Gaya Hidup dan Pola Makan: Faktor Penting dalam Pencegahan Hipertensi
Eduaksi | 2026-02-25 11:06:17
Oleh: Aula Nazilah Mujahid_Mahasiswa Institut SEBI
Hipertensi merupakan penyakit yang sering ditemukan di masyarakat dan berisiko tinggi menimbulkan komplikasi serius bagi penderitanya. Hipertensi, atau tekanan darah tinggi, adalah kondisi ketika tekanan darah melebihi batas normal, yaitu sistolik ≥ 140 mmHg dan diastolik ≥ 90 mmHg, berdasarkan dua kali pengukuran dengan selang waktu sekitar dua menit.
Tekanan darah sistolik adalah tekanan saat jantung berkontraksi dan memanaskan darah ke seluruh tubuh, sedangkan tekanan darah diastolik adalah tekanan saat jantung relaksasi dan terisi kembali oleh darah.
Seiring bertambahnya usia, elastisitas pembuluh darah dapat menurun sehingga tekanan darah cenderung meningkat hingga dekade ketujuh kehidupan. Sementara itu, tekanan diastolik biasanya meningkat hingga dekade kelima atau keenam, kemudian dapat menetap atau menurun. Hipertensi merupakan salah satu faktor risiko utama penyakit jantung dan pembuluh darah.
Seringkali hipertensi tidak menunjukkan gejala, sehingga banyak penderita tidak menyadari sampai terjadi gangguan pada organ vital seperti jantung, otak, dan ginjal.
Hipertensi sering disebut sebagai silent killer karena tidak menimbulkan gejala yang jelas, sehingga penderita tidak menyadari kondisinya hingga terjadi komplikasi. Penyakit ini dapat menyerang siapa saja tanpa memandang usia, status sosial, maupun ekonomi.
Salah satu faktor utama penyebab hipertensi adalah gaya hidup dan pola makan. Perkembangan globalisasi membawa perubahan signifikan dalam gaya hidup, pola makan, dan aktivitas fisik masyarakat. Perubahan ini berkontribusi pada meningkatnya penyakit tidak menular, termasuk hipertensi.
1. Kebiasaan
Merokok merupakan faktor risiko penting penyebab hipertensi. Rokok mengandung nikotin dan karbon monoksida yang masuk ke aliran darah saat dihisap. Zat-zat tersebut dapat merusak pembuluh darah dan menyebabkan aterosklerosis (penyempitan pembuluh darah), sehingga tekanan darah meningkat.
Karbon monoksida juga mengurangi kemampuan darah mengikat oksigen. Akibatnya, jantung harus bekerja lebih keras untuk memenuhi kebutuhan oksigen tubuh, yang pada akhirnya meningkatkan tekanan darah.
2. Pola Makan dan Berat Badan
Hipertensi merupakan penyakit kronis yang tidak menular, tetapi dapat dicegah melalui pengaturan pola makan dan gaya hidup sehat. Upaya pencegahan meliputi:
- mempertahankan berat badan ideal,
- mengurangi konsumsi garam dan lemak berlebih,
- memperbanyak konsumsi buah, sayuran, dan biji-bijian,
- mengonsumsi makanan tinggi kalsium, magnesium, dan kalium,
- tekanan asupan kalori,
- rutin melakukan aktivitas fisik,
- Mengelola stres dengan baik.
Diet hipertensi tekanan pengurangan natrium serta pemberian lemak, sekaligus meningkatkan konsumsi makanan bergizi seimbang.
3. Penggunaan Penyedap dan Kebiasaan Menghangatkan Makanan
Penggunaan bumbu penyedap secara berlebihan dapat berdampak kurang baik bagi kesehatan karena kandungan natrium dan bahan kimia tertentu. Selain itu, makanan yang terlalu sering dihangatkan dapat meningkatkan kadar Kolesterol Low Density Lipoprotein (LDL) dalam darah. Kadar LDL yang tinggi dapat membentuk plak pada pembuluh darah, menyebabkan penyumbatan dan penghambatan aliran darah.
Hipertensi merupakan penyakit kardiovaskular kronis yang tidak dapat disembuhkan, namun dapat dicegah dan dikendalikan. Pencegahan dapat dilakukan melalui perbaikan gaya hidup dan pola makan, seperti mengonsumsi makanan rendah garam dan lemak, tidak merokok, serta melakukan aktivitas fisik yang sesuai dengan kondisi tubuh.
Kesadaran masyarakat untuk menerapkan pola hidup sehat menjadi kunci utama dalam menurunkan risiko hipertensi dan meningkatkan kualitas hidup. Pencegahan sejak dini lebih baik daripada mengobati komplikasi yang ditimbulkan di kemudian hari.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
