Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Andhika Chandra Kias Chahyadi, S.Pd

Pramoedya dan Warisan Kata-Kata: Mengapa Kita tak Kenal Diri Sendiri?

Sastra | 2026-05-13 02:38:41
Buku Kata-Kata Pramoedya Ananta Toer Untuk Indonesia oleh Aristo Farela

Karena kau tak pernah melihat masa lalu, kau takkan pernah mengerti masa depan. - Pramoedya A.Toer

Kutipan tersebut seperti jembatan yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Seseorang tidak dapat mehamami kemana ia akan melangkah apabila ia tidak memahami dari mana ia berasal. Memasuki era yang serba cepat dan penuh dengan informasi sepatutnya kita perlu mengenal sejarah agat tidak kehilangan arah. Dalam kehidupan pribadi, dapat juga dimaknai bahwa pengalaman hidup baik kegagalan maupun keberhasilan adalah pelajaran untuk tumbuh menjadi lebih baik.

“Tak mungkin orang dapat mencintai negeri dan bangsanya, terngiang kembali kata-kata Mei, kalau orang tak mengenal kertas-kertas tentangnya. Kalau dia tak mengenal sejarahnya. Apalagi kalau tak pernah berbuat sesuatu untuknya.” salah satu kutipan Pram tentang mencintai negeri dan bangsanya.

Pramoedya A.Toer terus hidup melalui kata-katanya yang tak lekang oleh waktu. Karya Pram, banyak memotret tentang pemuda, bangsa, keberanian, politik, perempuan, kehidupan, dan dunia dan keseimbangan. Berkat pemikiran Pram lahir kutipan-kutipan yang masih relevan hingga saat ini. Ia senantiasa mengingatkan agar kita tidak melupakan identitas bangsa dan tidak tercabut dari sejarah bangsanya sendiri. Ketika sejarah tidak dibaca dan dipahami, manusia akan menjadi asing terhadap bangsanya sendiri. Padahal, kenyataannya bangsa ini lahir atas ingatan kolektif, kepedulian, kesadaran nilai kemanusiaan, dan semangat gotong royong.

Bagi Pram, mengenal bangsa berarti mengenal manusia-manusia di dalamnya. Indonesia hidup dari kerja keras guru yang mendidik dengan ketulusan, petani yang menjaga kehidupan, tenaga kesehatan yang melayani masyarakat. Setiap profesi memiliki arti penting dalam membangun masa depan bangsa. Ketika seseorang memahami bangsanya, maka ia akan lebih mudah menghargai proses, menghormati perbedaan, dan memiliki semangat untuk berkontribusi bagi lingkungan sekitarnya.

Pram juga menjelaskan bahwa politik seharusnya dipahami sebagai bagian dari tanggung jawab terhadap masyarakat. Politik bukan hanya tentang kekuasaan tetapi juga bagaimana menghadirkan keadilan, pendidikan, kesejahteraan, dan kesempatan bagi semua orang. Untuk menghadirkan itu Pram, menegaskan bahwa seseorang juga perlu mengenal Multatuli.

Warisan terbesar Pram yaitu karyanya. Karya-karya Pram bernafaskan humanisme universal. Salah satu bentuk karyanya ialah kumpulan dari kata-kata yang dapat menumbuhkan kesadaran. Karena itu, mengenang Pramoedya A.Toer tidak hanya membaca karyanya melainkan melanjutkan semangatnya.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image