Budaya Gotong Royong di Tengah Gaya Hidup Individualis
Ulas Dulu | 2026-02-20 02:23:36Indonesia dikenal sebagai bangsa yang menjunjung tinggi budaya gotong royong. Sejak dahulu, nilai ini menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat, mulai dari kerja bakti, saling membantu antarwarga, hingga hadir saat tetangga mengalami kesulitan. Gotong royong tidak hanya mencerminkan kebersamaan, tetapi juga memperkuat ikatan sosial dalam kehidupan bermasyarakat.
Namun, di wilayah perkotaan, budaya gotong royong kini mulai mengalami pemudaran. Masyarakat kota hidup dengan ritme yang cepat, tuntutan pekerjaan yang tinggi, serta gaya hidup yang cenderung individualis. Akibatnya, interaksi sosial semakin terbatas dan hubungan antarwarga tidak lagi seerat seperti sebelumnya.
Perkembangan teknologi turut memperkuat kondisi tersebut. Kehadiran gawai, media sosial, dan berbagai layanan digital membuat banyak orang terbiasa menyelesaikan segala urusan secara mandiri. Pola pikir bahwa setiap masalah adalah urusan masing-masing semakin menguat, sehingga membantu orang lain sering dianggap tidak perlu, bahkan dikhawatirkan sebagai bentuk campur tangan yang berlebihan.
Pola pikir individualis ini berdampak pada menurunnya kepedulian sosial di lingkungan perkotaan. Kegiatan seperti kerja bakti, musyawarah warga, atau saling membantu saat ada kesulitan kini semakin jarang ditemui. Banyak orang merasa bahwa selama suatu persoalan tidak berkaitan langsung dengan dirinya, maka tidak ada kewajiban untuk terlibat.
Meski demikian, bukan berarti semangat gotong royong benar-benar hilang. Di era digital, nilai ini mengalami pergeseran bentuk. Solidaritas sosial masih dapat ditemukan melalui penggalangan dana online, aksi sosial berbasis komunitas, serta kepedulian yang disebarkan melalui media sosial, meskipun tidak selalu diwujudkan dalam pertemuan fisik.
Budaya gotong royong perlu terus dihidupkan kembali, terutama di tengah kehidupan perkotaan yang semakin individualistis. Kepedulian tidak harus dimulai dari hal besar. Tindakan sederhana seperti menyapa tetangga, peduli terhadap lingkungan sekitar, dan bersedia membantu sesama dapat menjadi langkah awal untuk menjaga nilai kebersamaan agar tidak hilang ditelan modernisasi.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
