Gen Z Tidak Malas, Mereka Hanya Lelah Menanggung Tekanan yang tidak Terlihat
Curhat | 2026-08-05 18:18:32
"Dasar anak zaman sekarang, maunya rebahan terus."Kalimat seperti itu mungkin sudah terlalu sering didengar oleh generasi saat ini. Tidak sedikit Gen Z yang dianggap malas hanya karena memilih beristirahat, menolak lembur, atau sesekali menghilang dari media sosial. Padahal, di balik semua itu, banyak dari mereka yang sedang berjuang menghadapi tekanan yang tidak terlihat oleh siapa pun.Gen Z hidup di era ketika semuanya bergerak begitu cepat. Bangun tidur, media sosial sudah dipenuhi kabar teman yang baru lulus, diterima kerja, membeli rumah, menikah, membuka usaha, hingga berlibur ke luar negeri. Tanpa sadar, setiap hari mereka membandingkan hidupnya sendiri dengan potongan kehidupan orang lain yang terlihat sempurna.Di saat yang sama, tuntutan juga datang dari berbagai arah. Orang tua berharap anaknya segera sukses. Lingkungan menanyakan kapan mendapat pekerjaan tetap. Dunia kerja meminta pengalaman, sementara banyak lulusan baru bahkan belum diberi kesempatan untuk memulai. Belum lagi tekanan ekonomi yang membuat biaya hidup terus meningkat, sedangkan penghasilan sering kali terasa tidak sebanding.Akibatnya, banyak Gen Z merasa harus terus berlari agar tidak tertinggal. Mereka memaksakan diri untuk selalu produktif, mengikuti kursus, membangun personal branding, mencari penghasilan tambahan, hingga tetap tersenyum meski sebenarnya sedang kelelahan.Ironisnya, ketika mereka memilih berhenti sejenak untuk beristirahat, justru muncul anggapan bahwa mereka malas.Padahal, kelelahan tidak selalu terlihat dari tubuh yang berkeringat. Ada kelelahan yang lahir karena pikiran yang tidak pernah benar-benar tenang. Ada rasa lelah karena terus memikirkan masa depan, takut mengecewakan keluarga, takut gagal, takut tertinggal, bahkan takut tidak pernah cukup baik.Banyak Gen Z tetap bekerja setiap hari sambil diam-diam menyimpan kecemasan. Mereka tetap tersenyum di depan orang lain, tetapi setiap malam memikirkan apakah hidupnya akan baik-baik saja beberapa tahun lagi.Inilah tekanan yang sering kali tidak terlihat.Di sisi lain, media sosial juga menciptakan standar baru yang sulit dihindari. Seolah-olah usia 23 harus sudah mapan, usia 25 harus punya karier yang jelas, dan sebelum usia 30 semua mimpi harus tercapai. Padahal setiap orang memiliki garis waktu yang berbeda.Tidak ada yang salah jika perjalanan seseorang lebih lambat. Tidak ada yang salah jika hari ini masih berproses. Hidup bukan perlombaan yang menentukan siapa yang paling cepat sampai, melainkan perjalanan panjang untuk menemukan versi terbaik dari diri sendiri.Bukan berarti Gen Z tidak mau bekerja keras. Justru banyak dari mereka bekerja sambil belajar, membantu keluarga, mengejar mimpi, bahkan berusaha bertahan di tengah ketidakpastian ekonomi. Hanya saja, mereka juga manusia yang bisa merasa lelah.Mungkin sudah saatnya kita berhenti melabeli satu generasi sebagai "malas". Sebab yang terlihat sebagai kemalasan, bisa jadi hanyalah seseorang yang sedang berusaha bertahan dari tekanan yang tidak pernah kita lihat.Karena terkadang, seseorang tidak membutuhkan ceramah agar lebih rajin. Mereka hanya membutuhkan sedikit pengertian bahwa menjadi kuat setiap hari juga bisa melelahkan.
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.