Di tengah itu, mahasiswa mulai mengambil peran sebagai "kontrol sosial" agar MBG tidak melenceng dari tujuan awal.

*MBG Bermasalah: Dari Keracunan hingga Tata Kelola*

Sejak awal 2025 hingga April 2026, data JPPI mencatat sedikitnya 33.626 pelajar mengalami keracunan yang diduga berasal dari menu MBG. Kejadian hampir terjadi setiap bulan di berbagai daerah.

Beberapa contoh kasus:

- *Jember, Jatim*: Puluhan siswa TK, guru, balita, hingga ibu hamil dirawat setelah menyantap MBG.

- *Surabaya*: 124 siswa dari 9 sekolah mengalami mual, muntah, dan diare.

- *Grobogan*: 803 orang terdampak, 54 masih rawat inap.

- *Bogor*: Hasil lab menemukan bakteri _E. coli_ dan _Salmonella_ pada menu MBG.

Selain soal kesehatan, tata kelola juga disorot. Kejagung menetapkan tersangka baru dari internal Badan Gizi Nasional terkait dugaan monopoli penjualan food tray dengan harga yang dinaikkan sepihak.

Pakar UGM menilai target 3.000 porsi per hari oleh SPPG melebihi kapasitas wajar dan menunjukkan ketidaksiapan sejak awal. Ombudsman Banten juga menyoroti SOP penyimpanan dan pengemasan yang lemah.

*Peran Mahasiswa: Dari Kampus ke Lapangan sebagai Kontrol Sosial*

Di tengah kekosongan pengawasan, mahasiswa hadir sebagai pengawas independen. Fungsi kontrol sosial mahasiswa tidak baru, tapi di isu MBG ini perannya makin konkret:

1. *Pengawasan dan Peliputan*

BEM dan UKM jurnalistik kampus turun ke sekolah-sekolah penerima MBG. Mereka mendokumentasikan kondisi makanan, mewawancarai siswa, guru, dan orang tua. Laporan ini kemudian diviralkan agar mendapat respons cepat dari Dinkes dan BGN.

2. *Aksi dan Advokasi Kebijakan*

Aliansi mahasiswa di beberapa kota menggelar aksi damai dengan tuntutan: wajibkan SLHS untuk semua SPPG, audit independen, dan transparansi anggaran MBG. Di Banten, desakan mahasiswa mendorong Ombudsman untuk mengawasi SOP MBG secara mendalam.

3. *Edukasi ke Sekolah dan Masyarakat*

Mahasiswa gizi dan kesehatan mengadakan penyuluhan tentang cara menyimpan makanan, mengenali tanda makanan basi, dan melaporkan jika ada keluhan. Ini penting karena dugaan keracunan juga dipicu kelalaian penyimpanan lebih dari 2 jam.

4. *Membangun Jaringan Pengaduan*

Beberapa kampus membuat posko pengaduan MBG via Google Form dan media sosial. Data yang terkumpul diteruskan ke Dinas Kesehatan, DPRD, dan media untuk ditindaklanjuti.

Menurut aktivis mahasiswa, kontrol sosial bukan berarti menolak MBG. "Kami mendukung programnya, tapi menolak pelaksanaannya yang ceroboh. Anak-anak berhak dapat makanan aman, bukan jadi kelinci percobaan," ujar salah satu koordinator aksi.

*Mengapa Peran Mahasiswa Penting?*

1. *Independen*: Mahasiswa tidak terikat kontrak dengan SPPG atau BGN, sehingga lebih berani bersuara.

2. *Dekat dengan data*: Kampus punya prodi gizi, kesehatan masyarakat, dan hukum yang bisa mengkaji dampak MBG secara ilmiah.

3. *Tekanan publik*: Suara mahasiswa cepat menyebar dan sering memaksa pemerintah bergerak lebih cepat dibanding birokrasi biasa.

Komnas HAM dalam 9 rekomendasinya juga menekankan pentingnya pelibatan masyarakat sipil untuk mengawasi MBG. Mahasiswa adalah bagian penting dari itu.

*Penutup*

MBG adalah program baik dengan niat baik. Tapi tanpa pengawasan, niat baik bisa melukai. Kasus keracunan berulang dan dugaan korupsi menunjukkan sistem belum siap.

Di sinilah mahasiswa mengisi celah. Dengan riset, aksi, dan edukasi, mereka menjalankan fungsi kontrol sosial agar MBG benar-benar sampai ke anak-anak dalam kondisi aman, bergizi, dan bebas dari kepentingan.

Pemerintah sudah menargetkan sertifikasi SLHS untuk semua SPPG dalam 1 bulan. Pertanyaannya: apakah pengawasan akan berhenti di kertas, atau akan terus dikawal dari bawah? Dan mahasiswa menjawab: kami akan terus mengawal.

---

Mau saya buatkan versi lebih pendek 300 kata untuk dimuat di media kampus, atau versi rilis pers dengan kutipan narasumber?

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image