Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Hayatun Nufus

Cut Off sebagai Bentuk Self-Respect dalam Pertemanan

Culture | 2026-02-18 11:09:06
Ilustrasi

Pertemanan sering dipandang sebagai hubungan yang harus dipertahankan apa pun kondisinya. Ada anggapan bahwa semakin lama sebuah persahabatan terjalin, semakin wajib pula kita menjaganya. Namun dalam kenyataan, tidak semua hubungan tumbuh ke arah yang sehat. Ada pertemanan yang perlahan berubah menjadi ruang yang melelahkan, penuh kritik terselubung, manipulasi, atau ketidakseimbangan. Dalam situasi seperti itu, keputusan untuk cut off kerap dicap berlebihan. Padahal, jika dipahami lebih dalam, cut off bisa menjadi bentuk self-respect atau penghormatan terhadap diri sendiri.

Sejak zaman Yunani Kuno, filsuf Aristoteles telah membedakan tiga jenis persahabatan yaitu yang didasarkan pada manfaat, kesenangan, dan kebaikan. Persahabatan yang paling luhur adalah yang berlandaskan kebaikan, yaitu relasi yang saling mendorong menjadi pribadi yang lebih baik. Jika sebuah hubungan justru mengikis martabat dan tidak lagi menghadirkan kebaikan, maka secara filosofis hubungan itu kehilangan esensinya. Dalam kerangka ini, mengakhiri relasi yang tidak lagi sehat bukanlah tindakan impulsif, melainkan pilihan rasional untuk menjaga kualitas hidup.

Dalam tradisi eksistensialisme, seperti yang dikemukakan oleh Jean-Paul Sartre, manusia dipahami sebagai makhluk bebas yang bertanggung jawab atas pilihannya. Kita tidak terikat secara moral untuk mempertahankan semua hubungan hanya karena sejarah atau tekanan sosial. Justru kebebasan memilih relasi yang sehat adalah bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri. Self-respect lahir ketika seseorang berani berkata cukup pada hubungan yang merendahkan nilai dirinya.

Pandangan ini juga diperkuat oleh psikologi modern. Psikolog keluarga Harriet Lerner menekankan pentingnya batasan atau boundaries dalam relasi. Menurutnya, banyak konflik batin muncul karena seseorang terus mengalah demi menjaga harmoni, sementara kebutuhannya sendiri diabaikan. Tanpa batas yang jelas, hubungan mudah berubah menjadi tidak seimbang. Dalam konteks ini, cut off bisa menjadi bentuk penegasan batas ketika upaya komunikasi dan perbaikan sudah tidak lagi efektif.

Peneliti tentang kerentanan dan harga diri, Brené Brown, juga menyatakan bahwa batasan adalah wujud keberanian. Orang dengan harga diri sehat tidak takut mengatakan tidak, karena ia memahami bahwa kasih sayang dan penghormatan harus berjalan beriringan. Self-respect bukanlah egoisme; ia adalah kesadaran bahwa diri kita pun layak diperlakukan dengan hormat.

Contoh sederhana dapat dilihat pada seseorang yang terus-menerus diremehkan dalam lingkar pertemanannya. Setiap pencapaiannya dianggap sepele, setiap pendapatnya dipatahkan dengan nada merendahkan. Ia mencoba berbicara baik-baik, namun pola itu berulang. Lambat laun, rasa percaya dirinya menurun dan ia merasa selalu kurang. Dalam situasi seperti ini, memilih menjaga jarak atau bahkan mengakhiri hubungan bukan berarti membenci, melainkan melindungi diri dari luka yang terus diperbarui.

Tentu, cut off bukan solusi pertama bagi setiap konflik. Dialog, refleksi, dan perbaikan tetap perlu diupayakan. Namun ketika hubungan telah menjadi sumber tekanan berkepanjangan dan tidak ada ruang untuk perubahan, keputusan untuk pergi bisa menjadi langkah penyelamatan diri. Tidak semua pertemanan harus dipertahankan, terutama jika harga diri menjadi taruhannya.

Pada akhirnya, self-respect adalah fondasi dari hubungan yang sehat. Kita tidak bisa menjalin relasi yang tulus jika diri sendiri terus merasa terabaikan. Mengakhiri pertemanan yang toksik bukanlah tanda kelemahan, melainkan keberanian untuk hidup dengan lebih jujur terhadap kebutuhan dan nilai diri. Dalam dunia yang sering menuntut kita untuk selalu mengerti orang lain, barangkali sesekali kita juga perlu mengerti diri sendiri.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image