Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Muliadi Saleh

Kesadaran Magis dan Kesadaran Kritis

Lentera | 2026-02-21 06:36:54

Oleh: Muliadi Saleh – Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran

Dalam perjalanan batin manusia, tidak semua kesadaran lahir dalam bentuk yang sama. Ada yang menyebutnya kesadaran magis, ada pula yang menyebutnya kesadaran naif, dan pada puncaknya kesadaran kritis. Istilah ini banyak diperkenalkan oleh pendidik Brasil, Paulo Freire, ketika ia berbicara tentang pembebasan manusia melalui pendidikan.

Kesadaran magis adalah tahap ketika seseorang melihat realitas secara sederhana dan fatalistik. Apa pun yang terjadi dianggap sebagai takdir yang tidak bisa disentuh. Kemiskinan, ketidakadilan, kekerasan—semuanya diterima sebagai sesuatu yang “sudah dari sananya”. Pada tahap ini, manusia cenderung pasif. Ia tidak melihat hubungan sebab-akibat secara utuh. Dunia terasa seperti panggung misterius yang bergerak tanpa bisa dipahami.

Kesadaran magis bukan berarti irasional sepenuhnya, tetapi ia belum terlatih untuk membaca struktur realitas. Ia lebih banyak bersandar pada mitos, kebiasaan, atau narasi yang diwariskan tanpa diuji. Dalam konteks spiritual, kesadaran seperti ini bisa membuat agama dipahami secara dangkal—sekadar ritual tanpa refleksi, kepatuhan tanpa penghayatan.

Di atasnya ada kesadaran naif. Pada tahap ini, seseorang mulai melihat masalah, tetapi masih menyederhanakannya. Ia menyalahkan individu tanpa membaca sistem. Ia marah pada gejala tanpa memahami akar. Kesadaran ini sudah bergerak, tetapi belum mendalam.

Lalu lahirlah kesadaran kritis. Inilah tahap ketika manusia mampu membaca realitas secara reflektif dan struktural. Ia memahami bahwa peristiwa tidak berdiri sendiri. Ia melihat pola, relasi kuasa, konteks sejarah, dan dimensi batin yang memengaruhi tindakan manusia. Kesadaran kritis tidak berhenti pada keluhan, tetapi bergerak menuju transformasi.

Namun dalam perspektif arsitektur kesadaran, perjalanan tidak berhenti di sana. Kesadaran kritis perlu dipadukan dengan kesadaran etis dan spiritual. Tanpa etika, kritik berubah menjadi sinisme. Tanpa spiritualitas, analisis menjadi kering dan kehilangan empati.

Dalam tradisi tasawuf, Abu Hamid al-Ghazali mengingatkan bahwa ilmu tanpa penyucian jiwa dapat melahirkan kesombongan baru. Maka kesadaran tertinggi bukan hanya kritis terhadap dunia, tetapi juga jernih terhadap diri sendiri.

Menjadi arsitek kesadaran berarti membantu diri kita bergerak dari magis menuju kritis, dari pasif menuju reflektif, dari reaktif menuju transformatif. Kita belajar bertanya: Mengapa ini terjadi? Siapa yang diuntungkan? Apa peran saya di dalamnya? Dan lebih dalam lagi: Apa pelajaran batin yang harus saya ambil?

Kesadaran magis membuat manusia tunduk tanpa berpikir. Kesadaran kritis membuat manusia berpikir untuk membebaskan. Dan kesadaran yang matang membuat manusia berpikir sekaligus mencintai—mengubah tanpa membenci, memperbaiki tanpa merendahkan.

Pada akhirnya, kesadaran bukan hanya tentang cara kita melihat dunia, tetapi tentang cara kita hadir di dalamnya. Dunia mungkin tidak selalu bisa kita ubah seketika. Tetapi cara kita menyadarinya—itulah awal dari segala perubahan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image