Mengabdi Tanpa Meninggalkan: Menjaga Negara, Menjaga Keluarga
Pendidikan dan Literasi | 2026-04-07 09:32:52Kesetaraan gender sering dipahami sebagai kesempatan yang sama dalam dunia kerja. Dalam pengalaman saya, kesetaraan justru memperluas tanggung jawab karena wanita tidak hanya dituntut profesional, tetapi juga tetap menjalankan peran sebagai istri dan ibu secara utuh. Dalam konteks bela negara, kesetaraan tidak berhenti pada akses terhadap pekerjaan, tetapi pada kesiapan untuk berkontribusi secara maksimal di berbagai peran yang dijalankan secara bersamaan. Pada titik ini, kesetaraan membuat wanita bekerja lebih keras, dengan toleransi yang tetap ada namun terbatas dan tidak mengurangi tuntutan utama.
Perjalanan saya tidak langsung menuju posisi saat ini. Saya pernah bekerja di Kantor Akuntan Publik, kemudian di perusahaan BUMN, dan pada akhirnya memilih menjadi aparatur sipil negara di salah satu kota kecil. Dalam proses tersebut, saya sampai pada satu kesadaran penting bahwa saya harus melepaskan sebagian dari mimpi saya. Sejak awal, saya bercita-cita menjadi auditor di Kantor Akuntan Publik dan saya sudah menjalaninya, memahami ritme kerja, tuntutan, serta konsekuensinya. Namun, pada kondisi saya saat ini sebagai seorang ibu, saya menyadari bahwa saya tidak mampu menjalankan peran tersebut secara utuh karena waktu yang tersita, mobilitas yang tinggi, dan tekanan pekerjaan akan membuat saya kehilangan ruang untuk keluarga. Jika saya memaksakan, saya akan terus hidup dengan perasaan bersalah.
Keputusan untuk meninggalkan jalur tersebut bukan keputusan yang mudah. Ada proses menerima bahwa tidak semua yang kita inginkan dapat dijalankan dalam setiap fase kehidupan. Saya tidak gagal, tetapi saya menyesuaikan diri dengan realitas yang ada. Dalam penyesuaian tersebut, saya menemukan bahwa menjadi ASN adalah pilihan terbaik yang saat ini bisa saya ambil. Bagi sebagian orang, menjadi ASN mungkin terlihat sebagai jalan yang lebih aman, tetapi bagi saya ini bukan pilihan yang mudah karena saya tetap harus berproses, beradaptasi, dan membuktikan diri. Saya juga menyadari bahwa kesempatan ini tidak datang begitu saja, banyak orang yang berjuang keras untuk berada di posisi ini.
Karena itu, saya memandang posisi saya saat ini sebagai sebuah amanah. Saya merasa memiliki hutang kepada negara karena negara telah memberikan saya ruang untuk tetap bekerja, tetap berkembang, dan tetap menjalankan peran dalam keluarga dengan lebih seimbang dibandingkan jika saya berada di sektor swasta dengan tuntutan yang lebih tinggi. Saya bersyukur atas kesempatan ini karena saya diberi ruang untuk tetap mencintai diri saya sebagai individu, tetap mencintai keluarga saya dengan hadir secara nyata, serta tetap mencintai ilmu dan profesi saya sebagai auditor, meskipun dalam bentuk yang berbeda.
Sebagai ASN di Inspektorat, saya tetap menjalankan fungsi sebagai auditor dan menggunakan kompetensi yang saya miliki untuk berkontribusi dalam menjaga tata kelola pemerintahan. Di sisi lain, saya juga tetap menjalankan peran sebagai istri dan ibu, yang berarti saya harus terus membagi waktu, tenaga, dan pikiran dalam kondisi yang tidak selalu ideal. Saya masih merasakan lelah, saya masih harus berkorban, dan saya harus terus menyesuaikan diri setiap hari. Saya sering memanfaatkan waktu istirahat siang hanya untuk bertemu anak, sekadar menyapa dan melepas rindu, dengan konsekuensi mengorbankan waktu untuk bersosialisasi dengan rekan kerja. Hal-hal kecil seperti ini menjadi bentuk nyata dari usaha menjaga semua peran tetap berjalan.
Dalam perspektif bela negara, apa yang saya lakukan mungkin terlihat sederhana, tetapi bagi saya ini adalah bentuk pengabdian yang nyata. Bela negara tidak selalu hadir dalam tindakan besar, tetapi dalam konsistensi menjalankan tanggung jawab. Saya bekerja dengan jujur, menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab, menjaga keluarga saya tetap kuat, dan membesarkan anak saya dengan nilai yang baik. Dalam proses ini, saya mengorbankan banyak hal. Saya mengorbankan sebagian mimpi karier saya, saya mengorbankan waktu pribadi, dan pada saat tertentu saya juga harus mengorbankan waktu bersama keluarga untuk pekerjaan. Saya menjalankan banyak peran dalam satu waktu, tidak sempurna, tetapi dengan upaya maksimal yang sering kali terasa melampaui kapasitas saya sendiri.
Pesan ini saya tulis di tengah proses bela negara yang sedang saya jalani sebagai bentuk pertanggungjawaban atas pilihan yang saya ambil, sekaligus sebagai bukti bahwa negara ini masih memberikan toleransi bagi seorang ibu untuk tetap berkontribusi sesuai dengan kapasitasnya. Pada akhirnya, saya melihat semua yang saya jalani sebagai sebuah kesempatan yang tidak semua orang miliki. Saya pernah berada di titik di mana saya harus melepaskan mimpi untuk berkarier sebagai auditor di Kantor Akuntan Publik, bukan karena saya tidak mampu, tetapi karena saya sadar bahwa kondisi hidup saya saat ini tidak memungkinkan saya menjalankan peran tersebut secara utuh, dan dalam keterbatasan itu saya menemukan jalan lain melalui profesi sebagai ASN.
Saya menyadari bahwa banyak orang berjuang keras untuk mendapatkan posisi ini, sehingga saya memandangnya sebagai amanah sekaligus tanggung jawab yang harus saya jalankan dengan serius. Saya merasa memiliki hutang kepada negara ini dalam bentuk nyata atas kesempatan yang telah diberikan, karena negara memberi saya ruang untuk tetap mencintai diri saya, mencintai keluarga saya, serta tetap terhubung dengan ilmu dan profesi yang saya pilih sejak awal. Dalam posisi ini, saya tidak harus sepenuhnya meninggalkan salah satu peran demi peran yang lain, meskipun tetap ada pengorbanan yang harus dilakukan, sehingga bela negara yang saya jalankan menjadi bentuk balas budi atas kesempatan tersebut. Saya bekerja dengan sungguh-sungguh, menjaga integritas dalam tugas saya, dan tetap berusaha membangun keluarga yang kuat.
Bagi saya, bela negara bukan sekadar konsep, tetapi tindakan yang saya jalankan setiap hari. Saya mungkin tidak menjalankan semua peran dengan sempurna, tetapi saya menjalankannya dengan kesadaran penuh bahwa setiap usaha yang saya lakukan adalah kontribusi. Saya ingin tetap berguna, bagi diri saya sendiri, bagi keluarga saya, dan bagi negara. Dalam keterbatasan yang ada, pengorbanan itu tetap ada, dan kontribusi itu tetap berjalan.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
