Beban Hidup Makin Tinggi, Bunuh Diri Dianggap Solusi
Politik | 2026-04-30 12:00:03
Oleh Syafitri Nurul Aini
Aktivis Muslimah
Belakangan ini sering sekali kita mendengar berita di berbagai media tentang maraknya orang yang mengakhiri hidup dengan bunuh diri. Seperti berita tentang apoteker di Kupang yang tewas gantung diri karena terlibat masalah utang, seorang IRT di Musi Rawas, Sumatera Selatan yang nekat mengakhiri hidupnya karena permasalahan ekonomi, serta tragedi bunuh diri sejoli yang diduga pasangan selingkuh di Gianyar, Bali. (detik.com, Senin, 27/4/2026)
Sangat manusiawi jika kita merasa lelah dan terjebak saat beban hidup terasa menumpuk, baik itu karena masalah ekonomi, utang piutang, hubungan asmara, bahkan masalah perundungan yang makin marak terjadi. Tapi perlu ditandai, bahwa bunuh diri bukanlah solusi untuk semua masalah ini.
Hubungan Sekulerisme dengan Maraknya Bunuh Diri
Dalam sistem sekuler, bunuh diri sering dipandang sebagai hak individu untuk mengakhiri hidup akibat hilangnya makna hidup, tekanan mental atau kegagalan sistem sosial ekonomi. Sekulerisme memisahkan agama dari kehidupan, sehingga tindakan bunuh diri sering dianggap pilihan pribadi, bukan pelanggaran hukum. Pelaku bunuh diri memiliki hak penuh atas tubuh dan hidup mereka sendiri. Bahkan, bunuh diri dianggap sebagai jalan pintas menyelesaikan masalah.
Sekulerisme menyebabkan individu kehilangan pegangan hidup yaitu agama. Karena agama dipisahkan dari kehidupan, sehingga menyebabkan individu menganggap musibah sebagai beban berat yang tidak dapat ditanggung dan akhirnya memunculkan pikiran untuk bunuh diri.
Bunuh Diri dalam Pandangan Islam
Dalam Islam, bunuh diri adalah dosa besar yang diharamkan dan dilarang keras, dianggap menzalimi diri sendiri serta mendahului takdir Allah SWT. Di akhirat, pelaku bunuh diri diancam siksa neraka sesuai cara kematiannya.
Bunuh diri diharamkan sebagaimana disebutkan dalam Al quran:
"... Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu". (QS. An Nisa: 29)
Sebagaimana kisah bunuh diri yang terkenal di zaman Rasulullah yang melibatkan sahabat Qotzman saat perang Uhud. Meskipun bertarung dengan berani, ia memilih bunuh diri dengan pedangnya sendiri karena tidak kuat menahan rasa sakit akibat luka parah dan tidak sabar atas takdir Allah SWT. Karena kejadian ini, Nabi saw. justru bersabda, "Dia termasuk penghuni neraka."
Kelak perbuatan bunuh diri ini akan membawa penyesalan bagi pelakunya. Karena ia akan disiksa dengan cara sebagaimana ia mengakhiri hidupnya di dunia.
Sebagai seorang muslim seharusnya kita selalu menanamkan dalam hati bahwa dunia ini adalah tempat ujian bagi orang yang beriman, selalu berprasangka baik kepada Allah, serta menjadikan sabar dan salat sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT. Karena dengan meyakini semua yang terjadi adalah ketentuan-Nya dan takdir terbaik untuk kita, maka hidup akan menjadi lapang dan tenang untuk terus melangkah menggapai rida-Nya.
Bunuh diri juga bukan solusi atas masalah hidup, melainkan tindakan yang menambah kepedihan bagi pelakunya di akhirat nanti. Karena masalah hidup tidak berhenti setelah mati, tapi kita akan mempertanggung jawabkannya setelah menghadap Sang Ilahi robbi.
Wallahualam bissawab
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
