Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Amira Abdul Rahim

Kenapa Orang Bisa Lama Balas Chat? Ini Penjelasan Psikologisnya

Leisure | 2026-06-01 23:00:41
Ilustrasi Mengirim Pesan. Foto oleh RDNE Stock project dari Pexels: https://www.pexels.com/photo/love-coffee-cup-relaxation-6669782/

Di era informasi modern, pesan instan sudah menjadi kebiasaan lumrah yang mudah diakses semua orang. Namun kebiasaan komunikasi instan ini kemudian menimbulkan paradoks, meski pesan dapat terkirim secara real time, balasannya bisa datang setelah berjam-jam, atau bahkan berhari-hari kemudian. Alasannya tentu bervariasi, boleh jadi karena kesibukan, lupa, atau notifikasi yang tidak masuk.

Tapi seringkali kita dapati orang lain, atau mungkin diri kita sendiri, yang tetap lama atau bahkan tidak membalas pesan meski memiliki waktu luang Hal ini kemudian menimbulkan pertanyaan, kenapa orang bisa lama sekali membalas chat? Padahal mengirim pesan itu sangat mudah, hanya butuh beberapa detik untuk mengetik di layar dan mengirimnya, lantas kenapa melakukan hal yang ringan ini bisa terasa begitu berat bagi sebagian orang?

Fenomena ini ternyata sudah menarik perhatian beberapa peneliti yang kemudian menemukan penjelasan psikologis dibaliknya.

Communication Overload: Ketika Kapasitas Komunikasi Terlampaui

Setiap manusia memiliki kapasitas tersendiri dalam menerima informasi sosial yang masuk. Ketika volume komunikasi yang masuk melampaui batas, seseorang mengalami apa yang disebut dengan Communication Overload.

Yang menarik, di era teknologi informasi modern ini communication overload tidak hanya disebabkan oleh banjirnya pesan masuk saja, tapi bisa juga dari perasaan diuntut untuk mengambil keputusan, perasaan wajib membalas, kualitas pesan yang buruk, pesan yang menumpuk, banyaknya distraksi, atau platform yang terlalu banyak (Stephens, dkk., 2017).

Temuan Stephens dkk. (2017) bahwa ketersediaan untuk membalas pesan menimbulkan ekspektasi dari lawan bicara untuk selalu membalas, mengakibatkan pengirim menjadi tertekan karena merasa bertanggung jawab untuk selalu available. Beratnya ekspektasi inilah menjadi penyebab umum mengapa banyak orang semakin menghindari membalas pesan.

Jika seseorang sudah mengalami overload, umumnya mereka akan mulai menyaring informasi yang masuk, hanya menjawab yang menurut mereka penting. Respon yang diberikan juga menjadi singkat, atau bahkan tidak dibalas sama sekali.

Instant Messaging Fatigue

Tingginya communication overload dalam penggunaan pesan instan menimbulkan terjadinnya Instant Messaging Fatigue. Sun & Lee (2021) mendefinisikan instant messaging fatigue sebagai perasaan lelah dan kelelahan yang muncul dari penggunaan pesan instan. Pemicunya bukan hanya communication overload, tapi juga dari social overload, yaitu fenomena ketika seseorang merasa terlalu banyak menanggung urusan sosial orang lain melalui platform pesan instan, mulai dari menghibur, membantu masalah, hingga sekadar merespon ucapan selamat yang datang bertubi-tubi.

Ketika kelelahan ini terjadi, individu bukan lagi menunda-nunda untuk membalas, tapi semakin ingin berhenti menggunakan aplikasi pesan instan sepenuhnya.

Bagaimana Mengatasinya?

Perkembangan teknologi informasi telah mengaburkan batas ruang dan waktu, mengubah drastis cara manusia berinteraksi. Informasi terus mengalir deras, menimbulkan kelelahan psikologis yang berujung menjadi perilaku mengabaikan dan menunda membalas pesan yang sering kita temui di sekitar kita.

Untuk itu, kita perlu beradaptasi dengan perkembangan yang ada. Ada beberapa langkah praktis yang bisa kita biasakan untuk mengatasi hal ini.

 

  1. Terapkan batasan waktu dalam membuka platform pesan.
  2. Manfaatkan mode jangan ganggu.
  3. Sadari bahwa selalu available bukanlah kewajiban.

-----------------------------------------------------------------------------------------------------

Ditulis oleh: Amira Abdul Rahim dan Dr. Rachmat Mulyono, M.Si., Psikolog

Referensi:

Stephens, dkk., (2017)Reconceptualizing Communication Overload and Building a Theoretical Foundation

Sun, Y., & Lee, S. (2021). Flooded with too many messages: Predictors and consequences of instant messaging fatigue

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image