Mahasiswa dan Arah Gerakan yang Dipertanyakan
Eduaksi | 2026-04-26 09:19:01
Mahasiswa kerap disebut agen perubahan. Namun di tengah derasnya arus informasi dan kompleksitas realitas sosial hari ini, pertanyaan mendasarnya justru makin relevan: apakah mahasiswa masih benar-benar bergerak, atau hanya sibuk dengan aktivitas kesehariannya saja?
Keresahan itu menjadi titik berangkat digelarnya Workshop Akademi Pergerakan bertajuk “Rekonstruksi Kesadaran Politik dalam Gerakan Mahasiswa” di Aula Kampus STAI Dirosat Islamiyah Al Hikmah Jakarta.
Selama dua hari, Sabtu siang–malam (25/4/2026) dan Ahad pagi–siang (26/4/2026), forum ini mencoba menjawab kegelisahan tersebut dengan menghadirkan ruang belajar yang tidak hanya membahas teori, tetapi juga mendorong mahasiswa berpikir kritis dan bergerak secara strategis.
Kegiatan yang diselenggarakan oleh BEM STAI DI Al Hikmah Jakarta di bawah koordinasi Departemen Pergerakan Sosial ini menghadirkan empat narasumber mantan aktivis mahasiswa untuk mengisi dua sesi diskusi setiap harinya. Fokus pembahasan mencakup penguatan nalar kritis, seni advokasi, hingga strategi gerakan mahasiswa dalam merespons dinamika sosial-politik yang terus berubah.
Lebih dari sekadar forum diskusi, kegiatan ini diposisikan sebagai ruang refleksi untuk menata ulang cara berpikir dan bergerak mahasiswa. Peserta tidak hanya diajak memahami realitas sosial, tetapi juga didorong untuk mengambil peran sebagai aktor perubahan yang mampu menyuarakan isu secara terarah dan berbasis analisis.
Ketua panitia, Muhammad Abyan Mustaqim, menegaskan bahwa kegiatan ini bertujuan membangkitkan kembali kesadaran mahasiswa terhadap perannya di tengah masyarakat. “Kami ingin mahasiswa lebih aware dengan posisinya sebagai bagian dari masyarakat yang punya tanggung jawab sosial, serta tidak gagap ketika berdiskusi tentang isu-isu sosial politik,” ujarnya.
Hari pertama difokuskan pada pembentukan pola pikir kritis dan pemahaman historis pergerakan mahasiswa, sementara hari kedua diarahkan pada pembahasan strategi gerakan dan tantangan aktual di era kontemporer.
Dalam sesi Critical Thinking, narasumber Angga Ragner S. Sos. menekankan bahwa berpikir kritis bukan sekadar sikap menentang, melainkan kemampuan membangun argumen yang kuat dan berbasis data. “Berpikir kritis bukan berarti menjadi pemberontak, tetapi memiliki landasan yang kokoh dalam menyampaikan persoalan secara terstruktur dan didukung fakta,” ujarnya.
Kegiatan berlangsung melalui kombinasi pemaparan materi, diskusi kelompok terarah (FGD), hingga simulasi aksi lapangan. Peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga diminta mengidentifikasi persoalan nyata, memilah fakta dan opini, serta merumuskan solusi berbasis data sebelum mempresentasikannya di forum. Proses ini sekaligus menguji ketahanan argumen peserta saat menghadapi kritik dan sanggahan dari kelompok lain.
Dalam dinamika tersebut, forum tidak hanya menjadi ruang belajar, tetapi juga arena uji nalar. Perbedaan pandangan tidak dihindari, justru dipertemukan untuk melatih keberanian berpikir sekaligus kedewasaan dalam berdialog. Dari sini, mahasiswa didorong untuk tidak berhenti pada pemahaman, tetapi melangkah pada keberanian mengambil posisi.
Sejumlah isu aktual turut mengemuka, mulai dari kesenjangan informasi dalam dunia pendidikan hingga lemahnya daya dorong gerakan mahasiswa di tingkat akar rumput. Diskusi berkembang menjadi ruang dialektika yang mempertemukan pengalaman, data, dan kegelisahan kolektif peserta.
Salah satu peserta, Muhammad Ammar, mengaku mendapatkan perspektif baru dari kegiatan tersebut. “Saya jadi lebih memahami posisi mahasiswa sebagai pionir dalam mengangkat isu-isu masyarakat, terutama dalam hal advokasi,” ungkapnya.
Pada sesi Seni Advokasi, narasumber Edius Pratama S.H. menyoroti pentingnya pendekatan yang terukur dalam gerakan mahasiswa. Ia mengingatkan bahwa perubahan tidak cukup hanya dengan semangat, tetapi membutuhkan strategi yang matang. “Mahasiswa harus mampu membuat perubahan dengan isi kepala, bukan cuma berteriak tanpa arah. Ketika menghadapi ketidakadilan, respons kita harus berupa advokasi yang taktis dan terstruktur, bukan aksi emosional” tegasnya.
Lebih jauh, kegiatan ini menekankan bahwa gerakan mahasiswa tidak bisa dilepaskan dari kemampuan membaca realitas secara utuh. Tanpa analisis yang kuat, gerakan berisiko kehilangan arah dan hanya menjadi respons sesaat tanpa dampak jangka panjang.
Panitia berharap kegiatan ini tidak berhenti sebagai forum diskusi semata, tetapi mampu melahirkan gerakan mahasiswa yang lebih kritis, terarah, dan berdampak nyata. Terlebih, pada hari kedua peserta dijadwalkan mengikuti simulasi aksi sebagai bentuk praktik langsung dari materi yang telah dipelajari.
Melalui Akademi Pergerakan 2026, mahasiswa diharapkan tidak hanya memahami konsep kesadaran politik secara teoritis, tetapi juga mampu mengaktualisasikannya dalam kehidupan kampus dan masyarakat luas - tidak sekadar hadir dalam wacana, tetapi juga nyata dalam tindakan.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
