Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image catatan pulang

Belajar Mati Agar Lebih Hidup: Sebuah Perjalanan Mengenal Jalan Pulang

Agama | 2026-04-12 13:34:17
Sumber gambar: https://nourabooks.co.id/mati-sebelum-mati-buka-kesadaran-hakiki/

Menginjak usia 25+, aku kerap kali mendapati diriku berdiri di persimpangan, mempertanyakan arah: ''Akan kemana aku membawa diriku dalam kehidupan ini?''. Di tengah riuhnya ekspektasi dan tuntutan zaman yang serba cepat, aku dipertemukan dengan buku karya Pak Fahruddin Faiz yang berjudul 'Mati Sebelum Mati: Buka Kesadaran Hakiki'. Buku ini membedah kearifan Jawa dengan cara yang menurutku sangat memikat, membuatku—yang merupakan suku Jawa asli—merasa malu sekaligus terpanggil. Ternyata, selama ini aku hanya tahu kulit dan namanya saja tanpa benar-benar menyentuh detak jantung maknanya.

Salah satu logika yang paling menampar kesadaranku di awal buku ini adalah tentang Wadah dan Isi. Bagi orang Jawa, segala sesuatu di alam semesta ini selalu memiliki dua sisi yang tidak terpisahkan: unsur lahir dan unsur batin. Mari kita bayangkan diri kita sendiri, tubuh fisik yang kita rawat sedemikian rupa ini hanyalah sebuah wadah atau cangkang. Sementara itu, hakikat sejati dari kemanusiaan justru terletak pada ruhaninya—sang penghuni di balik cangkang tersebut.

Cara pandang ini secara logis sangat selaras dengan prinsip Islam yang memisahkan antara Syariat dan Hakikat. Jika kita analogikan, syariat adalah wadahnya, sementara hakikat adalah isinya. Keduanya memang sama-sama penting; wadah diperlukan agar isinya tidak tumpah dan berantakan. Namun, tragedi terbesar dalam hidup manusia adalah ketika kita terlalu terpaku pada keindahan wadah hingga kita berhenti disitu dan kehilangan isinya. Kita rajin menjalankan ibadah ritual (wadah), tapi sering kali lupa menghadirkan hati (isi). Kita sibuk membangun citra lahiriah, namun membiarkan batin kita kerontang.

Logika ini kemudian menuntun kita pada kesadaran yang lebih luas melalui filosofi Sangkan Paraning Dumadi—mengetahui asal dan tujuan hidup ini. Dalam kearifan Jawa, ini bukan sekedar istilah, melainkan navigasi hidup untuk sadar sepenuhnya bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini tidak bersifat abadi. Di dalam Islam, kita mengenalnya dengan kalimat Innalillaahi wa inna ilaihi raaji'uun—sebuah pengakuan tulus bahwa kita berasal dari-Nya dan akan kembali kepada-Nya. Puncak dari segala kesadaran hakiki adalah ketika kita menyadari bahwa setiap langkah yang kita ambil hari ini sebenarnya adalah langkah pulang. Bahwa pada akhirnya, setelah semua wadah duniawi ini kita lepaskan, hanya "isi" atau ruhani kita yang akan kembali menghadap Sang Pencipta.

Meskipun budaya Jawa ini sudah sangat amat panjang sejarahnya, ternyata isinya masih tetap cukup relevan menghadapi gejolaknya dinamika hidup di zaman ini. Aku memutuskan untuk membuat resume buku ini dalam beberapa artikel ke depan (Insyaa Allah), karena seperti yang dinukil oleh Pak Faiz, "ilmu iku kelakone kanthi laku". Sebuah upaya untuk menitipkan peninggalan makna, agar setiap detik yang kulalui tidak hanya menjadi angka yang hilang, melainkan menjadi bekal untuk perjalanan "pulang" nanti.

_catatanpulang

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image