Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Ati rania

Tubuh Penari Bukan Konsumsi Publik

Sastra | 2026-05-08 16:18:49

Lancang Garam, Aceh — Dunia tari selama ini identik dengan keindahan gerak, ekspresi seni, dan pertunjukan budaya yang memukau. Namun di balik penampilan yang terlihat indah di atas panggung, banyak penari justru menghadapi persoalan serius yang sering luput dari perhatian masyarakat, yaitu objektifikasi terhadap tubuh mereka. Tidak sedikit penari yang merasa bahwa tubuh mereka lebih sering diperhatikan dibanding karya, teknik, dan pesan yang ingin disampaikan melalui tarian. Situasi ini menunjukkan bahwa sebagian masyarakat masih memandang tubuh penari sebagai sesuatu yang bebas dinilai dan dikomentari hanya karena mereka tampil di ruang publik.

Fenomena tersebut dapat ditemukan dalam berbagai bentuk. Mulai dari komentar mengenai bentuk tubuh, warna kulit, pakaian, hingga gerakan tari yang dianggap terlalu sensual. Bahkan, tidak jarang penari menerima siulan, candaan bernada seksual, atau perlakuan yang membuat mereka merasa tidak nyaman. Padahal, seorang penari tampil bukan untuk dijadikan objek pandangan yang merendahkan, melainkan untuk menyampaikan karya seni yang lahir dari latihan dan proses kreatif yang panjang. Ketika fokus publik lebih tertuju pada tubuh penari dibanding kualitas pertunjukannya, maka nilai seni yang sesungguhnya menjadi terabaikan.

Di sisi lain, para penari juga menghadapi tekanan standar tubuh yang dianggap ideal dalam dunia pertunjukan. Banyak dari mereka dituntut memiliki bentuk tubuh tertentu agar dianggap cocok tampil di atas panggung. Penilaian semacam ini sering memengaruhi kondisi mental penari karena mereka merasa harus memenuhi ekspektasi publik. Tidak sedikit penari yang akhirnya kehilangan rasa percaya diri akibat komentar negatif tentang penampilan fisik mereka. Padahal, tubuh bagi seorang penari merupakan bagian penting dari profesi yang harus dijaga kesehatannya melalui latihan rutin, disiplin, dan kerja keras.

Kondisi ini semakin diperparah dengan perkembangan media sosial. Rekaman pertunjukan tari yang diunggah ke internet sering kali mendapatkan komentar yang tidak pantas dan merendahkan. Potongan video penari kerap disebarkan tanpa izin, kemudian dijadikan bahan candaan atau objek seksual oleh sebagian pengguna media sosial. Akibatnya, banyak penari merasa tidak aman ketika karya mereka dipublikasikan secara luas. Beberapa bahkan memilih membatasi aktivitas di media sosial demi menjaga kesehatan mental dan privasi mereka.

Pengamat seni menilai bahwa objektifikasi terhadap penari tidak bisa dipisahkan dari pola pikir masyarakat yang masih memandang tubuh perempuan sebagai objek hiburan. Cara pandang ini membuat pelecehan verbal sering dianggap biasa dan dinormalisasi. Padahal, tidak ada profesi apa pun yang membuat seseorang kehilangan hak untuk dihormati. Penari tetap memiliki batas pribadi yang harus dijaga oleh siapa pun, termasuk penonton. Menghargai penari berarti menghormati karya, proses kreatif, serta martabat mereka sebagai manusia.

Karena itu, penting bagi masyarakat untuk mulai membangun kesadaran dalam menikmati pertunjukan seni secara lebih bijak. Apresiasi terhadap tari seharusnya diberikan pada teknik, makna, budaya, dan pesan yang disampaikan melalui pertunjukan, bukan pada tubuh penarinya. Selain itu, penonton juga perlu memahami batas antara mengagumi karya dan melakukan objektifikasi. Sikap saling menghormati di ruang pertunjukan maupun media sosial menjadi langkah penting untuk menciptakan lingkungan yang aman bagi para seniman.

Pada akhirnya, tubuh penari bukanlah konsumsi publik yang bebas dinilai sesuka hati. Penari adalah seniman yang bekerja melalui tubuh mereka untuk menghadirkan karya yang bermakna. Oleh sebab itu, sudah seharusnya masyarakat memandang para penari dengan rasa hormat, bukan menjadikan mereka objek komentar yang merendahkan martabat dan kemanusiaan mereka.

Penulis Arma Yunita

Mahasiswa ISBI Aceh

Program Studi Seni Tari

Semester 2

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image