Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Zata Iwan

Penjelasan Psikologis Terkait Bahaya di Balik Doomscrolling!

Gaya Hidup | 2026-07-14 00:25:57
Sumber: Bright Canary (ilustrasi orang yang sedang melakukan doomscrolling)

Apa Itu Doomscrolling?

Pernah gak sih kalian cuma mau cek hp sebentar tiba‑tiba waktu berjam-jam berlalu dada terasa sesak dan semua yang kamu baca makin bikin takut?, selamat datang di doomscrolling sebuah perangkap layar yang menguras energi dan menenggelamkan pikiran.

Doomscrolling adalah kebiasaan terus‑menerus menggulung feed media sosial atau berita, fokus pada kabar buruk tanpa jeda dan perilaku ini berhubungan kuat dengan meningkatnya kecemasan.

Kelelahan emosional dan gangguan tidur, juga sering dialami pengguna media sosial di era modern dampak negatifnya muncul karena mekanisme otak yang merespons imbalan tidak terduga.

Desain platform yang sengaja, dirancang tanpa tanda berhenti dan kondisi emosional pengguna yang mencari kepastian di tengah ketidakpastian.

Dr. Sabia Usman Dosen Fakultas Ilmu Media Universitas Iqra Karachi Pakistan dalam jurnalnya menjelaskan, doomscrolling diartikan sebagai scrolling terus-menerus untuk melihat berita atau konten di media sosial.

Umumnya seseorang menghabiskan waktu berjam-jam, mengkonsumsi konten yang mempengaruhi kondisi emosionalnya.

Dalam Jurnal berjudul “Dampak Doom Scrolling terhadap Kesejahteraan Mental Mahasiswa Media di Karachi” itu dijelaskan, doomscrolling memang telah lama dianggap sebagai masalah psikologis yang sudah menjadi pembahasan internasional.

Kenapa Banyak Orang yang Terjebak?

Sistem feedback variable di mana otak memberi sinyal positif (dopamin) ketika menemukan konten menarik secara tak terduga, sehingga ketidakpastian reward membuat kita terus berharap ada yang bagus di scroll berikutnya mirip mekanisme mesin judi.

Ini memperpanjang sesi scrolling tanpa niat jelas, desain antarmuka yang disengaja fitur seperti infinite scroll dan notifikasi menghapus batasan alami waktu.

Tanpa batasan visual atau interaksi yang memaksa berhenti pengguna lebih mudah kehilangan jejak waktu, kemudian faktor emosional seperti rasa takut ketinggalan (FOMO), kecemasan atau kebutuhan untuk memeriksa ancaman.

Mengutip dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, negara kita termasuk dalam 4 negara dengan jumlah pengguna media sosial terbanyak di dunia.

Gen Z menjadi kelompok yang paling aktif di di mana mereka bisa menghabiskan waktu 6 jam per hari untuk bermain media sosial, bahkan 5% di antara mereka bisa menghabiskan hingga 10 jam dalam sehari.

Dalam artikel berjudul “Doomscrolling dan Dampaknya bagi Kesehatan Mental” itu dijelaskan, platform yang paling banyak digunakan Gen Z Indonesia adalah Instagram.

Setelah itu baru disusul platform lain seperti Tiktok, X, dan Facebook, tanpa disadari kebiasaan inilah yang kemudian menimbulkan doomscrolling atau mengakses konten-konten yang tidak jelas tanpa henti.

Seperti berita tentang bencana, konflik sosial-politik, atau ancaman teror walaupun berita-berita seperti itu membuat kita cemas tapi kita tetap menontonnya.

Siapa yang Bertanggung Jawab?

Perusahaan platform memiliki peran besar di mana model bisnis mereka mengandalkan iklan yang didapat dari perhatian panjang, sehingga tim produk sering mengoptimalkan retensi melalui teknik desain perilaku (persuasive design) dan algoritma.

Rekomendasi konten yang memprioritaskan keterlibatan bukan kesehatan mental pengguna, namun faktornya tidak tunggal regulator yang lemah memungkinkan praktik ini terus ada.

Sementara pengguna juga memikul tanggung jawab personal lewat literasi digital dan pengaturan diri, banyak elemen sistemik membuat platform cenderung berfungsi seperti “candu” bagi otak.

Meski tidak selalu ada niat eksplisit untuk membuat pengguna menderita, keuntungan ekonomi dan mekanisme desain platformlah yang mendorong fenomena ini.

Mengutip dari Alodokter doomscrolling lebih sering dialami oleh orang-orang yang memiliki gangguan mental tertentu seperti PTSD, OCD, gangguan kecemasan, dan fobia sosial.

Banyak orang yang menganggap berita buruk membuat mereka lebih hati-hati, tapi jika terlalu sering membaca berita negatif justru memunculkan kecemasan dan ketakutan berlebihan.

Dalam artikel berjudul “Mengenal Doomscrolling dan Bahaya yang Mengintai” itu dijelaskan, kebiasaan ini juga membuat seseorang dibayang-bayangi pikiran negatif yang bisa mengakibatkan stres, tertekan, dan ketakutan berlebihan.

Hal ini menganggu aktivitas sehari-hari sehingga menurunkan kualitas hidup seseorang, tidak hanya itu berbagai penelitian telah membuktikan doomscrolling meningkatkan risiko gangguan mental.

Cara Keluar dari Doomscrolling

Batasi akses teknis unakan batas waktu aplikasi (screen time) atau matikan notifikasi non‑prioritas, menetapkan durasi sesi misalnya 20 menit membantu memberi jeda yang diperlukan otak.

Buka dengan tujuan tentukan niat sebelum membuka 1–2 artikel terpercaya lalu tutup hindari membuka “hanya ingin lihat” tanpa tujuan, kemudian hapus trigger desain gunakan aplikasi berita terkurasi atau mode baca tanpa rekomendasi dan hindari feed tidak jelas.

Latih kesadaran seperti teknik napas, grounding, atau jeda 60 detik setiap kali merasa terdorong dapat memutus scrolling otomatis.

Ganti kebiasaan siapkan alternatif sederhana seperti jalan santai, menulis 5 menit, telepon teman, atau membaca buku untuk menggalihkan dorongan scrolling berjam-jam.

Muhamad Ali Wahyu Dwi Laksono Penulis Jurnal Psikologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang menjelaskan, fenomena ini muncul seirng peningkatan ketergantungan manusia pada media sosial khususnya di masa pademi Covid-19.

Hal ini mengakibatkan lonjakan konsumsi berita-berita negatif sebesar 40%, aktivitas scrolling konten negatif berjam-jam umumnya dipicu oleh keinginan mencari kepastian.

Bayangkan kamu buka aplikasi untuk cek skor pertandingan, namun muncul banyak postingan politik dan berita bencana perasaan gelisah muncul.

Kamu scrolling untuk mencari yang “membuat lega” lalu 2 jam kemudian merasa lebih cemas, Itu pola doomscrolling dimulai dari niat kecil kemudian diperkuat oleh desain dan respons otak, berujung pada peningkatan stres.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image