Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image MUH. ZUNNURAIN

Muhammad Sang Nabi, Diutus Menjadi Penerang di Kala Manusia dalam Kegelapan

Agama | 2026-08-26 11:20:57
Foto: Pinterest

Muhammad lahir di kota Mekkah pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun gajah, bertepatan dengan tahun 571 Masehi, setelah manusia mulai meninggalkan ajaran tauhid yang dibawa Ibrahim dan Ismail. Kondisi zaman itu jauh dari kata baik, bahkan bisa dibilang mengerikan.

Bangsa Arab kala itu terjerembab dalam praktik penyembahan berhala, perbudakan dijadikan hal yang lumrah, dan perempuan diperlakukan bak barang tak bernilai. Bayi perempuan bahkan dikubur hidup-hidup oleh tangan ayahnya sendiri, semata karena dianggap aib dan beban keluarga. Di tengah kegelapan moral seperti itulah, cahaya kenabian mulai dipersiapkan oleh Allah untuk menyinari muka bumi yang telah lama pekat oleh kejahiliyahan.

Kelahiran Muhammad bukan sekadar peristiwa biasa dalam catatan sejarah, melainkan titik balik peradaban manusia yang kelak mengubah wajah dunia secara menyeluruh. Sejak masa kanak-kanak, Muhammad sudah menunjukkan kepribadian yang jauh berbeda dari lingkungannya. Ia dikenal jujur, dapat dipercaya, dan enggan larut dalam kebiasaan buruk masyarakat sekitarnya.

Gelar Al-Amin yang disematkan kepadanya bukan pemberian cuma-cuma, melainkan hasil dari pengamatan panjang orang-orang Quraisy terhadap perilakunya yang konsisten. Sifat semacam ini agaknya menjadi bekal awal, semacam fondasi karakter, sebelum akhirnya risalah kenabian benar-benar turun kepadanya.

Wahyu pertama turun ketika Muhammad berkhalwat di Gua Hira, jauh dari hiruk-pikuk kota yang penuh kemusyrikan. Peristiwa itu menjadi penanda dimulainya babak baru bagi umat manusia, sebuah revolusi keimanan yang lahir dari kesunyian gua yang sempit. Dari titik itulah, cahaya risalah mulai dipancarkan sedikit demi sedikit, meski jalan dakwah yang ditempuh sama sekali tidak mudah.

Ejekan, cemoohan, hingga ancaman fisik menjadi santapan sehari-hari bagi Nabi dan para pengikutnya di masa-masa awal. Namun, keteguhan hati sang Rasul tidak pernah goyah barang sedikit pun, seolah keimanan yang tertanam sudah begitu kokoh sejak semula.

Utusan Penuh Keteladanan

Muhammad diutus bukan hanya membawa kalam suci berupa Al-Qur'an, tetapi juga membawa contoh nyata bagaimana seharusnya manusia hidup berdampingan satu sama lain. Akhlaknya menjadi cerminan langsung dari ajaran yang dibawanya, sehingga Aisyah radhiyallahu anha pernah menggambarkan bahwa akhlak beliau adalah Al-Qur'an itu sendiri yang berjalan.

Sungguh gambaran yang luar biasa, sebab ini menunjukkan tidak adanya jarak antara apa yang diucapkan dengan apa yang dilakukan. Konsistensi semacam ini barangkali sulit ditemukan pada sosok pemimpin mana pun sepanjang sejarah peradaban manusia.

Keteladanan Muhammad tampak jelas dalam berbagai lini kehidupan, mulai dari cara beliau memperlakukan keluarga, tetangga, hingga musuh sekalipun.

Ketika Fathu Mekkah terjadi, saat beliau memiliki kekuasaan penuh untuk membalas dendam kepada orang-orang yang dahulu menyiksanya, justru pengampunan yang beliau pilih. Bukan pedang yang diayunkan, melainkan kata-kata pemaaf yang keluar dari lisannya.

Sikap semacam ini menjadi bukti nyata bahwa kekuasaan di tangan seorang nabi tidak pernah disalahgunakan untuk kepentingan pribadi, melainkan senantiasa diarahkan demi kemaslahatan bersama.

Dalam ranah sosial, Muhammad juga mengajarkan keadilan tanpa memandang status maupun garis keturunan seseorang. Beliau pernah bersabda dengan tegas bahwa sekiranya Fatimah putrinya sendiri mencuri, maka hukuman tetap akan ditegakkan atasnya.

Ketegasan seperti ini menunjukkan bahwa hukum dalam pandangan Islam berlaku sama rata, tidak pandang bulu, dan tidak bisa ditawar oleh kedekatan emosional maupun kekerabatan. Prinsip keadilan universal semacam ini agaknya menjadi salah satu warisan paling berharga yang beliau tinggalkan bagi umat manusia hingga saat ini.

Kepedulian Muhammad terhadap kaum lemah, fakir miskin, anak yatim, dan para budak juga patut menjadi renungan mendalam bagi generasi masa kini. Beliau tidak segan makan bersama pembantunya, menjahit sandalnya sendiri, bahkan turut membantu pekerjaan rumah tangga di sela kesibukannya sebagai pemimpin umat.

Kesederhanaan hidup semacam ini sungguh kontras dengan gaya hidup para penguasa zaman sekarang yang cenderung berjarak dengan rakyatnya. Barangkali di sinilah letak keteladanan sejati, bukan pada kemegahan simbol kekuasaan, melainkan pada kedekatan hati dengan mereka yang tertindas.

Nabi Terakhir Sang Penunjuk Arah

Muhammad merupakan penutup para nabi, khataman nabiyyin, yang risalahnya berlaku sepanjang zaman hingga hari kiamat kelak tiba. Tidak akan ada lagi nabi maupun rasul setelahnya, sehingga ajaran yang beliau bawa menjadi pedoman terakhir bagi seluruh umat manusia tanpa terkecuali.

Fakta ini semestinya menyadarkan kita betapa besar tanggung jawab yang diemban oleh setiap muslim untuk menjaga kemurnian risalah tersebut. Bukan sekadar warisan spiritual belaka, melainkan amanah besar yang harus terus dijaga dari generasi ke generasi.

Sebagai penunjuk arah, Muhammad memberikan pedoman hidup yang komprehensif, mencakup urusan ibadah, muamalah, hingga tata cara berinteraksi dengan sesama manusia dan alam sekitar. Ajaran yang dibawanya tidak kaku dan usang dimakan zaman, melainkan senantiasa relevan menjawab persoalan kekinian, asalkan dipahami dengan pendekatan yang tepat dan kontekstual. Umat akhir zaman yang hidup di tengah gempuran arus informasi dan modernitas sesungguhnya sangat membutuhkan pedoman semacam ini agar tidak kehilangan arah dan jati diri.

Ironisnya, di era yang serba canggih ini, justru banyak manusia yang kembali terjerumus dalam kegelapan bentuk baru. Bukan lagi kegelapan berupa penyembahan berhala secara fisik, melainkan kegelapan hati berupa individualisme, hedonisme, dan krisis moral yang kian mengkhawatirkan. Fenomena ini seolah menjadi pengulangan sejarah, meski dengan wajah dan kemasan yang jauh berbeda dari masa jahiliyah dahulu. Di sinilah relevansi sosok Muhammad kembali dibutuhkan sebagai kompas moral yang mengarahkan umat kembali kepada fitrahnya.

Peringatan Maulid Nabi semestinya tidak berhenti pada seremoni belaka, tanpa makna yang mengakar dalam kehidupan sehari-hari. Perayaan ini idealnya menjadi momentum refleksi mendalam, ajang muhasabah bagi setiap individu untuk mengukur sejauh mana keteladanan Rasulullah telah terinternalisasi dalam perilaku kesehariannya.

Sekadar mengadakan pengajian dan lantunan shalawat tanpa disertai perubahan sikap barangkali hanya akan menjadi rutinitas tahunan yang kehilangan ruh maknanya. Umat memerlukan lebih dari sekadar ritual simbolik semata.

Pada akhirnya, kehadiran Muhammad sebagai penerang di tengah kegelapan bukanlah kisah masa lampau yang sekadar layak dikenang, melainkan cahaya yang terus dibutuhkan sepanjang perjalanan peradaban manusia.

Umat akhir zaman yang tengah dilanda krisis keteladanan sudah semestinya kembali menoleh pada sosok agung ini, menjadikan akhlak dan risalahnya sebagai rujukan utama dalam menata kehidupan.

Bukan sekadar mengagumi dari kejauhan, tetapi berusaha meneladani dalam perilaku nyata sehari-hari. Sebab sejatinya, penerang itu tidak akan berguna apabila cahayanya hanya dikagumi tanpa pernah benar-benar diikuti jalannya.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image