Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image sucii rizkiaa

Reinkarnasi Rasa

Ekspresi | 2026-03-19 10:10:36

Pernah ada pagi yang terasa begitu ringan, meski malamnya hanya menyisakan sedikit waktu untuk memejamkan mata. Di antara tumpukan hafalan yang rumit, aku terbangun sebelum alarm sempat memecah hening. Hari itu, aku menyadari satu hal, bahwa hidup terus berjalan, dan aku harus ada di dalamnya secara utuh, bukan sekadar melewatinya sebagai penonton yang kehilangan arah.

Kesadaran pagi itu membawaku kembali pada ingatan tentang masa di mana aku membiarkan "kupu-kupu" tumbuh bebas di dalam dada. Aku pernah begitu menikmati debar yang datang dari kehadiran seseorang yang tampak menyala dengan mimpinya. Sosok yang dewasa dalam tutur katanya, yang kehadirannya memberi rasa aman, dan yang panggilannya meski singkat mampu membuat duniaku yang padat terasa sedikit lebih ramah. Kagumku saat itu begitu besar, hingga aku merasa ingin ikut berlari mengejar versi terbaik diriku demi mengimbangi langkahnya.

Namun, seiring berjalannya waktu, kekaguman itu justru menjadi guru yang paling jujur bagiku. Aku mulai mengerti bahwa kehadiran seseorang dalam hidup kita terkadang hanyalah sebuah pemantik. Ia hadir bukan untuk menjadi tujuan akhir, melainkan untuk menyalakan api semangat yang selama ini tersembunyi di dalam diriku. Dari sana, aku sampai pada sebuah kesimpulan yang lebih tenang bahwa sejatinya kita tidak akan pernah dibiarkan bingung oleh seseorang yang benar-benar memilih untuk berjalan bersama kita.

Sebab, cinta dan penghargaan yang tulus seharusnya tidak menuntut kita untuk memohon, meminta, apalagi mengemis sebuah penjelasan. Jika kebingungan adalah satu-satunya hal yang kita dapatkan, maka mungkin itu adalah jawaban paling nyata bahwa kita sedang berdiri di depan pintu yang memang tidak ditujukan untuk kita. Aku belajar bahwa setiap dari kita adalah pemilik penuh atas diri sendiri, dan jika seseorang akhirnya memilih jalan yang berbeda, itu bukan selalu tentang kekurangan kita, melainkan tentang sejauh mana kapasitas mereka dalam menghargai apa yang ada di depan matanya.

Kini, di ambang usia sembilan belas, perspektifku mulai terbuka lebih lebar tanpa perlu menyalahkan siapa pun atas kekecewaan yang pernah mampir. Aku menyadari bahwa mereka tidak jahat, mereka hanya manusia yang sedang bertumbuh dengan caranya masing-masing. Tugasku sekarang bukan lagi untuk mengubah orang lain agar sesuai dengan ekspektasiku, melainkan menjaga agar akses ke hidupku tetap sehat dan hanya diisi oleh hal-hal yang benar-benar menghargai keberadaanku.

Pada akhirnya, aku memilih untuk tidak lagi menghakimi diriku sendiri hanya karena penilaian luar yang seringkali sepihak. Aku adalah bukti nyata dari cinta dan kepercayaan yang tulus dari kedua orang tuaku. Aku lahir dari kasih sayang yang murni, maka sudah selayaknya aku tidak menerima apa pun yang kurang dari itu dalam hidupku. Aku adalah makhluk yang unik, yang hanya ada satu di dunia ini, dan itu sudah lebih dari cukup untuk membuatku pantas bahagia dengan caraku sendiri.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image