Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Raden Arfan Rifqiawan

Dari Stoikisme ke Tauhid: Memaknai Ketenangan Hidup

Gaya Hidup | 2026-05-12 02:46:51

Stoikisme sedang naik daun di kalangan generasi muda. Kutipan-kutipan tentang ketenangan batin, pengendalian emosi, dan penerimaan atas keadaan ramai beredar di media sosial. Banyak anak muda merasa filsafat ini relevan di tengah tekanan hidup modern: tuntutan karier, kecemasan finansial, relasi sosial yang rapuh, hingga budaya kompetisi digital yang melelahkan.

Stoikisme menawarkan satu pesan sederhana namun kuat: manusia tidak bisa mengendalikan semua hal di luar dirinya, tetapi bisa mengendalikan respons atasnya. Karena itu, kebahagiaan tidak diletakkan pada sesuatu yang eksternal seperti jabatan, kekayaan, atau pujian, melainkan pada ketenangan internal dan kemampuan berpikir rasional.

Tidak mengherankan jika stoikisme kini menjadi semacam “obat mental” bagi sebagian generasi muda urban. Mereka menemukan cara untuk lebih tenang, tidak reaktif, dan tidak mudah larut dalam emosi negatif. Dalam banyak hal, stoikisme memang membantu seseorang menjadi lebih disiplin secara psikologis.

Namun, di balik popularitasnya, stoikisme juga memiliki sisi problematis. Karena bertumpu sangat kuat pada rasionalitas manusia, stoikisme dalam titik tertentu dapat melahirkan rasionalitas yang ekstrem. Dalam sejarahnya, filsuf stoik seperti Seneca bahkan dikaitkan dengan gagasan bahwa bunuh diri dapat dianggap rasional dalam kondisi tertentu, misalnya ketika seseorang merasa kehormatannya hilang atau kehidupannya tidak lagi bermakna. Dalam tradisi stoik klasik, kehidupan dinilai dari pertimbangan rasional manusia, sehingga keputusan mengakhiri hidup dapat dipandang sebagai pilihan filosofis.

Di sinilah letak perbedaan mendasar dengan tradisi spiritual Islam. Dalam Islam, kehidupan dipandang sebagai amanah dari Allah, bukan milik mutlak manusia. Karena itu, bunuh diri secara tegas diharamkan. Seberat apa pun penderitaan, manusia tidak memiliki otoritas untuk mengakhiri hidupnya sendiri.

Sebagian orang kemudian mencoba membandingkan stoikisme dengan tradisi tasawuf seperti Tarekat Syadziliyah karena sama-sama mengajarkan ketenangan hati dan pengendalian diri. Perbandingan itu memang menarik secara akademik. Akan tetapi, penting dipahami bahwa ketenangan dalam Islam tidak mengharuskan seseorang masuk tarekat tertentu. Kritik terhadap sebagian tren spiritual hari ini justru muncul ketika agama dipersempit seolah ketenangan hanya bisa diperoleh melalui kelompok eksklusif atau ritual tertentu.

Padahal, inti ketenangan dalam Islam jauh lebih luas. Ia dapat tumbuh melalui shalat yang khusyuk, dzikir, membaca Al-Qur’an, bekerja secara halal, menjaga relasi sosial, hingga kesadaran tauhid dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, spiritualitas Islam tidak boleh direduksi menjadi simbol identitas kelompok semata.

Karena itu, membandingkan stoikisme dengan Syadziliyah seharusnya tidak dimaknai sebagai ajakan untuk romantisasi tarekat ataupun penolakan total terhadap filsafat Barat. Stoikisme tetap memiliki nilai positif, terutama dalam melatih disiplin diri dan pengendalian emosi. Namun, seorang Muslim tetap perlu bersikap kritis agar tidak menerima seluruh ajaran stoikisme secara mentah, khususnya ketika bertentangan dengan prinsip tauhid dan syariat.

Perbedaan tersebut juga memiliki implikasi dalam dunia bisnis dan kewirausahaan. Dalam stoikisme, entrepreneurship dapat dipandang sebagai ruang aktualisasi diri dan pengendalian emosi dalam menghadapi risiko usaha. Seorang pebisnis stoik dituntut tetap tenang saat rugi maupun untung, tidak berlebihan dalam ambisi, dan rasional dalam mengambil keputusan.

Sebaliknya, dalam perspektif Islam, bisnis bukan hanya soal efisiensi dan ketahanan mental, tetapi juga amanah moral dan spiritual. Akuntabilitas tidak berhenti pada laporan keuntungan atau kepuasan pasar, melainkan juga menyangkut pertanggungjawaban di hadapan Allah. Karena itu, orientasi bisnis dalam Islam tidak sekadar mencari profit, tetapi juga menjaga keadilan, kejujuran, dan keberkahan.

Fenomena populernya stoikisme sebenarnya menunjukkan bahwa generasi muda sedang mencari makna dan ketenangan di tengah dunia yang serba cepat. Akan tetapi, masyarakat Muslim perlu menyadari bahwa tradisi Islam juga memiliki sumber-sumber spiritual yang kaya tanpa harus kehilangan fondasi tauhid dan syariat.

Sebab pada akhirnya, ketenangan hidup bukan hanya soal mampu menerima keadaan, tetapi juga memahami kepada siapa hidup ini dipertanggungjawabkan.

Referensi

Rifqiawan, R. A. (2022). Perbandingan Ajaran Syadziliyah dan Stoikisme dalam Memaknai Enterpreunership dan Akuntabilitas. EAIC: Esoterik Annual International Conferences, 1(01), Article 01. https://proceeding.iainkudus.ac.id/index.php/EAIC/article/view/305

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image