Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image umar arsyad

Menyimak, Menulis, dan Menjaga Makna: Pentingnya Pelajaran Imla di Gontor

Pendidikan dan Literasi | 2026-07-15 17:13:08
Suasana ujian bulanan pelajaran imla para santri di Pondok Modern Darussalam Gontor Kampus 2. (Sumber: dokumentasi pribadi)

“100 persen pelajaran agama dan 100 persen pelajaran umum.”

Inilah perkataan yang diungkapkan oleh KH. Imam Zarkasyi, menjawab pertanyaan Soeharto yang saat itu sedang mengunjungi Pondok Modern Darussalam Gontor pada Tahun 19-an.

Gontor dengan kemandirian sistem pendidikan dan pengajarannya telah mencapai titik puncak kesuksesan para santrinya dalam mengecam ilmu di pondok. Hal ini telah ada sejak 100 tahun silam lamanya.

Gontor dengan kemandirian sistem pendidikan dan pengajarannya, telah membuktikan keberhasilannya dalam membina para santri menimba ilmu di pondok selama lebih dari seratus tahun.

Pelajaran imla merupakan salah satu pelajaran yang diajarkan kepada para santri di Pondok Modern Darussalam Gontor.

Tujuan dari pelajaran ini adalah untuk membiasakan para santri dalam mendengarkan kotakata bahasa Arab, bahkan melatih penulisannya dengan baik dan benar.

Dari sinilah pelajaran imla tidak hanya berfungsi sebagai latihan menulis, tetapi juga sebagai sarana untuk mengasah pendengaran dan ketepatan santri dalam berbahasa Arab.

Imla: Melatih Pendengaran dan Menulis Arab dengan Benar

Pelajaran imla di Gontor memiliki peran penting dalam membiasakan santri mendengarkan bahasa Arab dengan saksama. Setiap kata yang diucapkan oleh guru harus ditangkap dengan teliti agar dapat ditulis secara tepat.

Dari proses ini, santri tidak hanya belajar mendengar, tetapi juga memahami bunyi dan susunan kata dalam bahasa Arab. Karena itu, imla menjadi latihan awal yang penting dalam pembelajaran berbahasa.

Selain melatih pendengaran, imla juga membiasakan santri menulis bahasa Arab dengan baik dan benar. Kesalahan kecil dalam huruf, harakat, atau susunan kata dapat memengaruhi bentuk tulisan, bahkan maknanya.

Melalui latihan ini, santri diajak untuk lebih teliti dalam menulis serta tidak tergesa-gesa dalam menangkap pelajaran. Dengan demikian, imla menjadi sarana penting untuk membangun ketepatan berbahasa Arab sejak usia dini.

Membiasakan Santri Untuk Fokus dalam Belajar

Di balik pembelajaran yang sederhana, pelajaran imla sesungguhnya mengajarkan santri untuk fokus dalam belajar. Ketika guru mendiktekan kalimat, santri dituntut untuk memusatkan perhatian agar tidak tertinggal satu kata pun.

Jika lengah sedikit saja, tulisan yang dihasilkan bisa salah atau tidak lengkap. Dari sinilah imla melatih konsentrasi santri secara langsung dalam suasana belajar.

Kebiasaan fokus yang dibangun melalui imla menjadi bekal penting bagi santri dalam menuntut ilmu di pesantren. Santri belajar bahwa memahami pelajaran tidak cukup hanya dengan hadir di kelas, tetapi juga dengan kesungguhan dalam menyimak dan mencatat.

Karena pada hakikatnya, “Al-ilmu soydun wal kitabatu qoyduhu.” Yang berarti, “Ilmu itu ibarat hewan buruan, dan menulis adalah ikatannya.”

Imla membentuk sikap belajar yang disiplin, sabar, dan penuh perhatian terhadap detail. Inilah yang menjadikan pelajaran imla tampak sederhana, tetapi memiliki nilai pendidikan yang besar.

Pada akhirnya, pelajaran imla di Pondok Modern Darussalam Gontor bukan sekadar latihan menulis kosa kata Arab, melainkan bagian dari pendidikan yang membentuk ketelitian, konsentrasi, dan tanggung jawab santri dalam belajar.

Melalui imla, santri diajarkan untuk menyimak dengan saksama, menulis dengan benar, serta memahami bahwa setiap huruf memiliki makna yang harus dijaga.

Di tengah kebiasaan serba cepat pada era digital, pelajaran seperti ini justru menjadi pengingat bahwa ilmu tidak cukup hanya dipahami, tetapi juga harus diikat dengan ketekunan dan ketepatan.

Karena itu, imla patut dipandang sebagai pelajaran penting yang ikut menopang tradisi keilmuan dan pembentukan karakter santri di Gontor.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image