Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Ummu Firly

Demiliterisasi Gaza: Jalan Damai atau Strategi Membungkam Perlawanan?

Kolom | 2026-04-17 12:58:16
Kekerasan lintas batas menandai perluasan konflik yang signifikan antara Israel dan militan Palestina di Gaza hingga perbatasan Israel-Lebanon lebih jauh ke utara. (AP Photo/Ariel Schalit)

Desakan Demiliterisasi di Tengah Realitas Kekerasan

Laporan Antara News (April 2026) menyebutkan adanya dorongan agar Hamas segera merampungkan rencana demiliterisasi Gaza. Namun, Hamas secara tegas menolak tuntutan tersebut karena dinilai mengancam eksistensi dan kemampuan bertahan mereka.

Di saat yang sama, pemberitaan Metro TV News (awal April 2026) menunjukkan bahwa Hamas justru mendesak dunia internasional untuk bertindak atas pelanggaran gencatan senjata oleh Israel. Artinya, kesepakatan damai yang ada belum benar-benar dihormati.

Lebih jauh, laporan Detik.com (April 2026) mencatat serangan rudal Israel di dekat fasilitas sipil yang menewaskan warga. Fakta ini menegaskan bahwa kekerasan masih berlangsung, bahkan ketika wacana perdamaian sedang dibicarakan.

Dalam situasi seperti ini, desakan pelucutan senjata terhadap pihak yang berada dalam posisi bertahan menghadirkan kontradiksi yang tidak sederhana.

Ketika Perdamaian Tidak Sepenuhnya Netral

Jika ditelaah lebih dalam, wacana demiliterisasi tidak bisa dilepaskan dari konteks ketimpangan kekuatan global. Dalam sistem internasional saat ini, posisi negara-negara besar sangat menentukan arah kebijakan. Dalam banyak kasus, konsep “perdamaian” tidak selalu identik dengan keadilan, tetapi lebih dekat pada stabilitas yang dapat diterima oleh pihak-pihak yang dominan.

Dalam kerangka ini, pelucutan senjata berpotensi menciptakan ketidakseimbangan baru. Ketika satu pihak tetap memiliki kekuatan militer penuh, sementara pihak lain diminta untuk melepas alat pertahanannya, maka yang terjadi bukanlah penyelesaian konflik, melainkan penguatan posisi yang sudah dominan sejak awal.

Selain itu, narasi global juga memainkan peran penting. Perlawanan sering kali dibingkai sebagai ancaman, sementara tindakan agresif diposisikan sebagai respons yang dapat dibenarkan. Pergeseran narasi ini perlahan membentuk persepsi publik internasional, sehingga tekanan yang muncul menjadi tidak seimbang.

Ketimpangan Narasi, Kepentingan Global, dan Melemahnya Daya Tawar

Wacana demiliterisasi Gaza pada akhirnya perlu dibaca sebagai bagian dari dinamika yang lebih luas: interaksi antara kepentingan global, konstruksi narasi, dan ketimpangan kekuatan. Dalam banyak konflik, stabilitas sering dijadikan tujuan utama, meskipun dicapai dengan mengorbankan keadilan.

Ketika pelucutan senjata didorong tanpa jaminan perlindungan yang setara, maka kapasitas bertahan pihak yang tertekan akan melemah. Dalam jangka panjang, kondisi ini tidak menghilangkan konflik, tetapi justru membekukannya dalam posisi yang timpang.

Di sisi lain, lemahnya daya tawar dunia Islam turut memperparah keadaan. Fragmentasi politik, ketergantungan ekonomi, serta minimnya koordinasi strategis membuat respons terhadap isu Palestina tidak memiliki kekuatan tekanan yang cukup di tingkat global.

Akibatnya, berbagai inisiatif yang muncul sering kali lebih mencerminkan kepentingan pihak dominan dibanding kebutuhan keadilan yang sesungguhnya. Dalam situasi seperti ini, wacana demiliterisasi berisiko menjadi bagian dari mekanisme yang mempertahankan status quo, bukan mengubahnya.

Di titik inilah persoalan menjadi semakin jelas: ketika ketimpangan dibiarkan dan dibungkus dengan narasi perdamaian, maka yang lahir bukanlah keadilan, melainkan stabilitas semu yang menyimpan potensi konflik baru di masa depan.

Perspektif Islam dalam Mewujudkan Keadilan dan Perlindungan

Dalam perspektif Islam, persoalan ini tidak hanya dipandang sebagai konflik politik, tetapi juga sebagai persoalan keadilan dan tanggung jawab kolektif umat.

Islam menempatkan kepemimpinan sebagai raa’in (pengurus) dan junnah (pelindung), yang bertanggung jawab menjaga keamanan dan melindungi rakyat dari ancaman. Dalam kerangka ini, perlindungan terhadap wilayah dan masyarakat bukan sekadar pilihan, tetapi kewajiban.

Sejarah Islam menunjukkan bahwa keberadaan kepemimpinan yang kuat memungkinkan adanya respons yang terkoordinasi terhadap ancaman eksternal. Kekuatan militer tidak digunakan untuk menciptakan dominasi, tetapi untuk menjaga keamanan dan menghilangkan kezaliman.

Selain itu, Islam juga menekankan pentingnya persatuan umat. Dengan potensi sumber daya yang besar, dunia Islam memiliki kapasitas untuk menjadi kekuatan yang mandiri jika dikelola secara kolektif. Dalam kondisi tersebut, posisi tawar di tingkat global akan meningkat, sehingga keadilan tidak hanya menjadi wacana, tetapi dapat diperjuangkan secara nyata.

Pendekatan ini berbeda dengan sistem global saat ini yang cenderung terfragmentasi. Dalam kerangka Islam, penyelesaian konflik tidak hanya melalui negosiasi, tetapi juga melalui upaya nyata untuk menghapus ketidakadilan dari akarnya.

Mencari Perdamaian yang Berkeadilan

Wacana demiliterisasi Gaza tidak bisa dilihat secara sederhana sebagai solusi damai. Ia harus dibaca dalam konteks yang lebih luas, tentang ketimpangan kekuatan, konstruksi narasi global, dan absennya keadilan yang sejati.

Selama akar persoalan tidak diselesaikan, berbagai upaya perdamaian berpotensi hanya menjadi jeda sementara, bukan solusi permanen.

Karena pada akhirnya, perdamaian yang sejati tidak lahir dari pelemahan salah satu pihak, tetapi dari tegaknya keadilan yang melindungi semua.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image