Kamu Curhat ke AI, AI-nya Ngumbar Curhatanmu ke Meta
Teknologi | 2026-04-19 17:36:57
Ada yang lebih sakit dari dikhianati teman? Dikhianati chatbot yang kamu percaya buat nanya soal kesehatan.
Tanggal 31 Maret 2026, seseorang bernama John Doe (nama samaran) mengajukan gugatan class action di pengadilan federal California. Targetnya: Perplexity AI, Meta, dan Google sekaligus. Isi tuduhannya cukup bikin dahi berkerut. Menurut dokumen gugatan, Perplexity diduga secara diam-diam mengirimkan transkrip percakapan pengguna langsung ke server Meta dan Google, termasuk percakapan yang menyangkut kondisi kesehatan, strategi keuangan, sampai urusan investasi pribadi.
Yang lebih parah menurut gugatan itu: ini diduga terjadi bahkan saat mode "Incognito" aktif.
Perplexity memasarkan fitur itu sebagai cara buat chat tanpa riwayat tersimpan, aman, privat, bersih. Pada 9 April 2026, firma privasi Privado AI menerbitkan audit teknis yang menemukan bahwa pelacakan memang terjadi di sisi server lewat Meta Conversions API (CAPI), bukan di peramban. Inilah yang bikin ia tidak terdeteksi oleh ad-blocker atau pengaturan privasi browser biasa. Kamu aktifkan mode incognito, merasa aman, tapi data tetap keluar dari pintu belakang.
John Doe sendiri, menurut dokumen gugatan, menggunakan Perplexity untuk nanya soal waktu penarikan jaminan sosial, strategi konversi rekening ke Roth IRA, dan investasi di perusahaan ganja. Setiap kali dia ngetik pertanyaan, transkrip itu diduga langsung diteruskan ke Meta dan Google. Gugatan ini menuntut ganti rugi sebesar $5.000 per pelanggaran. Dengan jutaan pengguna aktif Perplexity, angkanya bisa jadi ancaman eksistensial buat perusahaan.
Perplexity sendiri, melalui Chief Communications Officer Jesse Dwyer, menyatakan bahwa mereka belum menerima salinan resmi gugatan dan tidak bisa memverifikasi klaim tersebut saat berita pertama kali pecah. Kasus ini masih dalam tahap awal dan belum ada putusan pengadilan. Tapi justru di situlah masalahnya.
Ini bukan cuma soal data bocor. Ini soal kepercayaan yang diduga sengaja dimanipulasi.
Perplexity adalah perusahaan senilai $20 miliar setelah putaran pendanaan besar akhir 2025. Pada Februari 2026, mereka secara publik mengumumkan penghentian model iklan, seolah lebih peduli pada kualitas jawaban daripada uang. Gugatan ini justru menuduh hal sebaliknya: infrastruktur pelacakan diduga tetap jalan di balik layar, menyuplai data pengguna ke ekosistem iklan Meta dan Google, diam-diam.
Posisi saya jelas: kalau tuduhan ini terbukti benar, ini bukan kelalaian teknis. Sistem pelacak sisi server seperti CAPI tidak terpasang sendiri. Itu bukan bug. Itu pilihan.
Untuk anak muda yang sehari-hari pakai AI buat nanya soal gejala penyakit, kondisi keuangan, atau dilema pribadi yang tidak berani ditanyain ke orang sekitar, ini langsung relevan. Kita cenderung lebih terbuka ke chatbot daripada ke mesin pencari biasa. Kita nulis kalimat lengkap. Kita cerita konteks. Kita kasih detail. Dan justru di situlah eksploitasinya paling efektif: semakin personal pertanyaanmu, semakin berharga datanya buat pengiklan.
Jadi, pertanyaan yang perlu kamu tanyakan bukan cuma "apakah AI ini pintar?" tapi "siapa yang baca semua yang aku ketik?"
Karena ternyata, jawaban atas pertanyaan itu mungkin bukan cuma perusahaan AI-nya.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
