Semua Tentang Dirinya: Ketika NPD Menjadi Gangguan
Edukasi | 2026-04-16 19:14:22
Pernahkah kamu bertemu seseorang yang selalu ingin jadi pusat perhatian, merasa paling benar, dan sulit menerima kritik sekecil apa pun?
Di era media sosial seperti sekarang, istilah “narsis” sering digunakan untuk menggambarkan seseorang yang percaya diri atau suka tampil. Namun dalam dunia psikologi, ada kondisi yang jauh lebih kompleks dari sekadar narsis biasa, yaitu Narcissistic Personality Disorder (NPD). Ini bukan hanya soal kepribadian, tetapi sebuah gangguan yang dapat memengaruhi cara seseorang berpikir, merasa, dan berhubungan dengan orang lain. Mungkin tanpa sadar, kita pernah menemui orang seperti ini dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam kajian Psikologi Klinis, rasa percaya diri yang sehat sebenarnya penting untuk kesejahteraan mental. Namun pada NPD, individu memiliki kebutuhan berlebihan untuk dikagumi, merasa diri paling penting, serta sering kali kesulitan menunjukkan empati terhadap orang lain. Menariknya, di balik sikap yang tampak percaya diri tersebut, sering tersembunyi kerentanan psikologis yang cukup dalam.
Konsep narsisme sendiri sudah lama dibahas oleh tokoh seperti Sigmund Freud, yang melihatnya sebagai bagian dari perkembangan manusia. Namun, pemahaman modern berkembang lebih jauh. Tokoh seperti Heinz Kohut menjelaskan bahwa individu dengan kecenderungan narsistik ekstrem sering kali memiliki kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi sejak masa awal kehidupan, sehingga mereka terus mencari validasi dari lingkungan. Sementara itu, Otto Kernberg menekankan adanya pola hubungan yang tidak sehat dan kesulitan dalam membangun kedekatan emosional yang autentik.
NPD tidak muncul begitu saja. Banyak faktor yang dapat berperan, mulai dari pola asuh yang tidak seimbang, baik terlalu memanjakan maupun kurang memberikan dukungan emosional, hingga pengalaman trauma dan faktor biologis. Semua ini berkontribusi dalam membentuk cara seseorang memandang dirinya dan orang lain.
Dalam kehidupan sehari-hari, individu dengan NPD sering mengalami kesulitan dalam hubungan sosial. Mereka bisa terlihat dominan, manipulatif, atau terlalu fokus pada diri sendiri, sehingga hubungan yang terjalin cenderung tidak seimbang. Orang di sekitarnya pun kerap merasa lelah secara emosional karena kebutuhan dan perasaan mereka kurang dihargai.
Meski tergolong sebagai gangguan kepribadian yang cukup kompleks, bukan berarti NPD tidak bisa ditangani. Pendekatan seperti psikoterapi dapat membantu individu mengenali pola perilaku mereka dan perlahan membangun kesadaran diri serta empati terhadap orang lain. Proses ini tentu tidak instan, tetapi tetap memungkinkan.
Pada akhirnya, penting bagi kita untuk tidak sembarangan melabeli seseorang sebagai “NPD” hanya karena terlihat narsis. Ada perbedaan besar antara sifat dan gangguan. Memahami hal ini bukan hanya membantu kita melihat orang lain dengan lebih objektif, tetapi juga menjadi pengingat bahwa kepercayaan diri itu sehat selama tidak membuat dunia hanya berputar di sekitar diri sendiri.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
