Berbeda (dalam) Kebaikan, Bersatu (dalam) Tujuan: Belajar dari Surat Balasan Imam Malik
Agama | 2026-04-17 17:16:27Adham Syarqawi, seorang penulis dari Palestina, pemegang diploma guru dari UNESCO dan peraih gelar master Sastra Arab Universitas Lebanon di Beirut membagikan tulisannya kepada kita.
Pada buku terjemahan berjudul 'Pada Jejak Sang Kekasih' (2024) ijinkan saya -dengan segala keterbatasan dan kekurangan saya- menukilkan sebuah kisah terbaiknya yang bertajuk 'Semoga Engkau Salahsatunya' untuk kawan-kawan para pembaca tercinta.
Para sahabat Nabi mengelilingi Rasulullah bagaikan gelang melingkari pergelangan tangannya. Dengan penuh semangat, mereka menunggu setiap kata yang beliau sabdakan untuk diambil pelajaran.
Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang menginfaqkan dua jenis (berpasangan) dari hartanya di jalan Allah, maka dia akan dipanggil dari pintu-pintu surga; (lalu dikatakan kepadanya): “Wahai hamba Allah, inilah kebaikan (dari apa yang kamu amalkan). Maka barangsiapa dari kalangan ahli shalat dia akan dipanggil dari pintu shalat, dan barangsiapa dari kalangan ahli jihad dia akan dipanggil dari pintu jihad, dan barangsiapa dari kalangan ahli puasa maka dia akan dipanggil dari pintu ar-Rayyan, dan barangsiapa dari kalangan ahli shadaqah dia akan dipanggil dari pintu shadaqah”.
Lantas Abu Bakar Ash-Shidiq ra. berkata : “Demi bapak dan ibuku (sebagai tebusan) untukmu wahai Rasulullah, demi ayah dan ibuku, jika seseorang dipanggil di antara pintu-pintu yang ada, itu sebuah kepastian, namun apakah mungkin seseorang akan dipanggil dari semua pintu?”. Nabi Muhammad SAW menjawab, “Benar, dan aku berharap kamu termasuk diantara mereka.” (Hadits riwayat Bukhari).
Untuk makin menjelaskan hadits tersebut, ada sebuah kisah yang terjadi antara Imam Malik dan Abdullah Al-Umari, seorang ahli ibadah yang mengasingkan diri dari keramaian.
Imam Adz-Dzahabi dalam kitab Siyar A’lam An-Nubala’ menukil sebuah kisah dari Imam Malik bin Anas, sebagai berikut.
Seorang ahli ibadah yang tinggal di kota Madinah, bernama ‘Abdullah bin ‘Umar bin Hafsh Al ‘Umari. Ahli ibadah ini menulis surat berisi nasihat kepada Imam Malik agar lebih banyak menyendiri dan berkonsentrasi mengerjakan ibadah, menyibukkan diri dengan urusannya sendiri dan berpaling dari mereka.
Imam Malik pun menulis surat balasan kepada ‘Abdullah bin ‘Umar bin Hafsh Al ‘Umari. Berikut isi surat balasan dari Imam Malik:
“Sesungguhnya Allah SWT telah membagikan amal-amal salih sebagaimana Dia membagikan rezeki-Nya untuk manusia. Boleh jadi seseorang dibukakan (pintu kebaikan) baginya dalam shalat —dengan rajin mengamalkan shalat-shalat sunnah, tetapi tidak dibukakan (pintu kebaikan) baginya dalam ibadah puasa”.
“Sementara orang lain ada yang dibukakan (pintu kebaikan) baginya dalam bersedekah —dengan banyak berinfak, tetapi tidak dibukakan (pintu kebaikan) baginya dalam ibadah puasa. Ada juga orang yang dibukakan (pintu kebaikan) baginya dalam berjihad di jalan Allah, tetapi tidak dibukakan pintu kebaikan baginya dalam ibadah lainnya.”
“Menyebarkan ilmu termasuk amal kebaikan yang paling utama. Dan sungguh aku telah ridha dengan (pintu kebaikan) yang telah dibukakan Allah untukku dalam menyebarkan ilmu ini. Aku tidak merasa amal yang aku lakukan ini kurang berpahala daripada amal yang anda lakukan. Dan aku berharap kita berdua (selalu) di atas kebaikan dan ketaatan (kepada-Nya).”
Jawaban bijak Imam Malik ini memberikan sangat banyak pelajaran berharga kepada kita semua.
Jika masing-masing kita merenungkan, maka kita akan menemukan bahwa Allah SWT memberikan kemampuan untuk menunaikan ibadah tertentu namun tentu saja tidak serta-merta meninggalkan amal baik lainnya.
Adham Syarqawi berpesan bahwa cukuplah bagi kita untuk memperbanyak amalan yang telah Allah bukakan kemudahan bagi kita tanpa meninggalkan sama sekali amalan lain yang belum Dia bukakan untuk kita. Jika masing-masing kita melakukan kebaikan yang mudah baginya maka umat ini akan baik-baik saja.
Hassan bin Tsabit tidak lihai membawa pedang, baik pada masa jahiliah maupun pada masa Islam. Namun dia diberi kemudahan dan kemampuan dalam urusan syair, maka dia pun membela Islam lewat goresan syairnya yang tidak kalah ganasnya dengan pedang Khalid bin Walid. Masing-masing dari mereka telah berjuang membantu agama ini dengan sesuatu yang dibukakan Allah kepadanya.
Selayaknya kita menyadari bahwa
masing-masing manusia memiliki kondisi, situasi, kemampuan, dan kesanggupan yang tidak sama. Saatnya berusaha maksimal untuk
tidak saling mencela, meskipun kadar amal setiap orang berbeda-beda.
Pada titik inilah terpampang bukti nyata bahwa ajaran Islam tidak memberatkan umatnya. Mereka tidak dipaksa hanya fokus pada satu pilihan kebaikan yang harus seragam, namun sebaliknya, diberikan beragam pilihan sesuai kesanggupan dan kemampuan. Wallahu a'lam.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
