Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Muhammad Furqon Ardhie

Menelusuri Lorong Gelap Munafik: Antara Cahaya Kebenaran dan Kebingungan tak Bertepi

Agama | 2026-04-17 07:29:42

PEKALONGAN – Pernahkah Anda merasa sangat yakin dengan sebuah arah, namun tiba-tiba lampu padam dan Anda terjebak dalam kegelapan total? Rasa bingung dan takut itulah yang menjadi gambaran nyata bagi mereka yang kehilangan petunjuk dalam hidup. Suasana reflektif inilah yang terbangun dalam pengajian rutin malam Rabu bakda Maghrib di Masjid Al-Muqorrobin, Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Sijambe, Wonokerto pada Selasa 14 April 2026 bertepatan dengan 27 Syawal 1447H.

Membawa materi Tafsir Surat Al-Baqarah ayat 17-20, Ustadz Choirudin membedah karakter orang-orang munafik yang digambarkan Al-Qur'an melalui perumpamaan-perumpamaan alam yang tajam dan mendalam.

Sebelum memasuki pembahasan inti, Ustadz Choirudin mengajak jamaah menyegarkan ingatan sejenak. Beliau mengingatkan bahwa kajian ini merupakan kelanjutan dari pertemuan sebelumnya yang telah membedah ciri orang bertakwa (ayat 1–5), orang kafir (ayat 6–7) dan orang munafik yang dimulai ayat 8 Surat Al-Baqarah.

"Pada pertemuan lalu, kita telah mengupas bagaimana orang munafik berupaya menipu Allah SWT dan orang beriman. Mereka mengaku beriman di depan kita, namun mengolok-olok saat kembali ke kelompoknya. Mereka merasa dapat menipu Allah SWT dan orang beriman, padahal sejatinya mereka yang tertipu, dan Allah SWT membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatannya," ujar Ustadz Choirudin mengingatkan pesan kunci pertemuan sebelumnya.

Cahaya yang Lenyap di Tengah Jalan

Ustadz Choirudin mengawali pembahasan dengan mengutip Ayat 17: "Perumpamaan mereka seperti orang-orang yang menyalakan api. Setelah (api itu) menerangi sekelilingnya, Allah melenyapkan cahaya (yang menyinari) mereka dan membiarkan mereka dalam kegelapan (sehingga) tidak dapat melihat."

Beliau menjelaskan bahwa ayat ini mengibaratkan orang munafik seperti seseorang yang menyalakan api. Saat api tersebut mulai menerangi sekitar, Allah SWT justru melenyapkan cahaya tersebut sehingga mereka dalam kegelapan.

"Mereka sebenarnya sudah melihat cahaya kebenaran Islam, namun justru memilih untuk meninggalkannya kembali menuju kegelapan kesesatan. Mengapa? Karena setelah mereka melihat cahaya itu mereka menjadikan (cahaya) ayat-ayat Allah dan penjelasan Rasulullah hanya sebagai bahan candaan dan olok-olok, sehingga Allah SWT memadamkan cahaya petunjuk bagi mereka, membiarkan mereka tetap dalam kegelapan sehingga tidak dapat melihat, " papar Ustadz Choirudin di hadapan para jamaah yang hadir bakda Maghrib tersebut.

Tuli, Bisu, dan Buta Secara Spiritual

Selanjutnya, beliau membacakan Ayat 18: "Tuli, bisu, (dan) buta. Oleh karena itu, mereka tidak dapat kembali (ke jalan yang benar)."

Pemateri menjelaskan bahwa kondisi Summun, Bukmun, 'Umyun dalam ayat ini bukanlah cacat fisik, melainkan penolakan fungsi indra terhadap kebenaran. Karena mereka berpura-pura tidak tahu, Allah pun mengunci mati hati dan indra mereka.

“Sebenarnya mereka tidak benar-benar seperti itu tetapi mereka pura-pura sehingga Allah SWT menjadikannnya benar-benar tuli, bisu dan buta dari kebenaran sehingga mereka tidak dapat kembali menemukan kebenaran. Berbeda dengan orang kafir yang mungkin masuk Islam setelah melihat cahaya—seperti kisah Abu Sufyan masuk Islam— orang-orang munafik akan tetap dalam kesesatannya selamanya dan tidak akan kembali kepada cahaya Islam," tegas beliau sambil menjelaskan kisah masuk Islamnya Abu Sufyan.

Terjebak dalam Badai dan Kilat yang Menyambar

Memasuki perumpamaan kedua, beliau membacakan Ayat 19: "Atau (perumpamaan mereka) seperti (orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit, yang di dalamnya terdapat kegelapan, guntur, dan kilat. Mereka menyumbat telinga dengan jari-jarinya (menghindari) suara petir karena takut mati. Allah meliputi orang-orang kafir."

Ustadz Choirudin memberikan analogi visual yang dramatis: orang yang berjalan dalam kegelapan, gelapnya malam di tengah hujan lebat disertai guntur dan kilat. Kilat sebagai cahaya yang menerangi kegelapan sehingga mereka dapat melihat keadaan lingkungan sekitar dan jalan yang harus dilalui dengan sekejap dan hilang lagi. Petir dan guntur diibaratkan sebagai teguran dan seruan ayat-ayat Allah yang justru membuat orang munafik ketakutan dan menutup telinga rapat-rapat.

Sebagai kelanjutan perumpamaan dari ayat 19, pembahasan ditutup dengan Ayat 20: "Kilat itu hampir menyambar penglihatan mereka. Setiap kali (kilat) itu menyinari, mereka berjalan di bawah (sinar) itu. Apabila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu."

" Manusia dapat berjalan ketika ada cahaya/petunjuk tetapi tidak dapat melakukannya saat cahaya/petunjuk itu hilang/tidak ada. Seandainya orang munafik memilih mendengarkan dan mengikuti kebenaran Islam; bukan mengolok-oloknya, tentu cahaya Islam akan terus menerangi jalan mereka sehingga perjalanannya lancar, tetapi mereka memilih untuk meninggalkan kebenaran Islam sehingga mereka kebingungan dalam berjalan karena tidak ada petunjuk (cahaya yang menerangi perjalanan)," jelasnya.

Kegiatan diakhiri dengan doa bersama dan ditutup dengan sholat Isya’ berjama’ah.

Menolak Cahaya, Terjebak dalam Labirin Kegelapan Abadi

Pada akhirnya, perumpamaan orang munafik sebagai pengembara yang kebingungan hati dalam perjalanan panjang menjadi pengingat keras bagi kita. Memilih kegelapan setelah cahaya Islam datang menerangi dan mengoloknya hanya akan mematikan fungsi hati—menjadikannya tuli, bisu, dan buta terhadap kebenaran dan berakhir dalam kesesatan yang tidak bisa kembali.

Menjaga Cahaya, Menguatkan Langkah, Meneguhkan Hati

Mari kita kuatkan langkah kaki kita tetap teguh mengikuti cahaya hidayah. “Semoga kita senantiasa diberikan keteguhan hati untuk terus memegang cahaya kebenaran hingga akhir hayat. Aamiin."

Pengolah : Redaksi Publikasi Online

Masjid Al-Muqorrobin PRM Sijambe, Wonokerto

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image