Ketika #KaburAjaDulu Menjadi Bahasa Kekecewaan Anak Muda
Humaniora | 2026-02-26 11:52:03
Belakangan ini, tagar #KaburAjaDulu ramai menghiasi linimasa media sosial. Sekilas ia tampak seperti candaan khas generasi muda. Namun semakin sering tagar itu muncul, semakin terasa bahwa ia bukan sekadar humor digital. Di baliknya tersimpan kegelisahan tentang peluang kerja yang sempit, upah yang dianggap belum layak, serta masa depan yang terasa tidak pasti.
Dalam beberapa diskusi kampus dan obrolan santai dengan teman sebaya, topik sulitnya mencari pekerjaan hampir selalu muncul. Ada yang sudah mengirim puluhan lamaran tanpa panggilan. Ada pula yang bekerja tidak sesuai bidang studi karena pilihan yang tersedia sangat terbatas. Fenomena ini menunjukkan bahwa keresahan tersebut bukan sekadar persepsi, melainkan pengalaman nyata.
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2025 mencatat tingkat pengangguran terbuka Indonesia berada di kisaran 4 sampai 5 persen. Angka ini memang lebih baik dibanding masa pandemi. Namun jika dilihat lebih rinci, tingkat pengangguran usia 15 sampai 24 tahun masih berada di atas 15 persen, jauh lebih tinggi dari rata-rata nasional. Artinya, generasi muda menjadi kelompok yang paling rentan dalam persaingan pasar kerja.
Selain itu, angka pemuda yang termasuk kategori NEET (Not in Employment, Education, or Training) juga menjadi perhatian. Sebagian anak muda tidak bekerja, tidak sedang menempuh pendidikan, dan tidak mengikuti pelatihan. Kondisi ini menunjukkan adanya persoalan struktural. Ketika lulusan terus bertambah setiap tahun, sementara pertumbuhan lapangan kerja formal tidak sebanding, maka ketimpangan menjadi tak terhindarkan.
Masalahnya bukan hanya soal ada atau tidaknya pekerjaan, tetapi juga kualitasnya. Tidak sedikit lowongan kerja menawarkan sistem kontrak jangka pendek, upah minimum, dan jenjang karier yang tidak jelas. Generasi muda yang tumbuh dengan ekspektasi mobilitas sosial melalui pendidikan akhirnya berhadapan dengan realitas yang tidak selalu sejalan dengan harapan.
Di tengah situasi tersebut, peluang kerja luar negeri, beasiswa, atau pekerjaan jarak jauh berbasis digital tampak lebih menjanjikan. Media sosial kemudian menjadi ruang kolektif untuk mengekspresikan pilihan itu, meski dalam bentuk satire. Dari sinilah narasi “kabur” menemukan momentumnya. Ia bukan selalu berarti meninggalkan Indonesia secara fisik, tetapi bisa juga dimaknai sebagai upaya mencari ruang berkembang yang dirasa lebih adil dan prospektif.
Fenomena ini juga berkaitan dengan isu brain drain. Jika talenta muda yang terdidik lebih memilih berkarier di luar negeri karena merasa kurang dihargai di dalam negeri, Indonesia berisiko kehilangan modal sumber daya manusia unggul. Padahal, saat ini Indonesia sedang menikmati bonus demografi, yaitu fase ketika jumlah penduduk usia produktif lebih besar dibanding usia nonproduktif. Tanpa penciptaan lapangan kerja berkualitas, bonus tersebut dapat berubah menjadi tekanan sosial.
Penting ditegaskan bahwa #KaburAjaDulu bukanlah bentuk ketidakcintaan pada tanah air. Ia adalah kritik sunyi yang disampaikan melalui bahasa generasi digital. Kritik terhadap sistem yang belum sepenuhnya memberi ruang tumbuh, terhadap kebijakan yang dirasa belum menyentuh akar persoalan, dan terhadap struktur ekonomi yang belum sepenuhnya inklusif.
Pemerintah telah menggulirkan berbagai program pelatihan dan penciptaan kerja. Namun ke depan, tantangan utamanya adalah memastikan kualitas pekerjaan yang layak, relevansi pendidikan dengan kebutuhan industri, serta ekosistem usaha yang mendorong inovasi dan investasi berkelanjutan. Kolaborasi antara negara, dunia pendidikan, dan sektor swasta menjadi kunci.
Pada akhirnya, tagar ini adalah alarm sosial. Ia mengingatkan bahwa generasi muda tidak hanya membutuhkan motivasi, tetapi juga kesempatan yang nyata. Jika ruang berkembang semakin terbuka dan pekerjaan bermartabat semakin tersedia, mungkin suatu hari linimasa kita tidak lagi dipenuhi oleh #KaburAjaDulu, melainkan oleh optimisme untuk membangun masa depan di negeri sendiri.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
