Memandang Dunia dengan Lebih Berempati
Humaniora | 2026-03-19 10:52:27Pagi ini, izinkan saya sedikit merenung tentang apa yang sering kita anggap biasa, namun bagi orang lain adalah mimpi.
Banyak yang bilang bahwa bangku perkuliahan adalah jaminan mutlak menuju kesuksesan. Padahal, realitasnya tidak selalu demikian. Jangankan menjanjikan karier yang gemilang, jaminan untuk mendapatkan pekerjaan yang layak pun kian hari kian kompetitif. Namun, jika ada satu hal yang paling berharga dari masa studi, itu adalah terbukanya pola pikir dalam memaknai dunia termasuk dalam cara kita berkomunikasi.
Belakangan ini, aku menyadari bahwa komunikasi sejati bukan sekadar soal pemilihan diksi yang cantik atau gestur tubuh yang memukau. Inti dari komunikasi adalah bagaimana sebuah pesan dapat diterima dengan jernih dan menetap di hati. Di sinilah letak kuncinya: "siapa" yang menyampaikan sering kali lebih menentukan daripada "bagaimana" cara ia bicara. Kita sering menemui orator dengan kemampuan public speaking luar biasa, namun pesannya hanya lewat begitu saja. Sebaliknya, ada kata-kata sederhana yang lahir dari empati dan pengalaman nyata, yang justru jauh lebih membekas.
Kedewasaan dalam berkomunikasi inilah yang kemudian membuka mata kita pada sebuah "privilese" yang sering kali dianggap biasa. Di tengah kesibukan organisasi dan diskusi di kedai kopi, ada kontras realitas yang sangat tajam yang seharusnya tidak luput dari pembicaraan kita. Rasanya ada yang mengganjal saat menyadari bahwa segelas kopi seharga 25 ribu rupiah yang habis dalam beberapa teguk saat rapat, setara dengan harga yang harus dibayar seseorang untuk mempertahankan nyawanya demi pendidikan.
Pernah terdengar berita memilukan tentang seorang anak yang harus kehilangan harapannya hanya karena tak mampu membeli perlengkapan sekolah seharga 8 ribu rupiah. Delapan ribu untuk sebuah pensil, namun bagi sebagian orang, angka itu adalah beban yang meruntuhkan dunia. Kontras ini adalah tamparan bagi kita yang masih bisa duduk di depan perangkat elektronik yang memadai, dengan internet lancar, dan fasilitas yang dicukupkan hingga larut malam.
Menyadari hal ini membuat kita paham bahwa fasilitas yang kita nikmati bukan sekadar kenyamanan, melainkan sebuah tanggung jawab moral. Pendidikan bukan hanya soal mengejar IPK atau tampil menonjol di media sosial dengan label "mahasiswa aktif". Ini adalah tentang bagaimana kita menggunakan setiap kesempatan yang bagi orang lain mungkin hanyalah mimpi untuk menjadi manusia yang lebih peka.
Pada akhirnya, privilese yang kita miliki seharusnya tidak membuat kita tinggi hati, melainkan membuat kita lebih sering menunduk untuk melihat realitas sekitar. Karena komunikasi yang paling kuat bukan lahir dari diksi yang rumit, melainkan dari hati yang mampu merasakan ketimpangan dunia dan memilih untuk tidak tinggal diam.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
